radartimur.id

Dari Informasi ke Transformasi

Selasa, 17 Februari 2026

Demi Pala, Pulau di Banda Ini Pernah Ditukar dengan New York

RadarTimur.id – Pulau Run, salah satu pulau terkecil di Kepulauan Banda, Maluku, menyimpan kisah luar biasa yang nyaris terlupakan. Di balik ukuran kecilnya, pulau ini pernah menjadi pusat perhatian dunia pada abad ke-17, hingga membuat dua kekuatan kolonial terbesar saat itu, Inggris dan Belanda berperang selama setengah abad hanya untuk memperebutkannya. Pertempuran itu bahkan berujung pada perjanjian yang menukar Pulau Run dengan Pulau Manhattan yang saat ini telah berganti nama New York.

Pulau Run seluas hanya sekitar 3 km², berada di gugusan pulau vulkanik Kepulauan Banda, Maluku Tengah. Meski mungil, pulau ini menyimpan kekayaan luar biasa berupa Myristica fragrans pohon penghasil pala yang pada masa itu nilainya lebih tinggi dari emas di pasar Eropa.

Menurut catatan National Geographic Indonesia, sejak abad ke-16 hingga 17, pala menjadi komoditas utama yang diperebutkan kekuatan global karena manfaatnya yang luar biasa. Di Eropa, pala diyakini memiliki kemampuan menyembuhkan berbagai penyakit, termasuk wabah pes, serta dipercaya meningkatkan vitalitas seksual. Nilainya yang tinggi membuatnya menjadi simbol status di kalangan bangsawan dan raja-raja Eropa.

VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie), kongsi dagang Belanda, mendarat di Kepulauan Banda pada awal 1600-an. Mereka mengincar monopoli pala dan mengambil alih pulau-pulau Banda dengan cara brutal, termasuk genosida terhadap penduduk lokal pada 1621.

Namun, VOC tak mampu langsung merebut Pulau Run. Tahun 1616, Inggris yang lebih dahulu menguasai Run menjadikannya sebagai koloni pertama Kekaisaran Inggris di Asia. Ini menimbulkan ketegangan besar. VOC menganggap keberadaan Inggris mengancam monopoli mereka.

Perang pun pecah. Selama hampir 50 tahun, Inggris dan Belanda bertempur untuk menguasai Pulau Run, termasuk melalui blokade, serangan laut, dan benteng-benteng pertahanan. Di tengah konflik, Inggris menjadikan Run sebagai pangkalan rempah, sedangkan Belanda menguasai sebagian besar Banda lainnya.

Persaingan panjang ini akhirnya berakhir dengan penandatanganan Perjanjian Breda (Treaty of Breda) pada 31 Juli 1667. Dalam perjanjian itu, Inggris sepakat menyerahkan Pulau Run kepada Belanda. Sebagai gantinya, Belanda menyerahkan koloni Nieuw Amsterdam di benua Amerika kepada Inggris. Koloni ini kemudian berganti nama menjadi New York, dengan Manhattan sebagai pusatnya.

Dengan pertukaran tersebut, Pulau Run secara resmi masuk dalam jajahan Belanda. VOC diberi octrooi atau hak eksklusif untuk mengelola perdagangan pala di pulau tersebut. Sementara itu, Inggris mulai membangun kekuatannya di benua Amerika yang kelak menjadi salah satu pusat peradaban dunia.

Pada masa kejayaannya, Pulau Run adalah tambang emas bagi Belanda. VOC mengangkut pala dalam jumlah besar ke Eropa dan menjadikannya komoditas utama ekspor. Namun, kemakmuran ini tak bertahan lama. Pada abad ke-18 dan 19, rempah mulai dibudidayakan di berbagai tempat lain oleh Inggris dan bangsa Eropa lainnya.

Monopoli pala pun runtuh. Pulau Run kehilangan pamornya sebagai poros perdagangan dunia. Kini, pulau ini hanyalah pulau kecil yang tenang dengan penduduk sekitar 2.000 jiwa, hidup dari perikanan dan perkebunan, jauh dari hiruk pikuk sejarah yang pernah menjadikannya setara dengan Manhattan.

Fakta Sejarah Singkat:

Luas Pulau Run: ±3 km²

Dikuasai Inggris: 1616

Ditukar melalui Treaty of Breda: 31 Juli 1667

Pulau pengganti: Nieuw Amsterdam (Manhattan, kini New York)

Komoditas utama: Pala (Myristica fragrans)

Penduduk saat ini: Sekitar 2.000 jiwa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini