radartimur.id

Dari Informasi ke Transformasi

Selasa, 17 Februari 2026

Jangan ; Sastra Lisan Suku Makian Nayaris Hilang Di Telingah Generasi Z.

Oleh : Abd, Assagaf Joernalist

Suku Makian adalah salah satu etnis yang memiliki bahasa dan tradisi lisan yang kaya. Tradisi semacam ini mengajarkan pentingnya menjaga kata-kata agar tidak menyakiti atau menyinggung orang lain.

Tradisi “jangan” asal makian merupakan sebuah pengingat untuk selalu menjaga lisan agar selaras dengan nilai-nilai kebudayaan, kesopanan, dan tradisi yang berlaku di masyarakat, khususnya masyarakat seperti Suku Makian di Maluku Utara.

Maluku Utara banyak sekali menyimpan seni sastra lisan yang hampir serupa dengan seni sastra lisan daerah-daerah lain di Indonesia. Seiring dengan perkembangan zaman, sastra lisan yang ada di Maluku Utara kini hilang di telingah generasi muda.

Sastra lisan jangan tidak asing di telinga masyarakat Maluku Utara, dola bololo merupakan salah satu sastra lisan yang kini sering kita dengar. Selain dola bololo, Ternate sendiri juga ada seni sastra lisan lainya seperti Dalil Moro, Dalil Tifa, dan beberapa sastra lisan lainya.

Tidak kalah dengan Ternate, Suku Makian yang mayoritasnya di Kabupaten Halmahera Selatan juga menyimpan salah satu seni sastra lisan yang mengandung sarat akan maknaya. Selain sastra lisa togal, terdengar kuno di telingan generasi muda suku makian masih menyimpan ‘jangan’ sebagai sastra lisan yang jarang terdengar dimasa kini.

‘jangan’ merupakan sastra lisan khas orang makian yang kini nyaris hilang di telinga masyarakat. Bahkan sastara lisan ‘jangan’ itu terdengar asing di telinga anak muda Gen Z.

Hal ini merupakan sastra lisan asal makian, sastra lisan ini biasanya di peragakan oleh para pujangga cinta dizamannya, dengan bermuatan pantun dan sajak khusus yang menggambarkan perasaan rasa cinta seorang pria terhadap seorang wanita, begitupun sebaliknya.

Berdasarkan sumber yang penulis temui, sastra lisan jangan merukapan sajak yang memiliki syarat akan maksa filosofi,konon katanya disebut magic dan mistik.

“jangan ini adalah sebuah sastra lisan yang sarat akan makna hubungan sebuah rumah tangga, jangan juga memiliki muatan mistis tergantung pantun dan sajak yang di bawakan dalam Bajangan tersebut”.

Selain itu, ‘jangan’merupakan Satra lisan yang bermuatan pantun cinta, ‘jangan’ juga bisa di isi dengan pesan khusus yang seperti ada pada dola bololo orang ternate.

sastra lisan ‘jangan’ ini sulit untuk diminati oleh Gen z, Hal ini merupakan pengaruh berkembanganya teknologi yang mengubah polo pikir Gen Z hari ini.

Penulis Berharap, Sastra lisan ini juga merupakan sebuah sastra lisan yang berisi pantun dan sajak berirama, yang dapat dimainkan dengan tifa, ataupun gambus. Bahkan terkadang jangan di peragakan oleh pasangan Mon( Laki-Laki ) Dan, Mapin( Perempuan ) yang masing-masing ditemani oleh guru atau orang yang mengajarkan pantun dan sajak dipelengkap ‘jangan’ tersebut.

Kepada para pecinta budaya,Untuk mengaja sastra lisan ini sebagai identitas suku makian maka di haruskan untuk melestrasin tradisi kebudayaan yang sarat akan nilai harus di tampilkan lewat kegiatan besar untuk menghidupkan kembali.

Hingga kini penulis, belum berhasil mendapatkan definisi terperinci sasatra Lisan “ Jangan”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini