radartimur.id

Dari Informasi ke Transformasi

Selasa, 17 Februari 2026

Sampah dan Banjir di Bawah Gamalama

Oleh: Salwa Rahmania Putri

Pemerhati Lingkungan

Banjir di Kota Ternate kini bukan lagi kejutan. Hujan deras beberapa jam saja sudah cukup menenggelamkan jalan, rumah, dan selokan. Di bawah kaki Gunung Gamalama, kota yang semestinya elok itu kini hidup di bawah bayang-bayang genangan. Setiap musim hujan, air datang membawa lumpur, batu, dan tak kalah banyak sampah plastik yang kita buang sembarangan. Masalahnya bukan pada hujan. Masalahnya pada kita.

Menurut data GoodStats (Maret 2025), Indonesia memproduksi 43,2 juta ton sampah pada 2023 dengan sampah plastik mencapai 19,64 persen. Angka itu diprediksi melonjak menjadi 82 juta ton pada 2045 jika tidak ada perubahan kebijakan dan perilaku.

Kota Ternate menyumbang gambaran kecil dari persoalan besar itu. Dinas Lingkungan Hidup Kota Ternate mencatat, produksi sampah di Ternate rata-rata mencapai 100–120 ton per hari dan melonjak hingga 200 ton per hari saat Ramadan.

Namun, kapasitas angkut sampah belum berbading lurus dengan sarana yang ada. Buktinya setiap hari masih terlihat ada sampah di mana-mana. Sampah yang tertinggal itu menumpuk di pinggir jalan, menyumbat selokan, atau hanyut ke laut. Saat hujan datang, plastik-plastik itu menutup aliran air, memaksa banjir masuk ke pemukiman.

Ketika Sampah Menjadi Bencana

Pada 25 Agustus 2024, banjir bandang melanda Kelurahan Rua dan Kastela. Hujan deras selama beberapa jam memicu longsoran dari lereng gunung dan aliran air bah yang membawa sampah, batu, dan lumpur. Belasan orang meninggal dunia dan terluka, dan kurang labih 250 warga mengungsi ke SMKN 4 Kastela.

BNPB mencatat, penyumbatan drainase akibat sampah menjadi salah satu faktor utama yang memperparah bencana. Sesuai data dari media massa, warga marah dan memblokir jalan, menuntut pemerintah segera menurunkan alat berat untuk membersihkan material banjir susulan pada Minggu (30/3/2025).

Pemerintah Kota Ternate memang selalu melakukan pembenahan drainase dan pemenuhan sarana angkut sampah. Namun, kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan juga penting untuk diwujudkan. Drainase baru, tetapi kebiasaan lama tetap hidup pun percuma.

Krisis ini menjadi kegagalan sistemik. Pemerintah masih terjebak pada paradigma lama, kumpul, angkut dan buang. Tidak ada sistem pemilahan dari rumah tangga, tidak ada fasilitas daur ulang modern dan tidak ada insentif bagi warga untuk mengurangi limbah.

Perilaku masyarakat tak banyak berubah. Plastik sekali pakai masih menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Banyak yang menganggap sampah sebagai urusan petugas kebersihan, bukan tanggung jawab pribadi. Di tepi pantai dan sungai, plastik kresek berserakan, menjadi saksi betapa rendahnya kesadaran kolektif kita terhadap lingkungan.

Padahal, masalah ini bukan hanya soal estetika kota, tetapi soal keselamatan. Setiap sampah yang kita buang sembarangan berpotensi menjadi penyebab banjir berikutnya.

Solusi yang Terlambat Tapi Masih Mungkin

Harapan belum mati. Masih ada waktu bagi Ternate untuk berbenah, asal ada kemauan politik yang kuat dan kesadaran warga yang tumbuh.

Pertama, pemerintah harus membangun sistem pengelolaan sampah terintegrasi, mulai dari pemilahan di rumah tangga hingga daur ulang. Pemkot bisa memberlakukan insentif dan sanksi. Bagi rumah tangga yang tidak memilah dikenai denda ringan, sedangkan yang patuh diberi potongan retribusi.

Kedua, pendidikan lingkungan harus menjadi bagian dari budaya masyarakat. Sekolah, kampus, hingga komunitas lokal harus dilibatkan. Kesadaran ekologis tidak tumbuh dari seruan, tapi dari kebiasaan yang dibangun sejak dini.

Ketiga, inovasi lokal perlu didorong. Komunitas muda bisa mengembangkan bank sampah digital, ecobrick, atau kompos rumah tangga. Di banyak kota lain, gerakan kecil seperti ini sudah terbukti mampu mengurangi sampah hingga 30 persen.

Keempat, pemerintah pusat harus turun tangan memperkuat kapasitas daerah, terutama lewat teknologi dan pendanaan yang berorientasi pada pengelolaan berkelanjutan, bukan sekadar proyek sementara.

Sampah Adalah Cermin

Sampah sejatinya adalah cermin kebudayaan. Cara sebuah kota memperlakukan sampah menunjukkan tingkat peradaban masyarakatnya.

Jika Ternate terus menumpuk sampah di pinggir laut, membiarkan drainase tersumbat dan menunggu petugas membersihkan jejak ketidakpedulian kita, maka jangan heran bila banjir datang lagi. Dan ketika itu terjadi, hujan bukanlah musuhnya, kitalah yang lalai menjaga keseimbangan alam.

Setiap plastik yang kita buang sembarangan adalah surat undangan bagi bencana. Dan setiap tindakan kecil untuk memilah, mengurangi dan mendaur ulang adalah langkah besar menuju keselamatan.

Ternate harus belajar dari air yang meluap, itu tandanya alam sedang berbicara keras. Jika kita tak mendengar, suatu hari nanti bukan hanya jalan yang tergenang, tapi juga masa depan yang tenggelam.

“Bumi tidak marah, namun hanya sedang mengembalikan apa yang kita lakukan padanya.”