Dari Morotai untuk Sumatera – Ketika Empati Menyatukan Bangsa
Oleh
Muhammad Rizal
Musibah banjir yang melanda Sumatera bukan sekadar peristiwa jauh di belahan lain negeri. Duka itu menembus batas wilayah, meresap hingga ke hati masyarakat Pulau Morotai. Mereka tidak melihat jarak yang dilihat adalah sesama saudara setanah air yang sedang berjuang melewati cobaan berat.
Tragedi tersebut mengingatkan kita bahwa menjadi Indonesia bukan hanya soal berbagi tanah air yang sama, tetapi juga berbagi derita saat bencana datang. Dalam momen seperti inilah nilai kemanusiaan diuji, apakah kita memilih diam, atau memastikan langkah kecil kita memberi arti besar bagi mereka yang tengah kehilangan hampir segalanya.

Sebagai bentuk empati nyata, RadarTimur.id bersama DPD Partai Amanat Nasional (PAN) Pulau Morotai, Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) Haji Ahmad Syukur Kecamatan Morotai Selatan serta DPD KNPI Morotai pada 9 Desember 2025, turun langsung melakukan aksi penggalangan dana. Kehadiran berbagai pihak ini menunjukkan bahwa kepedulian tidak pernah berdiri di atas kepentingan satu kelompok. Aksi ini bukan seremonial yang lahir dari tuntutan keadaan, melainkan panggilan hati, panggilan nurani yang menegaskan bahwa di atas segala perbedaan, kita tetap satu dalam urusan kemanusiaan.
Dana yang berhasil dikumpulkan akan segera dikirimkan untuk membantu para korban banjir di Sumatera. Untuk mereka yang kehilangan rumah, harta benda, pekerjaan, bahkan sebagian kehilangan orang-orang terkasih. Di tengah kepiluan itu, bantuan dari Morotai bukan hanya materi, tetapi sebuah pesan kuat bahwa kalian tidak sendiri, ada saudara jauh yang turut menopang kalian dengan segenap ketulusan.
Partisipasi masyarakat dalam aksi kemanusiaan ini kembali memperlihatkan bahwa semangat gotong royong tidak pernah pudar dalam diri bangsa ini. Setiap rupiah yang diberikan, setiap tangan yang terulur, adalah wujud nilai luhur yang diwariskan oleh para pendahulu kita bahwa membantu sesama adalah kehormatan, bukan sekadar kewajiban. Bukan soal besar atau kecilnya bantuan, tetapi ketulusan yang menggerakkan dan doa yang menyertai setiap pemberiannya.
Di tengah banyaknya hiruk-pikuk politik hari ini, kita kembali diingatkan pada pesan almarhum Presiden RI ke-4, KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) “Yang lebih penting dari politik adalah kemanusiaan.” Kalimat sederhana ini menjadi prinsip moral yang relevan sepanjang zaman. Kalimat ini mengajarkan bahwa ketika nyawa manusia terancam, ketika bencana merenggut hak-hak dasar warga, maka segala kepentingan politik harus dikesampingkan. Morotai hari ini telah membuktikan betapa pesan Gus Dur itu bukan sekadar kutipan, tetapi napas yang hidup dalam tindakan.
Dalam situasi seperti ini, kita diajak menyadari bahwa kemanusiaan selalu lebih tinggi dari identitas apa pun politik, organisasi, bahkan batas-batas wilayah. Ketika satu daerah berduka, yang lain ikut merasakan. Ketika satu bagian negeri terluka, seluruh tubuh bangsa menanggapi dan ikut memperkuat yang lemah.
Aksi ini telah menunjukkan bahwa solidaritas tidak membutuhkan komando besar atau panggung kehormatan tapi hanya memerlukan hati yang peka, kesediaan untuk berbagi, dan tekad untuk tidak membiarkan saudara sebangsa menghadapi duka sendirian.
Pada akhirnya, bangsa ini tidak akan diukur dari kekayaan SDA atau tingginya bangunan megah, melainkan dari kokohnya rasa kemanusiaan di dada rakyatnya.
Semoga langkah kecil ini menjadi inspirasi bagi lebih banyak pihak lainnya untuk terus menyalakan api kepedulian yang kini mulai redup di tengah kehidupan modern yang serba berjarak.
Semoga bantuan kecil dari Morotai ini menjadi berkah bagi mereka yang membutuhkan, dan menjadi pengingat bagi kita semua bahwa di dunia yang penuh ketidakpastian, kebaikan adalah satu-satunya pegangan yang tak pernah mengecewakan. Karena pada akhirnya, kebaikan selalu menemukan jalannya.
