Perjalanan Panjang yang Tak Pernah Sampai – Guru SD Loloda Utara Wafat Saat Dirujuk Akibat Jalan Rusak
Di Loloda Utara, sakit bukan hanya soal melawan penyakit tetapi juga melawan jalanan. Dan pada Rabu sore, 10 Desember 2025, pertarungan panjang itu merenggut nyawa NP (48), seorang guru sekolah dasar yang telah puluhan tahun mengabdi di Desa Ngajam, Kecamatan Loloda Utara, Kabupaten Halmahera Utara, Provinsi Maluku Utara. Mendiang, wafat bukan di rumah sakit, melainkan di tepi sungai kecil tanpa jembatan, di tengah perjalanan rujukan menuju RSUD Tobelo.
Di wilayah seperti Loloda Utara, mobil hilux sering kali menjadi “ambulans darurat”. Pada hari itu sebuah Hilux dobel cabin warna putih yang disiapkan keluarga menjadi satu-satunya kendaraan yang mampu dipaksakan melewati rute ekstrim. Bukan karena pilihan, tetapi karena ambulans standar tak sanggup menaklukkan jalan berlubang, tanjakan licin, dan sungai-sungai tanpa jembatan yang memutus akses masyarakat. Pada hari itu, kendaraan inilah yang digunakan membawa MP keluar dari Puskesmas Dorume ketika kondisinya memburuk akibat diare berat yang menyebabkan dehidrasi dan anemia.

Rombongan berangkat sekitar pukul 10.00 WIT, tetapi sejak awal perjalanan sudah terhalang badai yang mengguyur Loloda Utara sejak malam sebelumnya. Beberapa sungai tanpa jembatan yang harus dilalui berubah menjadi aliran deras. Jalan sirtu berlubang dan licin, sebagian tertutup material longsor, tanjakan Gunung Ngidu, salah satu titik paling berat.
“Kami harus berhenti lama di setiap sungai. Air terlalu tinggi, mobil tidak bisa langsung menyeberang. Pasien semakin lemah,” ujar seorang tenaga kesehatan yang ikut mendampingi rujukan tersebut.
Selama perjalanan, keluarga, sopir, dan perawat bergantian berjuang dengan mendorong mobil yang tersangkut lumpur, menunggu air surut, bahkan nekat menyeberangi sungai yang arusnya belum sepenuhnya aman. Sementara itu, MP terus melemah. Perawat terus mempertahankan pelayanan kesehatan semampu mungkin di tengah medan ekstrem.
Waktu terus berjalan. Tujuh jam berlalu, tetapi RSUD Tobelo masih jauh. Pada pukul 17.00 WIT, ketika rombongan tiba di sungai keempat dekat Desa Gisi, air masih terlalu deras untuk diseberangi. Lumpur semakin pekat. Di titik itu, MP mengembuskan napas terakhir.
Guru yang dikenal bersahaja itu meninggal bukan di IGD, bukan di tangan dokter spesialis, tetapi di tepi sungai di ruas jalan kabupaten yang menjadi akses satu-satunya warga Loloda Utara. Kabar duka ini bukan yang pertama. Dalam tiga tahun terakhir, setidaknya tiga warga asal Ngajam meninggal dalam perjalanan rujukan.
“Dari kampung kami saja sudah tiga orang. Bahkan sopir lintas bilang pernah dua kali bawa pasien yang meninggal sebelum sampai rumah sakit,” ujar Asterlita T. Raha, keponakan mendiang.
Warga menyebut masalah ini sebagai tragedi berulang yang tak kunjung mendapatkan penyelesaian. Ruas Trans Loloda–Galela pernah menjadi bagian proyek multiyears Pemerintah Kabupaten Halmahera Utara pada 2017.
Namun pekerjaan tidak tuntas dengan spesifikasi hotmix. Jembatan pun demikian tidak dibangun di sungai-sungai dengan bentangan panjang. Karena tidak dikerjakan, titik-titik yang masih dalam kondisi sirtu mengalami kerusakan parah dan menjadi salah satu akses paling kritis bagi pasien rujukan dari Loloda Utara. Setiap musim hujan, jalan itu berubah menjadi kubangan panjang yang memutus harapan hidup banyak orang.
“Kalau sakit parah, keluarga hanya bisa pasrah. Belum tentu bisa sampai rumah sakit,” kata seorang warga yang ditemui di Dorume seraya mengatakan, perasaan takut kehilangan nyawa di jalan telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di wilayah ini.
Keluarga menerima dengan ikhlas kepergian orang yang mereka cintai, tetapi menuntut negara untuk hadir menyelesaikan akar persoalan. “Kami berterima kasih kepada para perawat Dorume yang sudah bersama sampai akhir. Tapi jalan ini harus dibangun. Jangan ada lagi korban,” tegas salah satu keluarga mendiang.(red)
