radartimur.id

Dari Informasi ke Transformasi

Rabu, 18 Februari 2026

Prof. Gufran–Darsis Huma Tekankan Fondasi Riset dan Kepaduan Bahasa KTI Al-Qur’an

RadarTimur.id, Ternate — Hari kedua Pelatihan Karya Tulis Ilmiah (KTI) Al-Qur’an yang digelar Pemerintah Kabupaten Halmahera Timur (Haltim) bekerja sama dengan Yayasan Pendidikan Nahdiyatul Mulk Maluku Utara pada Selasa (16/12/2025), berlangsung dinamis dan sarat substansi.

Dua pemateri, Prof. Gufran A. Ibrahim dan Darsis Huma, tampil melengkapi dengan menekankan dua fondasi utama penulisan ilmiah berbasis Al-Qur’an yakni kekuatan riset dan kepaduan bahasa.

Pelatihan yang berlangsung selama tiga hari, 15–17 Desember 2025 di Muara Hotel Ternate ini menjadi ruang penguatan kapasitas akademik peserta, khususnya dalam membangun karya ilmiah yang tidak hanya benar secara metodologis, tetapi juga utuh dan runtut secara kebahasaan.

Dalam sesi pertama, Prof. Gufran A. Ibrahim menegaskan bahwa karya ilmiah harus dibangun di atas tiga prinsip akademik utama, yakni penggunaan bahasa yang ajek dan jelas, penulisan yang bertumpu pada bukti riset, serta ketepatan dan kesahihan proposisi ilmiah.

Guru Besar Antropolinguistik Universitas Khairun itu kemudian mengurai tujuh rahasia penting dalam menulis karya ilmiah. Rahasia tersebut meliputi kebiasaan membaca sebelum menulis, kemampuan memilah tingkat keutamaan bacaan, pemahaman struktur tulisan berbasis riset, hingga membaca secara kritis melalui penyusunan matriks perangkum bacaan.

Menurutnya, matriks ini membantu penulis menemukan celah penelitian sekaligus memosisikan riset baru di tengah kajian sebelumnya.

Selanjutnya, Prof. Gufran menekankan pentingnya eksplorasi teori dan penataan kerangka pikir berdasarkan hasil riset, sebelum akhirnya menulis latar belakang penelitian yang menjawab alasan, tujuan, metode, temuan, serta kontribusi riset.

“Semua orang bisa berbicara, tapi tidak semua orang bisa menulis. Menulis butuh konsistensi dan disiplin berpikir,” tegas Prof. Gufran.

Darsis Huma Saat Memaparkan Materinya

Materi kemudian dilanjutkan oleh Darsis Huma yang menguatkan aspek kebahasaan karya ilmiah. Dia menekankan bahwa pemahaman kohesi dan koherensi menjadi kunci dalam membangun paragraf dan wacana yang padu.

Kohesi, menurutnya, berkaitan dengan kesatuan bentuk bahasa, sementara koherensi menyangkut kepaduan makna dan hubungan logis antarkalimat.

Darsis menjelaskan, kemampuan mengembangkan kalimat topik menjadi paragraf yang utuh dan runtut merupakan indikator penting keterampilan menulis. Tanpa kohesi dan koherensi yang baik, sebuah tulisan berpotensi kehilangan arah, meskipun kaya data dan teori.

“Karya ilmiah bukan sekadar kumpulan kalimat, tetapi satu kesatuan gagasan yang tersusun rapi dan mudah dipahami,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Yayasan Nahdiyatul Mulk Maluku Utara, Salim Taib, menyampaikan bahwa kehadiran para pemateri berkompeten, termasuk Prof. Gufran A. Ibrahim dan Darsis Huma semakin memperkuat kemampuan peserta dalam menulis Karya Tulis Ilmiah Al-Qur’an secara akademik dan sistematis.

“Materi yang disampaikan sangat membantu peserta memahami teknik dan strategi menulis karya ilmiah yang bermutu,” ujar Salim.(ard)