Tim Gabungan Bersihkan Permukiman, Warga Doitia Desak Normalisasi Sungai Pasca Banjir
RadarTimur.id, Halut – Tim gabungan penanganan bencana banjir terus melakukan upaya pemulihan di Desa Doitia, Kecamatan Loloda Utara, Kabupaten Halmahera Utara (Halut).
Pada Minggu, 11 Januari 2026, tim fokus melakukan pembersihan permukiman warga terdampak sekaligus penataan aliran Sungai Doitia yang diduga menjadi penyebab utama banjir.
Tim gabungan terdiri dari unsur TNI/Polri, Tagana, Satpol PP, BPBD, PMI, Tim SAR, Tim Kesehatan, serta masyarakat setempat. Tim telah berada di lokasi sejak 10 Januari 2026 sebagai bagian dari respons cepat pemerintah daerah terhadap bencana.
Kepala BPBD Pemkab Halut, Hentje Hetharia, melaporkan bahwa kegiatan fisik yang dilakukan meliputi penurunan logistik dan peralatan tambahan, serta penambahan personel di lapangan.
“Setelah mengikuti ibadah di gereja, tim melakukan pembersihan drainase sepanjang kurang lebih 300 meter dan pembelokan aliran Sungai Doitia sepanjang 30 meter untuk mengoptimalkan aliran air,” ujar Hentje.
Namun demikian, pengerjaan tersebut masih dilakukan secara manual karena keterbatasan alat berat di lokasi bencana.
Selain kegiatan fisik, tim gabungan juga menyalurkan berbagai kebutuhan dasar kepada warga terdampak, di antaranya kasur, tikar, terpal, sembako, makanan siap saji, serta mesin penerangan seperti genset dan lentera.
“Bantuan bahan bakar berupa bensin, minyak tanah, dan solar turut didistribusikan untuk menunjang aktivitas warga dan tim di lapangan,” lanjutnya.
Menurut Hentje, kebutuhan mendesak saat ini adalah penambahan lima unit genset, khususnya untuk warga pengungsian yang berada di wilayah perbukitan dan belum terjangkau aliran listrik.
Di sisi lain, masyarakat Desa Doitia meminta perhatian serius Pemkab Halut untuk segera melakukan normalisasi Sungai Doitia. Sungai tersebut saat ini tersumbat longsoran tanah dan tumpukan kayu besar yang menyebabkan aliran air meluap ke permukiman warga.
Akibat sungai tersumbat, air mencari jalur baru dan merendam rumah-rumah warga dengan ketinggian mencapai 30 hingga 50 sentimeter. Warga mengkhawatirkan banjir akan kembali terjadi apabila hujan deras turun dan tidak ada penanganan konkret dari pemerintah.
Salah satu warga Desa Doitia, Petrus Sitanala, menegaskan bahwa normalisasi sungai menggunakan alat berat seperti excavator merupakan solusi paling efektif.
“Normalisasi sungai sangat penting, mulai dari pengerukan sedimen, pelebaran dan pelurusan alur sungai, hingga penguatan tebing. Ini untuk meningkatkan kapasitas tampung air dan mencegah banjir terulang,” tegas Petrus.(kro)
