Rektor Unipas Morotai Tekankan Disiplin ASN Lewat Spirit Isra Mi’raj
RadarTimur.id, Morotai — Rektor Universitas Pasifik Morotai (Unipas), Irfan Abdurrahman, menekankan pentingnya kedisiplinan dan transformasi kinerja Aparatur Sipil Negara (ASN) melalui nilai-nilai spiritual dalam peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW 1447 Hijriah/2026 Masehi yang dirangkaikan dengan apel gabungan ASN Pemerintah Daerah Kabupaten Pulau Morotai, Senin (19/1/2026).
Apel gabungan tersebut dipimpin langsung oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Pulau Morotai, Muhammad Umar Ali, dan diikuti ribuan ASN di halaman Kantor Bupati Morotai. Dalam kesempatan itu, Rektor Unipas dipercaya menyampaikan tausiah keagamaan di hadapan seluruh peserta apel.
Dalam ceramahnya, Irfan menjelaskan bahwa peristiwa Isra Mi’raj yang terjadi pada 27 Rajab, sepuluh tahun pasca kenabian, bukan sekadar peringatan ritual, melainkan momentum refleksi iman dan profesionalisme, khususnya bagi ASN.
“Isra Mi’raj sebagai nostalgia historis keislaman yang harus berdampak pada perubahan sikap dan kualitas pengabdian,” timpalnya.
Menurutnya, ASN berada pada posisi yang istimewa sekaligus strategis karena menyandang dua identitas sekaligus, yakni sebagai abdi negara dan abdi Allah. Dua identitas ini, kata dia, tidak seharusnya bertentangan, tetapi justru saling menguatkan dalam pelaksanaan tugas dan tanggung jawab pelayanan publik.
Dia menegaskan bahwa tantangan ASN hari ini tidak semata-mata terletak pada kemampuan teknis, melainkan pada hilangnya makna kerja. Mengutip data Badan Kepegawaian Negara (BKN) tahun 2023, Irfan menyampaikan bahwa 51 persen ASN terjebak rutinitas tanpa makna, hanya 38 persen yang merasa pekerjaannya berdampak langsung, dan 62 persen mengalami keterputusan antara nilai personal dan tugas jabatan.
“Kondisi ini dikenal sebagai routine trap. Isra Mi’raj mengajarkan transformasi, bahwa perubahan besar selalu diawali dari perubahan nilai,” ujarnya.
Irfan juga menyoroti persoalan kedisiplinan ASN yang masih menjadi temuan lembaga pengawas. Berdasarkan laporan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) tahun 2023, sebanyak 34 persen pelanggaran disiplin ASN bersumber dari buruknya manajemen waktu, sementara rata-rata keterlambatan layanan publik mencapai 47 persen dari standar yang ditetapkan.
Menurutnya, Islam menawarkan solusi sistemik melalui shalat sebagai arsitektur disiplin waktu. Merujuk pada QS An-Nisa ayat 103 yang menegaskan bahwa shalat telah ditentukan waktunya secara pasti. Dalam konteks ASN, shalat dapat menjadi kerangka pengelolaan waktu kerja, mulai dari perencanaan, evaluasi, hingga refleksi kinerja.
Dia bahkan mengaitkan waktu shalat dengan praktik manajemen ASN, di mana Subuh dimaknai sebagai perencanaan kerja harian, Dzuhur sebagai evaluasi progres, Ashar sebagai fokus penyelesaian prioritas, Maghrib sebagai transisi kerja dan keluarga, serta Isya sebagai refleksi dan perbaikan diri.
Mengutip studi internal Kementerian PAN-RB tahun 2022, Irfan menyebut ASN yang konsisten melaksanakan shalat berjamaah menunjukkan tingkat ketepatan waktu tugas hingga 89 persen, akurasi dokumen 94 persen, dan tingkat kepuasan publik mencapai 92 persen.
“Hal ini, membuktikan bahwa disiplin spiritual mampu memperkuat disiplin profesional,” lanjutnya.
Begitu juga pandangan Ibnu Arabi dan Jalaluddin Rumi yang menafsirkan Isra Mi’raj sebagai perjalanan spiritual batin manusia menuju kesadaran ilahi. Mi’raj bukan monopoli Nabi Muhammad SAW, melainkan potensi setiap mukmin melalui pengabdian, shalat, dan dzikir.
Mengakhiri ceramahnya, Rektor Unipas mengajak seluruh ASN di Kabupaten Pulau Morotai membangun paradigma “ASN Mi’raj”, yakni ASN yang amanah secara spiritual, disiplin secara sistemik, dan unggul dalam kinerja serta pelayanan publik.
“Dengan integrasi iman dan ilmu, disiplin dan dedikasi, spiritualitas dan profesionalisme, bukan tidak mungkin kita akan melahirkan ASN yang paripurna,” pungkasnya.(ksm)
