Setahun Sherly Laos: Pendorong Lompatan Maluku Utara
RadarTimur.id, Ternate – Tepat 20 Februari 2025, Sherly Tjoanda Laos bersama Wakil Gubernur (Wagub) resmi memimpin Maluku Utara (Malut).
Di hari pelantikannya, skeptisisme lebih dulu datang ketimbang tepuk tangan. Sherly bukan figur birokrasi, bukan mantan kepala daerah, juga bukan politisi kawakan. Latar belakangnya adalah pengusaha, sekaligus ibu tunggal yang melangkah dalam suasana duka.
Kata Rusdi Yusuf Ketua Harian DPP KNPI, satu tahun berjalan, narasi itu berubah. Di bawah kepemimpinannya bersama Sarbin Sehe, Malut mencatat pertumbuhan ekonomi 39,1 persen atau tertinggi secara nasional. Sektor nikel menjadi lokomotif, tetapi arah kebijakan tak berhenti pada eksploitasi sumber daya.
Pemerintah daerah mendorong sekolah gratis, beasiswa, program vokasi berbasis teknologi bekerja sama dengan Microsoft, pembangunan cold storage bagi nelayan, pembukaan sawah baru hingga pengembangan industri pengolahan.

“Dampaknya mulai terukur. Angka kemiskinan turun ke 5,81 persen. Tingkat pengangguran berada di 4,55 persen. Rasio Gini menunjukkan perbaikan, sementara Indeks Pembangunan Manusia (IPM) ikut terdongkrak,” ujar putra Malut yang berkiprah di Jakarta itu pada Jumat (20/3/2026).
Sektor kesehatan menjadi fokus awal. Dalam bulan pertama masa jabatan, dua rumah sakit di Taliabu dan Halmahera Timur naik kelas. Cakupan Universal Health Coverage (UHC) menembus 98 persen atau sekitar 475 ribu jiwa terlindungi layanan kesehatan gratis.
“Pemerintah provinsi juga mulai menata ulang fiskal, melunasi beban lama, serta memperkenalkan sistem rekam medis digital untuk mempercepat layanan,” lanjutnya.
Di bidang pengendalian harga, tantangan sempat muncul. Inflasi awal 2026 berada di angka 4,86 persen. Respons dilakukan melalui program Kios Sigap, subsidi angkutan antarpulau, serta penguatan rantai distribusi bahan pokok. Stabilitas pasokan menjadi prioritas, terutama di wilayah kepulauan yang rentan gejolak harga.
Di balik agenda pemerintahan yang padat, ada sisi personal yang jarang tersorot. Tiga anak remajanya menetap di Jakarta. Hampir setiap pekan harus membagi waktu antara Sofifi, Ternate, dan Menteng Jakarta. Rapat dengan menteri, dialog dengan warga, hingga urusan rumah tangga berjalan beriringan.
“Tidak ada keluhan, yang nampak hanya pembagian waktu,” ujar Rusdi.
Baginya, tugas sebagai kepala daerah dan ibu bukan dua pilihan yang saling meniadakan. Setahun pertama menjadi fase pembuktian. Dari figur yang diragukan, Sherly Laos kini disebut sebagai salah satu kepala daerah dengan capaian paling progresif di Indonesia.
Bagi Rusdi, Malut (Bumi Kie Raha) periode ini mulai ada perubahan arah dari wilayah terpinggirkan menjadi kawasan yang mulai diperhitungkan di panggung nasional.(red)
