Paripurna HUT ke-17 Digelar, Ketua DPRD Kenang Perjuangan Pemekaran Morotai
RadarTimur.id, Morotai – Rapat paripurna istimewa dalam rangka memperingati Hari Jadi ke-17 Kabupaten Pulau Morotai yang digelar Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Pulau Morotai berlangsung hikmat.
Kegiatan yang berlangsung di ruang rapat utama DPRD pada Senin (30/3/2026) tersebut dihadiri Wakil Bupati Pulau Morotai Rio Cristian Pawane serta unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda).
Ketua DPRD Kabupaten Pulau Morotai, Muhamad Rizki yang memimpin jalannya paripurna menjelaskan alasan peringatan hari jadi Morotai yang biasanya diperingati pada 20 Maret baru dilaksanakan pada akhir Maret.
Menurut Rizki, keputusan tersebut diambil sebagai bentuk penghormatan terhadap suasana ibadah puasa Ramadan serta kebijakan cuti nasional yang bertepatan dengan tanggal peringatan tersebut.
“Mungkin ada riak tanya yang sempat terlintas, mengapa perayaan ini baru kita laksanakan pada hari ini. Seharusnya pada tanggal 20 Maret yang lalu panji-panji perayaan sudah kita kibarkan. Namun sebagai bangsa yang beradab dan masyarakat yang religius, kita di lembaga dewan mengambil sebuah ijtihad kebijakan untuk menundukkan ego seremonial demi menghormati kekhidmatan ibadah puasa dan juga kebijakan cuti nasional,” ujar Rizki.
Dia menegaskan bahwa pergeseran jadwal tersebut tidak mengurangi nilai historis peringatan hari jadi Morotai. Justru, kata dia, momentum tersebut menjadi lebih bermakna karena dilaksanakan dalam suasana kemenangan setelah Idul Fitri.
“Pergeseran jadwal ini tidak sedikit pun mengurangi nilai historisnya. Justru ia menambah keberkahan karena kita merayakannya dalam semangat kemenangan,” tambahnya.
Dalam kesempatan tersebut, Rizki juga menyampaikan ucapan selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah kepada seluruh masyarakat Morotai.
“Pada kesempatan ini saya atas nama pribadi serta pimpinan dan anggota DPRD Kabupaten Pulau Morotai mengucapkan selamat Idul Fitri 1447 Hijriah, minal aidzin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin,” ucapnya.
Tambahnya, momentum hari jadi Morotai bukan sekadar perayaan seremonial, tetapi juga refleksi atas perjuangan panjang para tokoh yang telah memperjuangkan lahirnya daerah tersebut.
“Tujuh belas tahun yang lalu di tanah ini sebuah janji dipancangkan. Berdirinya Kabupaten Pulau Morotai bukan sekadar tanda tangan di atas kertas putih. Ia adalah darah, air mata, dan kumpulan doa panjang dari para tokoh pejuang yang tak kenal lelah,” ungkap Rizki.
Menurutnya, para pejuang pemekaran Morotai memiliki cita-cita besar agar daerah yang dikenal sebagai “mutiara di bibir Pasifik” itu tidak lagi sekadar menjadi catatan kecil di peta nasional, tetapi menjadi beranda depan Indonesia yang bermartabat.(ksm)

