radartimur.id

Dari Informasi ke Transformasi

Jumat, 20 Februari 2026

Kualitas Air Sungai Sangaji Menurun, Aktivitas Tambang Diduga Jadi Pemicu

RadarTimur.id, Halmahera Timur — Kualitas air Sungai Sangaji di Kecamatan Kota Maba, Kabupaten Halmahera Timur (Haltim), dilaporkan terus menurun sejak tahun 2023 hingga 2025. Sungai yang selama puluhan tahun menjadi sumber air bersih utama bagi warga Desa Sangaji ini kini mulai tercemar akibat meningkatnya aktivitas pertambangan di wilayah hulu.

Hasil uji laboratorium menunjukkan adanya peningkatan kadar Total Suspended Solids (TSS) atau total padatan tersuspensi dalam air Sungai Sangaji. Kondisi ini menandakan terjadinya pencemaran yang cukup signifikan.

Kepala Bidang Lingkungan Hidup Dinas Pertanahan dan Lingkungan Hidup (DPLH) Haltim, Fachruddin Musa, mengungkapkan bahwa penurunan kualitas air mulai terlihat sejak 2023, dibandingkan tahun 2022 yang masih relatif baik.

“Dari sekian banyak parameter yang diuji, di Sangaji saat ini TSS mengalami peningkatan. Tahun 2022 TSS masih rendah, tapi sekarang meningkat. Begitu juga kadar E. coli yang berasal dari limbah hewan dan manusia juga naik,” ungkap Fachruddin saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (16/10/2025).

Dia menuturkan, perubahan warna air di permukaan Sungai Sangaji menjadi tanda adanya sedimentasi yang kemungkinan besar disebabkan oleh pembukaan lahan di sekitar kawasan sungai oleh sejumlah perusahaan tambang.

“Kalau TSS tinggi, itu indikasi ada bukaan permukaan. Kita tahu di Sangaji ini ada beberapa IUP (Izin Usaha Pertambangan), di antaranya PT Position, PT WBN, PT NKA, PT STA, PT WKN, dan PT MHM,” bebernya.

Menurut Fachruddin, data kualitas air tersebut merupakan hasil uji dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Dinas Lingkungan Haltim hanya berperan dalam pengambilan sampel, sementara perhitungan dan analisis dilakukan oleh pihak kementerian.

“Kita yang ambil sampelnya, tapi indeks kualitas air dihitung oleh kementerian. Mereka juga yang melakukan trending terhadap hasilnya,” jelasnya.

Lebih lanjut, Fachruddin menambahkan bahwa selain melakukan pengujian, pihak KLHK juga memberikan rekomendasi tindak lanjut berupa pengawasan dan pembinaan kepada perusahaan tambang.

“Dari rekomendasi itu, kami di Dinas Lingkungan berupaya menjalankan sesuai kemampuan dan anggaran yang tersedia,” tambahnya.

Penurunan kualitas air Sungai Sangaji menjadi alarm bagi pemerintah daerah dan masyarakat sekitar untuk lebih waspada. Pasalnya, sungai ini menjadi tumpuan hidup warga dalam memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari.(red)