Prof. Gufran Bongkar 7 Rahasia Menulis Karya Ilmiah pada Pelatihan KTI Al-Qur’an
RadarTimur.id, Ternate — Materi pembuka hari kedua Pelatihan Karya Tulis Ilmiah (KTI) Al-Qur’an yang digelar Pemerintah Kabupaten Halmahera Timur (Haltim) bekerja sama dengan Yayasan Pendidikan Nahdiyatul Mulk Maluku Utara berlangsung menarik dan inspiratif. Selasa (16/12/2025), peserta mendapat suntikan pengetahuan langsung dari pakar penulisan akademik, Prof. Gufran A. Ibrahim.
Pelatihan yang berlangsung selama tiga hari, sejak Senin hingga Rabu (15–17 Desember 2025) di Muara Hotel Ternate ini menjadi wadah penguatan kapasitas akademik peserta, khususnya dalam menulis karya ilmiah berbasis Al-Qur’an secara sistematis dan bertanggung jawab.
Dalam pemaparannya, Guru Besar Antropolinguistik Universitas Khairun tersebut menegaskan bahwa menulis karya ilmiah tidak bisa dilepaskan dari tiga prinsip utama akademik, yakni penggunaan bahasa yang ajek dan jelas, penulisan yang bertumpu pada bukti riset, serta ketetapan dan kesahihan proposisi ilmiah.
Tak berhenti pada prinsip dasar, Prof. Gufran kemudian mengupas tujuh rahasia penting dalam menulis karya ilmiah. Rahasia pertama adalah membaca sebelum menulis.
Menurutnya, semakin banyak membaca, semakin luas pula wawasan penulis. Bagi pemula, menulis ulang hasil bacaan menjadi langkah awal yang efektif untuk melatih kemampuan menulis.
Rahasia kedua, penulis harus mampu mengenali tingkat keutamaan bacaan sesuai kebutuhan tulisan, mulai dari buku, artikel ilmiah, struktur penulisan, hingga hasil pemikiran dan riset. Rahasia ketiga adalah memahami bangun struktur tulisan ilmiah berbasis riset.
Pada rahasia keempat, Prof. Gufran menekankan pentingnya membaca secara kritis dan menyusun matriks perangkum bacaan. Matriks ini berfungsi sebagai alat untuk merangkum temuan, model, dan simpulan riset terdahulu, sekaligus membantu penulis merancang usulan riset baru.
“Penulis harus mampu menemukan celah penelitian atau research gap, memosisikan risetnya di antara penelitian sebelumnya, serta menyusun kerangka pikir atau kerangka konsep yang jelas,” tegas yang akrab disapa Gibra.
Dia menjelaskan, matriks perangkum bacaan idealnya memuat tema atau isu riset, metode dan model penelitian, teori yang digunakan, temuan, rekomendasi, residu riset, hingga sumber bacaan.
Rahasia kelima dan keenam berkaitan dengan eksplorasi teori serta penataan kerangka pikir berdasarkan hasil riset, kemudian menulis berdasarkan temuan penelitian. Kerangka pikir, menurut Prof. Gufran, sangat penting dalam menata variabel, parameter, dan indikator, termasuk dalam penyusunan instrumen pengumpulan data.
Sementara itu, rahasia ketujuh adalah memulai penulisan latar belakang riset. Pada bagian ini, penulis harus mampu menjawab lima pertanyaan kunci: mengapa riset dilakukan, apa tujuan riset, bagaimana cara melakukannya, apa yang ditemukan, serta apa makna, manfaat, dan kontribusi riset tersebut.
Prof Gufran juga menekankan, latar belakang riset harus disusun dengan menunjukkan bukti riset sebelumnya, mengungkap research gap, serta menempatkan posisi riset dalam perkembangan mutakhir keilmuan (state of the art), sehingga kebaruan atau novelty riset tampak jelas.
Menutup pemaparannya, Prof. Gufran berbagi pengalaman pribadinya sebagai penulis yang karyanya juga dimuat di media nasional. Ia menegaskan bahwa kunci utama menjadi penulis adalah konsistensi.
“Kata terakhir saya, semua orang bisa berbicara, tapi tidak semua orang bisa menulis,” tuturnya.
Sementara itu, Ketua Yayasan Pendidikan Nahdiyatul Mulk Maluku Utara, Salim Taib, menyampaikan bahwa kehadiran pemateri berkompeten seperti Prof. Gufran A. Ibrahim memberikan penguatan signifikan bagi peserta.
“Materi yang disampaikan sangat membantu peserta memahami teknik dan strategi menulis karya ilmiah Al-Qur’an yang bermutu, akademik, dan sistematis,” ujarnya. (ard)
