radartimur.id

Dari Informasi ke Transformasi

Rabu, 18 Februari 2026

Kecelakaan Laut di Malam Kudus, Warga Barataku Nyaris Kehilangan Nyawa

Malam Kudus seharusnya disambut dengan doa, nyanyian, dan keheningan yang khusyuk. Di Desa Barataku, Kecamatan Loloda Tengah, Kabupaten Halmahera Barat, Provinsi Maluku Utara, malam itu justru dipenuhi kecemasan. Langit telah gelap sementara tujuh warga yang berangkat dari Desa Nolu menuju desa barataku belum juga sampai karena harus melewati laut karena kondisi jalan yang rusak parah.

Sore Rabu, 24 Desember 2025, sebuah longboat kecil berangkat dari Desa Nolu menuju Barataku. Di dalamnya tersimpan harapan sederhana yakni bahan makanan, kebutuhan pokok, serta uang sisa dari hasil jual komuditi pertanian yang akan menjadi bekal Natal dan Tahun Baru. Semua itu baru saja dibeli dari Tobelo, Halmahera Utara, perjalanan yang bagi warga Barataku tak pernah mudah, tetapi selalu harus ditempuh.

Menjelang malam, ketika warga lain mulai bersiap menuju gereja untuk ibadah Malam Kudus, kabar itu menyebar cepat. Longboat sudah berangkat, tetapi lebih dari satu jam belum juga tiba. Di desa, suasana berubah. Doa bercampur gelisah. Beberapa warga menunda persiapan ibadah dan mulai bersiap melakukan pencarian.

Perjalanan laut yang biasanya memakan waktu sekitar satu jam berubah menjadi mimpi buruk. Gelombang tinggi menghantam perahu. Mesin kehilangan kendali, lalu mati total. Sejak pukul 17.00 hingga sekitar 22.00 WIT, longboat itu terombang-ambing di tengah laut, tanpa kepastian dan tanpa daya melawan arus.

Di darat, pencarian dilakukan dengan alat seadanya. Dalam gelap, laut yang biasanya menjadi jalur hidup justru terasa sebagai ancaman. Harapan akhirnya datang ketika warga menemukan ketujuh penumpang itu. Mereka selamat, tetapi dalam kondisi lemas, basah, dan trauma.

Namun keselamatan itu dibayar mahal. Sebagian besar muatan perahu hanyut dan rusak. Nilainya ditaksir mencapai ratusan juta rupiah. Hasil kebun yang dikumpulkan berbulan-bulan, bahan makanan, dan kebutuhan keluarga untuk Natal lenyap di laut.

“Ini uang hidup kami. Untuk makan dan untuk Natal. Semua habis di laut karena jalan tidak ada,” ujar seorang warga, suaranya tertahan.

Bagi masyarakat Barataku, Natal bukan hanya perayaan iman, tetapi juga puncak perhitungan ekonomi keluarga. Kebutuhan makan, perlengkapan ibadah, hingga persediaan bulan-bulan ke depan bergantung pada satu perjalanan laut. Ketika semuanya hilang di momen sakral, kehilangan itu terasa berlipat ganda.

Hingga hari ini, Desa Barataku dan sebagian besar wilayah Loloda Tengah masih hidup dalam keterisolasian. Tidak ada akses jalan darat yang layak. Untuk berobat, berbelanja, menjual hasil kebun, hingga memenuhi kebutuhan hari raya, warga hanya punya satu pilihan yaitu laut, apa pun cuacanya.

Risiko kecelakaan telah menjadi bagian dari keseharian yang diterima dengan pasrah. Namun bagi warga, peristiwa di malam Natal ini bukan sekadar musibah alam. Mereka menilai ini adalah akibat langsung dari absennya negara menghadirkan infrastruktur dasar yang selama bertahun-tahun hanya hadir dalam janji.

Ketua Loloda Raya Maju (LORAMA) Halmahera Barat, Yosafat Kotalaha, menilai Pemerintah Kabupaten Halmahera Barat bersama DPRD telah gagal menjalankan tanggung jawab konstitusionalnya.

Dia mendesak pembangunan akses jalan darat menuju Barataku dan wilayah Loloda Tengah segera direalisasikan tanpa penundaan, pemerintah diminta bertanggung jawab atas kerugian material warga, serta menghentikan pola janji pembangunan yang terus berulang tanpa kepastian.

“Kami tidak minta bantuan sementara. Kami minta jalan agar kami tidak mati di laut dan tidak kehilangan hidup kami setiap Natal,” tegasnya, Kamis (25/12/2025).

Hingga tulisan ini dibuat, belum ada pernyataan resmi dari Pemerintah Kabupaten Halmahera Barat soal bantuan atas kerugian material yang ditimbulkan akibat kecelakaan laut itu.(red)