Majelis Duka, Hadir Tanpa Sorotan, Menguatkan dalam Kehilangan
Di berbagai rumah duka di Ternate, Tidore, Halmahera Selatan, hingga wilayah di luar Maluku Utara seperti Ambon dan Pulau Jawa, kehadiran Yayasan Majelis Duka Provinsi Maluku Utara kerap menjadi bagian penting dalam proses kedukaan keluarga. Yayasan ini bergerak tanpa banyak sorotan, fokus mendampingi mereka yang kehilangan anggota keluarga.
Yayasan Majelis Duka dipimpin oleh Taha Bin Muhammad Alhadar dan telah berjalan selama empat tahun terakhir. Dalam kurun waktu tersebut, yayasan ini secara konsisten hadir di tengah masyarakat, terutama saat warga berada dalam situasi paling sulit, yakni kehilangan orang terdekat.
“Siapa pun yang berduka, harus disentuh,” ujar Taha Bin Muhammad Alhadar, yang akrab disapa Ota, Kamis (25/12/2025).
Majelis Duka memandang kematian sebagai bagian dari siklus kehidupan yang tak terpisahkan. Karena itu, peran mereka tidak berhenti pada pengurusan jenazah, tetapi juga pada penguatan mental dan spiritual keluarga yang ditinggalkan. Dalam banyak kesempatan, kehadiran anggota majelis menjadi ruang berbagi duka sekaligus pengingat akan ketabahan.
Secara nyata, yayasan ini menjalankan sejumlah kegiatan sosial. Salah satunya adalah pembagian kain kafan gratis bagi masyarakat kurang mampu. Hingga kini, lebih dari 400 set kain kafan telah disalurkan ke berbagai wilayah di Maluku Utara dan sekitarnya. Selain itu, majelis juga memberikan santunan uang duka kepada anggota yang mengalami musibah.
Dalam praktiknya, mereka juga memberi perhatian khusus kepada Said dan Sarifah, dengan keyakinan bahwa memuliakan keturunan Rasulullah SAW adalah bagian dari ikhtiar meraih rida Allah dan safaat Nabi Muhammad SAW.
“Memuliakan keturunan Nabi adalah bagian dari adab dan tradisi Islam yang kami rawat bersama,” kata dia.
Secara organisatoris, Majelis Duka ditopang oleh sekitar 200-an anggota yang bergerak secara sukarela. Sumber pendanaan berasal dari iuran rutin bulanan anggota serta donasi masyarakat yang bersifat sukarela dan tidak mengikat, “Seluruh dana dikelola dengan prinsip keikhlasan, kebersamaan, dan tanggung jawab sosial,” lanjutnya.
Tidak berhenti pada layanan kedukaan, Majelis Duka terus memperkuat perannya sebagai gerakan sosial kemasyarakatan berbasis nilai ke-Islaman. Yayasan ini aktif menggelar pembacaan Ratib Haddad setiap bulan, yang menjadi ruang doa bersama sekaligus penguatan spiritual anggota.
Selain itu, Majelis Duka rutin mengadakan pelatihan perawatan dan pemandian jenazah, sebagai bentuk edukasi agar masyarakat memiliki kesiapan mental dan pengetahuan syariat dalam menghadapi kematian. Kegiatan ini sekaligus memperluas basis relawan yang siap bergerak kapan saja dibutuhkan.
Di sisi lain, pihaknya uga mulai memikirkan persoalan jangka panjang. Keterbatasan lahan pemakaman Islam di Kota Ternate menjadi perhatian serius. Yayasan ini tengah menjajaki pengadaan lahan pemakaman baru sebagai bentuk kontribusi berkelanjutan bagi masyarakat.
Rencana pengadaan mobil pengantar jenazah juga sedang diupayakan, terutama untuk membantu keluarga kurang mampu agar proses pemakaman dapat berlangsung secara layak, “Upaya ini dilakukan dengan membuka ruang kerja sama bersama pemerintah daerah, tokoh agama, dan masyarakat,” tutur dia.
Nama Majelis Duka sendiri bukan sekadar penanda organisasi. Bagi Ota dan para anggotanya, duka adalah nasihat kehidupan pengingat agar manusia tidak salah melangkah dan senantiasa menyadari batas hidupnya.
“Orang Islam yang cerdas adalah mereka yang selalu mengingat mati. Kematian itu bukan hanya akhir, tapi nasihat paling jujur tentang bagaimana seharusnya kita menjalani hidup,” tutur Taha.(*)
