Kualitas Jalan Tani Morodadi Disorot Petani
RadarTimur.id, Morotai — Pekerjaan pembangunan jalan tani sepanjang 15 kilometer Tahun Anggaran (TA) 2025 yang melekat pada Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Pulau Morotai hingga akhir Januari 2026 belum juga rampung. Salah satu titik yang menjadi sorotan berada di Desa Morodadi, Kecamatan Morotai Selatan.
Proyek jalan tani dengan pagu anggaran kurang lebih Rp1,5 miliar tersebut tersebar di beberapa desa, di antaranya Desa Mira dan Desa Sambiki Tua di Kecamatan Morotai Timur, serta Desa Morodadi di Kecamatan Morotai Selatan. Khusus di Desa Morodadi, jalan tani yang direncanakan sepanjang tiga kilometer belum selesai dikerjakan hingga Jumat (30/1/2026).
Pantauan langsung RadarTimur.id di lapangan menemukan sejumlah kejanggalan. Selain pekerjaan yang belum tuntas, kualitas jalan tani dinilai memprihatinkan. Di beberapa titik, terdapat timbunan material sepanjang sekitar 70 meter yang belum diratakan.
Ketebalan material sirtu juga diduga tidak sesuai spesifikasi, bahkan kondisi jalan sudah mengalami kerusakan parah dan sulit dilalui, terutama bagi petani yang menggunakan kendaraan roda dua.
Padahal, anggaran proyek tersebut dikabarkan telah dicairkan 100 persen, dengan alokasi sekitar Rp100 juta per kilometer. Namun fakta di lapangan menunjukkan hasil pekerjaan yang jauh dari harapan.
Kondisi ini menuai keluhan dari para petani. Wahyu, salah satu petani setempat, mengaku kecewa dengan kualitas jalan tani yang baru dibangun namun sudah rusak.
“Seharusnya jalan ini bisa dipakai lama, tapi baru beberapa bulan sudah rusak. Sekarang kalau ke kebun saya terpaksa jalan kaki karena jalannya sudah berlubang,” keluh Wahyu saat ditemui di lokasi.
Diketahui, pembangunan jalan tani tersebut dilaksanakan melalui skema swakelola oleh Dinas PUPR Kabupaten Pulau Morotai dan bersumber dari Dana Alokasi Umum (DAU) Tahun Anggaran 2025, dengan nilai sekitar Rp300 juta untuk salah satu paket pekerjaan.
Sementara itu, Kepala Dinas PUPR Pulau Morotai, Fahmi Usman, saat dikonfirmasi melalui WhatsApp membenarkan bahwa pekerjaan jalan tani tersebut belum memasuki tahap akhir pengerasan.
Menurutnya, pemadatan akhir menggunakan alat berat jenis bomag belum dilakukan karena faktor cuaca, “Kami memang belum melakukan pemadatan akhir dengan alat berat (bomag) karena kondisi cuaca. Kalau hujan, saat digilas material bisa tergulung dan hasilnya tidak maksimal,” jelas Fahmi.
Meski demikian, masyarakat berharap pemerintah daerah segera menuntaskan pekerjaan tersebut dan memastikan kualitas jalan tani sesuai standar, agar benar-benar dapat menunjang aktivitas pertanian warga.(ksm)
