radartimur.id

Dari Informasi ke Transformasi

Kamis, 26 Februari 2026

Alumni Harap Rektor Baru IAIN Ternate Lakukan Empat Langkah Strategis

Alumni Harap Rektor Baru IAIN Ternate Lakukan Empat Langkah Strategis

 

RadarTimur.id, Ternate — Pergantian kepemimpinan di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ternate diharapkan menjadi momentum kebangkitan baru.

Alumni angkatan 2001, Salim Taib, meminta rektor definitif yang akan memimpin empat tahun ke depan berani mengambil empat langkah strategis demi mendorong kampus lebih progresif dan berdaya saing.

Menurut Salim, kepemimpinan baru tidak cukup hanya menjalankan rutinitas administratif, tetapi harus menghadirkan terobosan besar, khususnya dalam pengembangan kelembagaan dan penguatan akademik.

Langkah pertama yang dinilai paling mendesak adalah mendorong alih status dari IAIN menjadi Universitas Islam Negeri (UIN). Secara historis, IAIN Ternate termasuk perguruan tinggi Islam yang lebih awal berdiri dibanding sejumlah kampus Islam lain di kawasan timur Indonesia.

Namun, beberapa di antaranya justru telah lebih dulu bertransformasi, seperti UIN Alauddin Makassar, UIN Ambon, dan UIN Papua.

Salim menilai Maluku Utara memiliki kekuatan historis yang relevan untuk mendukung perubahan status tersebut, terutama keberadaan empat kesultanan yang menjadi identitas Maluku Kie Raha.

“Nilai historis dan kultural itu sebagai legitimasi kuat dalam pengajuan peningkatan status kelembagaan,” timpal pengamat kebijakan publik itu, Kamis (26/2/2026).

Langkah kedua adalah percepatan penambahan Guru Besar. Keberadaan Guru Besar disebut sebagai kebutuhan mendesak, bukan sekadar pelengkap struktur akademik.

Selain memperkuat kualitas pendidikan, jumlah Guru Besar juga menjadi salah satu syarat penting dalam proses alih status kelembagaan, “Jika menghadapi kendala anggaran, rektor diharapkan mampu mencari solusi alternatif agar percepatan tetap berjalan,” lanjut dia.

Langkah ketiga menyangkut penguatan riset yang menegaskan posisi IAIN Ternate sebagai kampus Islam di wilayah kepulauan. Salim menekankan pentingnya pengembangan kajian Islam Kepulauan, mengingat kampus ini berada di kawasan maritim yang memiliki karakteristik keislaman khas.

Untuk itu, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) perlu diberikan dukungan dan porsi anggaran lebih besar guna memperkuat produksi riset yang kontekstual dan berdaya saing nasional.

Adapun langkah keempat adalah menghidupkan kembali forum alumni secara independen. Forum alumni dinilai harus berdiri di luar struktur kampus agar kolaborasi dapat berjalan maksimal.

“Kepengurusan juga sebaiknya tidak dirangkap oleh dosen aktif, sehingga forum benar-benar menjadi wadah otonom dan produktif dalam mendukung pengembangan institusi,” tutup dia.(red)