radartimur.id

Dari Informasi ke Transformasi

Minggu, 12 Juli 2026

Kapasitas Cold Storage Penuh, Nelayan Tuna Morotai Terancam Merugi

RadarTimur.id, Morotai — Produksi perikanan jenis tuna di Kabupaten Pulau Morotai saat ini sedang memasuki masa panen raya. Namun, lonjakan hasil tangkapan nelayan tidak diiringi kesiapan infrastruktur penampungan.

Cold storage milik Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pulau Morotai, yang merupakan fasilitas pendingin skala besar di wilayah ini, dilaporkan telah mencapai batas maksimum kapasitas sejak awal Mei.

Pantauan langsung Media di lapangan menunjukkan antrean panjang kendaraan pengangkut hasil tangkapan nelayan hingga dini hari, pukul 01.00 WIT. Mereka mengantre untuk memasukkan hasil tangkapannya ke Unit Pengolahan Ikan milik PT. Harta Samudra, yang memanfaatkan fasilitas cold storage milik Pemkab Pulau Morotai.

Informasi dari manajemen PT. Harta Samudra menyebutkan bahwa cold storage yang ada tidak mampu lagi menampung tambahan volume ikan. Bahkan pengiriman, baru dapat dilakukan pada 12 Mei 2025 mendatang melalui pelabuhan kontainer di Tobelo, Halmahera Utara.

Sementara, Pelabuhan Perikanan Daeo Majiko yang baru saja diresmikan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan RI beberapa waktu lalu, masih belum beroperasi secara aktif. Padahal, pelabuhan tersebut juga memiliki fasilitas pendingin (ICS) berkapasitas 200 ton yang bisa membantu mengatasi lonjakan produksi ini.

Sudin, seorang nelayan asal Morotai, Kamis (8/5/2025) berharap, pemerintah segera turun tangan. Mereka mendesak agar kapasitas cold storage ditambah dan armada tol laut diperkuat sehingga jalur distribusi lebih lancar dan tidak merugikan nelayan lokal.

“Ketika cold storage penuh, kami yang paling menderita. Ikan hasil tangkapan sering kali harus dikubur karena tak ada tempat penyimpanan. Ini kerja keras kami yang sia-sia oleh karena itu kami meminta agar fasilitas pendingin di Pelabuhan SKPT Daeo Majiko segera diaktifkan,” keluh Sudin.

Mahli Aweng, Penanggung Jawab Pengelola Pelabuhan Perikanan Daeo Majiko SKPT Morotai ketika dikonfirmasi membenarkan bahwa saat ini sedang memasuki masa panen. Dari data sementara menunjukkan terdapat 148 ton produk tuna beku siap ekspor yang belum dapat dikirim ke Jakarta atau Surabaya karena ketiadaan kapal kontainer.

“Selain itu, terdapat tambahan 34 ton tuna yang saat ini disimpan di bak chilling dan cooler loin,” ujar dia.

Untuk mengatasi persoalan ini, dia mengaku, segera berkoordinasi dengan pimpinannya sehingga fasilitas pendingin di Pelabuhan Perikanan Daeo Majiko yang saat ini masih dalam tahapan pencatatan asset agar segera difungsikan.

“Saya akan segera koordinasi dengan pimpinan agar fasilitas pendingin (ICS) berkapasitas 200 ton dari Pelabunan Perikanan Daeo Majiko, bisa dimanfaatkan secepatnya,” tambahnya.(ksm)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini