KEMAKMURAN DALAM ISLAM
Oleh : Salim Taib, S.Ag, M.Si
Mashasiswa S3 Study Islam IAIN Ternate & Dosen Unutara
Khalifa Ali Bin Abi Thalib berucap bukan dikatakan orang yang kaya raya itu adalah orang yang memiliki harta benda yang banyak, tetapi orang yang kaya raya adalah orang yang dermawan. dari sinilah Islam mengajarkan kemakmuran, kesejahteraan tidak di ukur dengan kepemilikan harta yang banyak, melainkan terwujudnya kehidupan yang berkah, halal, adil, produktif dan mensejahterakan banyak orang dan semua itu dibangun dengan, Iman, Taqwa, kerja keras, amanah dan kepedulian sosial, sebagaimana Allah berfirman dalam al-qur.an surat al-a’arf ayat 96 : Walau anna ahlalqur’an aamanu wataqqau lafatahnaa baarakatimminassamaa iwal ardhi walakin kaddzabuu faa akhadnaahum bima kaanuu yaksibuun; (sekiranya suatu penduduk negeri beriman dan bertaqwah niscaya Kami akan membukakan untuk mereka berbagai keberkahan dari pintu langit dan perut bumi, akan tetapi mereka mendustakan (Para Rasul dan ayat-ayat Kami), maka kami menyiksa mereka disebabkan oleh apa yang selalu mereka kerjakan).
Ayat ini menegaskan bahwa fondasi kemakmuran dalam Islam adalah Iman dan Taqwa, bahwa negeri yang penduduknya jujur, negeri yang pemimpinnya adil, negeri yang elitnya tidak serakah, negeri yang pengusahanya tidak monopoli, negeri yang menjauhi riba, negeri yang bersih dari Korupsi, negeri yang tidak ada penipuan dan kezaliman itulah sebuah negeri yang selalu mendapatkan keberkahan dari Tuhan. Dalam terminilogi lain teks wahyu yang menjelaskan ciri orang yang bertaqwa, di dalam al-qur’an surat Ali-Imran 134 Allah memberi gambaran: Alladziina Yunfiquuna fissarraa’I wadharra’I walkadzimiinalghaidza wal’aafiina ‘aninnaasi Wallahu Yuhibbul muhsiniin: (orang-orang yang bertqwa itu adalah orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya, dan memaafkan kesalahan orang lain, dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan). Ayat ini memberi pendefenisian bahwa wujud manusia yang memiliki nilai ketaqwaan itu adalah orang yang selalu memberi, baik diwaktu susah maupun diwaktu senang, orang yang selalu terbuka tangannya dalam kedermawanan, dan ciri orang-orang yang bertaqwa sebagaimana dijelaskan oleh Nabi Muhammad dalam sabdanya, “Khairunnas anfahum Linnaas” sebaik-baik manusia adalah yang dapat memberi manfaat pada orang lain, kita diberi ukuran oleh Nabi sebagai manusia terbaik jika keberadaan kita dapat memberi kemanfaatan untuk manusia lainnya, jikapun kita tidak mampu berbuat baik untuk orang lain, minimal keberadaan kita, tidak menyusahkan.
Di dalam teks ayat lain Allah mengkalamkan “Walyahk syalladziina lautarakuu minkhalfihim dzurriyatan dhi’aafan khaafuu ‘alaihim Falyattaqullaaha Walyaquuluu Qaulaan sadiidaa” (hendaklah merasa takut wahai para orang tua jika kelak meninggalkan anak-anak keturunan dalam keadaan lemah (yang) mereka hawatir terhadapnya, maka bertaqwalah kepada Allah dan berbicaralah dengan tutur kata yang benar). Pada surat annisa ayat 9 ini Allah memberi warning peringatan keras kepada orang tua akan kemakmuran, kesejahteraan anak-anak keturunannya jika kelak setelah wafatnya orang tua, membiarkan anak anak berada pada posisi yang lemah secara ekonomis (Dhaif), yang miskin, peringatan ini sejalan dengan apa yang disabdakan Nabi Muhammad qadalfakru aiyakuna kufra, bahwa kemiskinan akan selalu mendekatkan diri pada kekufuran.
Dalam tafsiran hermeneutik, ayat ini tidak sekedar peringatan kepada orang tua akan tetapi, Allah memperingatkan kepada para pemimpin, jika sekiranya pasca kepemimpinan disuatu negeri dikala menjadi presiden, gubernur, bupati dan menjadi wali kota, setelah dia berkuasa masyarakat yang dia pimpinnya berada dalam kesengsaraan, masyarakat tidak berubah kemakmurannya, dan karena kelalaian mengelola kekuasaanya untuk membangun kemakmuran bersama sehingga menjerumuskan ummat dalam kekufuran akibat kesengsaraan dan kemiskinannya maka semua itu akan di hisab oleh Allah yang Maha Adil sebagai bentuk pertanggungjawaban. Rasul dalam hembusan nafas terakhirnya sebagai pemimpin sebuah negara Madina, berucap ummati, ummati, ummati, (ummatku, ummatku, ummatku), jadi ummmatku yang dikhawatirkan rasul itu adalah bentuk ikhtiar kepemimpinannya sebagai kepala Negara, menghawatirkan ummatnya berada dalam kemiskinan, dimasa yang akan datang setelah Rasul meninggalkan dunia, tapi sekali lagi bahwa kemakmuran itu tidak selalu dipenuhi dengan berlimpah ruah kepemilikan harta.
Akan tetapi Allah pada ayat ini juga mengakhiri kalimat dengan dua seruan sekaligus yakni Falyattqullaha (bertaqwalah kepada Allah), dan walyaquulu Qaulan sadiidah (bertutur kata yang baik). Ketaqwaan adalah relasi fertikal dan bertutur kata yang baik adalah relasi horizontal, sehingga kemakmuran dalam Islam dibangun berdasarkan relasi fertikal sekaligus relasi horizontal guna mewujudkan kemakmuran yang merata, kemakmuran itu didistribusikan secara adil, karena manusia diberi amanah penciptaan untuk memakmurkan bumi. Allah berfirman dalam surat Hud ayat 61. Hua Ansyaa akum Minal Ardhi wasta’marakun; Dia Allah telah menciptakanmu dari bumi (tanah) dan menjadikanmu pemakmurnya, bumi dihamparkan oleh Allah dengan kekayaan yang terkandung di dalamnya agar di kelolah untuk kemakmuran bersama, Allah melarang peredaran kemakmuran hanya pada segelintir orang dalam surat Al-Hasyr ayat 7 Allah berfirman; kailaa yakuuna duulatan bainal aghniyaa’I mingkum. (demikianlah agar harta itu tidak hanya beredar diantara orang-orang kaya diantara kamu).
Peringatan Tuhan ini sangat keras dalam surat al-hasyr, bahwa harta yang diperolah karena anugrah Allah berupa limpahan sumber daya alam diatas bumi maupun di dalam perut bumi, nikel, emas, batu bara, minyak tidak didistrubusikan pada jalan Allah, anak Yatim, orang miskin dan orang yang dalam perjalanan maka Allah sangat keras hukumannya (Innallaha Syadiduul ‘iqaab), disinilah basis kontektualisasi kaidah usul fiqih tasyarruful imam arraiya manutum bil mashlahah bahwa kepemimpinan dalam level apapun harus diorentasikan untuk membangun kemakmuran bersama, bukan kemakmuran segelentir orang, kelompok serta etnis.

