SMA Muhammadiyah Diblokade Pemilik Lahan, Gara-Gara Belum Dibayar
RadarTimur.id, Morotai — Dunia pendidikan di Kabupaten Pulau Morotai, Provinsi Maluku Utara, kembali menjadi sorotan. Sebuah Sekolah Menengah Atas (SMA) yang baru dibangun pada 2024 lalu, di Desa Lusuo, Kecamatan Morotai Utara, mendadak dipalang oleh pemilik lahan.
Aksi yang dilakukan pada Sabtu (3/5/2025), ini memicu kehebohan setelah video pemalangan yang diposting Hetmi Forno, viral di media sosial. Dalam video itu memperlihatkan seorang warga yang kecewa lantaran haknya atas lahan sekolah tak kunjung dibayar tuntas.
Video aksi pemalangan ini kemudian menyebar luas dan mengundang perhatian masyarakat. Banyak yang menyayangkan cara pihak sekolah menangani masalah, terlebih dana pembangunan yang begitu besar semestinya persoalan pembebasan lahan sudah dituntaskan oleh pihak sekolah.
Sekolah tersebut adalah SMA Muhammadiyah Lusuo, yang dibangun dengan dana pemerintah provinsi melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku Utara. Nilai proyek pembangunan sekolah ini juga tidak tanggung-tanggung, mencapai Rp3,4 miliar.
Reymon, pemilik sah lahan, saat dikonfirmasi mengaku telah meneguhkan hati untuk menjual 10 kapling tanahnya dengan niat tulus demi kemajuan pendidikan anak-anak di desanya.
“Awalnya saya di Papua, lalu dapat kabar dari saudara kalau ada yang butuh lahan untuk bangun sekolah. Saya pikir ini bagus untuk SDM di desa. Maka saya kasih jual 10 kapling,” ungkap Reymon, Selasa (6/5/2025).
Saat itu dia mengira, pembayaran akan dilakukan sesuai kesepakatan awal yakni Rp15 juta per kapling, dengan total nilai sebesar Rp150 juta. Tapi setelah bertatap muka dan pihak sekolah menyampaikan berbagai alasan, akhirnya disepakati pembayaran dilakukan bertahap. Untuk tahap pertama sebesar Rp 28 juta dan berjanji akan melunasi sisanya setelah dana pembangunan cair.
Namun hingga bangunan sekolah selesai dikerjakan, sisa uang yang dijanjikan tak kunjung dibayarkan. Upaya Reymon untuk menagih sisa pembayaran berulang kali tak membuahkan hasil. Akhirnya, langkah terakhir ditempuh dengan memalang pintu sekolah.
“Setiap saya tanya, jawabannya dana sudah habis. Saya kecewa. Akhirnya saya palang sekolah, karena ini hak saya. Saya tidak merusak apa pun, saya hanya tutup akses masuk sebagai bentuk protes,” tegasnya.
Di sisi lain, Kepala Sekolah SMA Muhammadiyah Lusuo, Rustam Suaibun, ketika dikonfirmasi, tidak menampik kejadian tersebut. Ia mengakui ada kelalaian dalam menyelesaikan pembayaran lahan milik Reymon.
Rustam menyebut bahwa dari total anggaran Rp3,4 miliar, dirinya hanya mengelola dana sekitar Rp1 miliar. Sisa dananya sebesar Rp 2,4 dikelola oleh seorang kontraktor bernama Mayrudin Maende.
“Memang benar, pembayaran lahan belum tuntas. Saya akui ini kelalaian dan akan dibayar. Kami berharap bisa ada solusi bersama,” ujar Rustam singkat.
Mayrudin Maende, saat dikonfirmasi menjelaskan bahwa persoalan lahan tidak ada keterkaitan dengan pekerjaan. Ia mengatakan, untuk lebih jelasnya tanyakan ke pihak sekolah.
Meski disampaikan Kepala Sekolah SMA Muhammadiyah Rustam Suaibun bahwa dana sebesar Rp 2,4 miliar dikelola oleh Mayrudin, tapi dibantahnya dan mengaku hanya membantu item pekerjaan kecil dari pembangunan sekolah yang sejatinya harus dikerjakan dengan mekanisme swakelola itu.
“Karena banyak hal yang harus diselesaikan kepala sekolah makanya saya hanya membantu siapkan tukang dan selesaikan pekerjaan-pekerjaan kecil,” timpal Mayrudin.
Sebagaimana diketahui, dampak dari aksi palang sekolah itu, para siswa terpaksa tidak bisa masuk ruang belajar.(ksm)


Tinggalkan Balasan