Mahasiswa Bantah Tuduhan Mabuk Saat Aksi di Kantor Bupati Morotai
RadarTimur.id, Morotai — Aksi unjuk rasa yang digelar oleh Gerakan Mahasiswa Pemerhati Sosial (GAMHAS) Sektor Unipas Morotai di depan Kantor Bupati Pulau Morotai pada Senin (14/07), dibubarkan paksa oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol-PP) dan pihak kepolisian. Massa aksi diduga dalam kondisi mabuk karena tercium aroma minuman keras. Namun, tudingan tersebut dibantah langsung oleh Ketua GAMHAS Sektor Unipas, M. Rifai Syahdan.
Menurut Rifai, tuduhan bahwa peserta aksi dalam kondisi mabuk adalah keliru dan merugikan citra mahasiswa. Ia menjelaskan bahwa aroma alkohol yang tercium bukan berasal dari konsumsi saat aksi, melainkan dari sisa aktivitas pada malam sebelumnya.
“Pada Minggu malam (13 Juli), kami menghadiri acara pernikahan saudara kami. Karena kelelahan, sebagian dari kami meneguk sedikit alkohol. Paginya, kami langsung menuju titik aksi tanpa sempat mandi, sehingga baju masih berbau alkohol bercampur keringat,” jelas Rifai.
Rifai juga menyayangkan pernyataan Kasatpol-PP dan Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Morotai yang menyebut para mahasiswa dalam kondisi mabuk. Ia menegaskan, mahasiswa yang tergabung dalam aksi tetap dalam keadaan sadar dan fokus menyuarakan tuntutan.
“Kami sudah sampaikan kepada pihak kepolisian bahwa tidak ada yang mabuk. Kami hanya tidak sempat bersih diri sebelum aksi dimulai. Bau itu tidak mencerminkan kondisi kami secara utuh,” tambahnya.
Aksi yang dilakukan oleh GAMHAS Sektor Unipas itu membawa lima tuntutan utama, yakni:
1. Penyelesaian pembangunan tambatan perahu di Desa Tiley Kusu
2. Penyelesaian pembangunan talud di Desa Mira, Mandiri, dan Mumujiu
3. Penyediaan transportasi bagi siswa-siswi di Desa Titigogoli
4. Pencabutan izin pertambangan di Kabupaten Pulau Morotai
5. Pembebasan 11 warga Maba Sangaji yang ditangkap dalam kasus sebelumnya
Massa aksi mengaku kecewa karena pembubaran tersebut membuat aspirasi mereka tidak tersampaikan dengan baik. Rifai berharap pemerintah daerah tidak menutup mata terhadap substansi tuntutan yang mereka bawa.
“Kami turun aksi karena ada keresahan masyarakat yang perlu ditanggapi. Sangat disayangkan jika aksi kami malah dibubarkan tanpa mengindahkan substansinya,” pungkas Rifai.(ksm)


Tinggalkan Balasan