radartimur.id

Dari Informasi ke Transformasi

Jumat, 10 Juli 2026

Muatan Balik Kapal Logistik Pelni Naik 27 Persen, Malut Jadi Kontributor Utama

RadarTimur.id – PT Pelayaran Nasional Indonesia (Persero) atau PT Pelni mencatat lonjakan signifikan dalam muatan balik logistik selama satu dekade terakhir. Dari yang semula nol persen pada tahun 2015, kini telah mencapai angka 27 persen pada pertengahan 2025.

Direktur Utama PT Pelni, Tri Andayani, menilai peningkatan tersebut sebagai sinyal positif dari perbaikan sistem distribusi logistik nasional.

“Pada awal penugasan tahun 2015, muatan balik logistik kami masih 0 persen. Dua tahun kemudian mulai naik menjadi 5 persen, dan kini telah menyentuh 27 persen. Ini peningkatan yang cukup signifikan,” ujar Tri Andayani, dilansir antaranews.com, baru-baru ini.

Menurutnya, capaian ini belum ideal karena keseimbangan logistik nasional masih timpang. Idealnya, rasio muatan berangkat dan muatan balik mencapai 50:50. Namun, dalam dua tahun terakhir, Pelni telah mencatatkan rata-rata 73 persen muatan berangkat dan 27 persen muatan balik, angka yang disebutnya jauh lebih baik dari masa awal.

Tri berharap pemerintah daerah di wilayah-wilayah yang menjadi jalur kapal logistik dapat lebih proaktif menjalin sinergi dengan para pemangku kepentingan. Hal ini penting untuk mengoptimalkan manfaat program penugasan kapal logistik.

“Efektivitas muatan balik kapal penugasan logistik ini harus terus ditingkatkan. Salah satu cara utamanya adalah melalui kolaborasi aktif antar-daerah,” jelasnya.

Lebih lanjut, dia menyebut bahwa kontribusi terbesar muatan balik berasal dari wilayah Maluku Utara. Provinsi ini kini menjadi salah satu simpul penting dalam jaringan tol laut nasional.

Sejak program ini dimulai pada 2015, Pelni telah mengangkut lebih dari 86 ribu kontainer logistik yang berisi bahan pokok dan barang penting ke berbagai pelosok Indonesia. Barang-barang yang diangkut dalam muatan balik meliputi hasil bumi seperti rumput laut, kelapa, kopra, arang, ikan, kopi, garam, kemiri, hingga besi tua.

Sementara itu, muatan berangkat didominasi oleh bahan pokok seperti beras, minyak goreng, tepung, daging, dan bawang merah, serta barang penting lainnya seperti semen, baja, pupuk, triplek, dan gas LPG.

Sebagai contoh, pada rute Tanjung Priok–Tanjung, Uban–Letung–Tarempa–Selat Lampa–Subi–Serasan–Midai–Tanjung Uban–Tanjung Perak, Pelni mencatat bahwa barang-barang seperti beras, gula, minyak goreng, dan semen diangkut dari pelabuhan asal, sedangkan muatan baliknya berupa kelapa, kopra, arang, dan hasil laut menggunakan kontainer berpendingin.

Saat ini, Pelni mengoperasikan delapan kapal logistik penugasan, lima kapal milik sendiri dan tiga dari Kementerian Perhubungan. Satu kapal tambahan disiapkan untuk menjaga kontinuitas layanan. Dari total tersebut, lima kapal melayani wilayah Indonesia Tengah, dua kapal di wilayah Timur, dan satu kapal lainnya beroperasi di kawasan Barat.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini