radartimur.id

Dari Informasi ke Transformasi

Minggu, 30 Agustus 2026

Wallace Pernah Mengubah Dunia dari Ternate, Mengapa Jejaknya Kini Menghilang?

Laporan : Ardi Kailul

Editor : Muhammad Rizal

Februari 1858 menjadi salah satu momen paling menentukan dalam sejarah ilmu pengetahuan dunia. Di sebuah rumah sederhana di Ternate, Maluku Utara, seorang naturalis asal Inggris, Alfred Russel Wallace, terbaring lemah akibat demam yang diduga malaria.

Di tengah kondisi tersebut, Wallace menulis sepucuk surat kepada Charles Darwin di Inggris. Surat yang kemudian dikenal sebagai The Ternate Letter itu kelak mengubah cara manusia memahami asal-usul kehidupan.

Saat surat dikirim, Darwin sebenarnya telah lama memikirkan gagasan tentang evolusi, tetapi belum pernah memublikasikannya. Pemikiran Wallace mengenai seleksi alam bahwa makhluk hidup yang paling mampu beradaptasi akan bertahan, sedangkan yang lemah akan tersingkir, mendorong Darwin segera menerbitkan buku On the Origin of Species pada 1859.

Peristiwa itu kemudian memunculkan perdebatan panjang mengenai siapa yang pertama kali menemukan teori evolusi melalui seleksi alam. Dunia ilmu pengetahuan akhirnya mengakui Wallace dan Darwin sebagai penemu bersama teori tersebut. Nama Darwin memang lebih populer, tetapi gagasan yang lahir dari Ternate menjadi bagian yang tak terpisahkan dari tonggak sejarah sains modern.

Bagi dunia internasional, Ternate bukan hanya dikenal sebagai pulau penghasil cengkih dan pala yang pernah diperebutkan bangsa-bangsa Eropa. Kota kecil di kaki Gunung Gamalama itu juga menjadi tempat lahirnya salah satu pemikiran ilmiah paling berpengaruh pada abad ke-19.

Selama sekitar empat tahun, Wallace menjadikan Ternate sebagai pusat pengembaraan ilmiahnya di Kepulauan Nusantara. Dari kota inilah perjalanan dilakukan ke Halmahera yang saat itu disebut Gilolo, Pulau Bacan, Obi, Seram, hingga Papua untuk mengumpulkan ribuan spesimen tumbuhan, burung, mamalia, reptil, serangga, dan berbagai satwa lainnya.

Dalam buku The Malay Archipelago, Wallace menggambarkan Ternate sebagai kota yang memiliki panorama luar biasa. Gunung Gamalama berdiri megah di belakang kota, sementara lerengnya dipenuhi pepohonan buah-buahan tropis. Rumah yang disewa tidak hanya menjadi tempat beristirahat setelah ekspedisi panjang, tetapi juga lokasi menyusun koleksi spesimen, menulis catatan ilmiah, dan mempersiapkan perjalanan berikutnya.

Dari rumah sederhana itulah lahir dua warisan besar bagi dunia ilmu pengetahuan. Selain gagasan tentang seleksi alam, Wallace juga menemukan perbedaan mendasar antara flora dan fauna di Indonesia bagian barat dan timur. Temuan tersebut melahirkan Garis Wallace, sebuah garis imajiner yang membentang di Selat Makassar hingga Selat Lombok sebagai batas persebaran satwa Asia dan Australia.

Pengamatan Wallace tidak berhenti pada tumbuhan dan satwa. Keberagaman manusia di Kepulauan Maluku juga menjadi perhatian. Penduduk Halmahera, Bacan, dan Obi disebut sebagai perpaduan ras Melayu dan Papua. Lebih dari satu abad kemudian, penelitian genetika internasional membuktikan bahwa pengamatan tersebut memiliki dasar ilmiah yang kuat.

Ironisnya, jejak Wallace di Ternate kini hampir tidak terlihat. Rumah yang diyakini pernah menjadi tempat tinggal Wallace berada di Kelurahan Santiong, Kecamatan Ternate Tengah. Bangunan tersebut kini ditempati keluarga Paunga Tjandra.

Pemilik rumah mengaku baru mengetahui nilai sejarah bangunan tersebut setelah banyak peneliti datang berkunjung. Dari bangunan lama, hanya tersisa satu tiang tembok dan bekas sumur yang telah ditutup. Sebagian besar bentuk asli rumah sudah hilang karena perubahan dari waktu ke waktu.

Banyak peneliti dari berbagai negara datang ke lokasi dengan harapan menemukan jejak tempat lahirnya teori evolusi. Namun sebagian besar pulang dengan rasa kecewa karena hampir tidak ada lagi peninggalan fisik yang dapat disaksikan.

Upaya menghidupkan kembali warisan Wallace sebenarnya pernah dilakukan. Pada 2008, Yayasan Wallacea Indonesia bersama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia menggagas pembangunan monumen Wallace di halaman rumah tersebut. Rencana itu tidak pernah terwujud akibat belum tercapainya kesepakatan mengenai pembebasan lahan.

Pada tahun yang sama, nama jalan di depan rumah sempat diubah menjadi Jalan A.R. Wallace sebagai bentuk penghormatan. Namun dua tahun kemudian nama tersebut kembali diganti menjadi Jalan Juma Puasa. Kini yang tersisa hanya sebuah gang kecil bernama Lorong Alfred Russel Wallace.

Kondisi tersebut pernah disayangkan oleh Prof. Sangkot Marzuki, Ketua Dewan Pengurus Yayasan Wallacea Indonesia. Menurutnya, Wallace merupakan tokoh besar dalam sejarah ilmu pengetahuan dunia, tetapi Ternate justru hampir tidak memiliki penanda yang layak untuk mengenang tempat lahirnya salah satu gagasan terbesar abad ke-19.

Padahal, di banyak negara, rumah, meja kerja, hingga benda-benda sederhana yang pernah digunakan ilmuwan besar dijaga sebagai warisan sejarah dan menjadi destinasi pendidikan.

Rumah tua di Santiong sesungguhnya bukan sekadar bangunan biasa. Tempat itu adalah saksi lahirnya sebuah surat yang mengubah arah sejarah ilmu pengetahuan dunia. Dari Ternate, sebuah kota kecil di timur Indonesia, lahir gagasan yang kemudian mengubah cara manusia memahami kehidupan di bumi. Namun hingga kini, jejak sejarah besar tersebut masih berjalan sunyi, seolah terlupakan di negeri tempat semuanya bermula.(*)