Setelah Kelapa, Halut Bidik Hilirisasi Pala Lewat Riset UGM
RadarTimur.id, Tobelo — Pemerintah Kabupaten Halmahera Utara (Halut) Provinsi Maluku Utara (Malut), terus memperkuat strategi hilirisasi komoditas unggulan sebagai penggerak ekonomi daerah.
Setelah berhasil memulai hilirisasi kelapa, kini fokus pembangunan diarahkan pada komoditas pala melalui kolaborasi riset dengan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta untuk menghasilkan bibit unggul berbasis teknologi klonal yang diproyeksikan mampu meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani.
Komitmen tersebut ditandai dengan peninjauan kebun pala di Desa Kusuri, Kecamatan Tobelo Barat, Selasa (14/7/2026), yang dipimpin langsung Bupati Halut Piet Hein Babua bersama tim peneliti UGM.
Turut mendampingi Bupati, Sekretaris Daerah E.J. Papilaya, Kepala Dinas Pertanian Piet Hein Onthony, Kepala Dinas Kominfo Yandre Sumtaki, perwakilan Badan Litbang Willi Kalaty, Camat Tobelo Barat, serta jajaran perangkat daerah. Dari UGM hadir Prof. Dr. Tri Kuntoro Priyambodo, M.Sc., Prof. Agus Budi Setiawan, beserta tim peneliti.
Bupati Piet mengatakan kerja sama tersebut merupakan bagian dari pelaksanaan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Kabupaten Halut yang menempatkan kelapa dan pala sebagai komoditas strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Menurut Bupati, hilirisasi kelapa telah berjalan sejak tahun lalu, sedangkan pengembangan pala kini memasuki tahap penyiapan bahan baku berkualitas melalui teknologi pembibitan klonal.
“Kita membutuhkan pala yang berkualitas untuk masuk ke tahap hilirisasi. Karena itu pemerintah daerah bekerja sama dengan UGM mengembangkan bibit sistem klonal melalui sambung pucuk. Selama ini petani menggunakan bibit dari biji, sementara metode klonal diharapkan menghasilkan tanaman yang lebih produktif,” ujarnya.
Melalui kerja sama tersebut, Pemkab Halut bersama UGM juga sedang mengembangkan varietas unggul baru yang diberi nama GAMAPALATO (Gadjah Mada Pala Tobelo). Varietas itu kini memasuki tahap identifikasi dan pengembangan di sejumlah sentra pala, di antaranya Tobelo dan Galela.
Bupati menjelaskan, teknologi klonal diyakini mampu menghasilkan tanaman yang lebih cepat berbuah dengan produktivitas yang lebih tinggi. Bibit unggul nantinya akan diperbanyak dan disalurkan kepada petani disertai pendampingan budidaya.
“Harapannya dalam dua hingga tiga tahun tanaman sudah mulai berbuah sehingga mampu meningkatkan produksi dan pendapatan petani,” katanya.
Untuk mendukung program tersebut, pemerintah daerah juga telah menginstruksikan seluruh organisasi perangkat daerah terkait agar memberikan dukungan penuh kepada tim peneliti UGM sehingga pengembangan pala benar-benar memberikan dampak nyata bagi masyarakat Halut.
Sementara itu, Ketua Tim Peneliti UGM, Prof. Tri Kuntoro Priyambodo, menjelaskan penelitian tersebut didanai melalui skema hibah sinergi sebagai bentuk dukungan terhadap program hilirisasi pala yang menjadi prioritas pembangunan Kabupaten Halut.
Menurutnya, tahap awal penelitian diawali dengan pemetaan lahan menggunakan teknologi drone guna mengidentifikasi kawasan yang paling sesuai untuk pengembangan pala unggul.
Setelah itu, pengembangan akan berlanjut pada penataan tata kelola agribisnis hingga pengolahan hasil. Salah satu produk yang menjadi target adalah minyak atsiri pala yang memiliki nilai ekonomi jauh lebih tinggi dibandingkan penjualan buah pala dalam bentuk mentah.
“Ke depan pala tidak hanya dijual sebagai bahan mentah, tetapi diolah menjadi produk bernilai tambah sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan petani,” jelas Prof. Tri.
Profesor Agus Budi Setiawan menambahkan Halut memiliki sumber daya genetik pala yang sangat kaya sehingga berpotensi melahirkan varietas unggul baru.
“Melalui metode klonal seperti sambung pucuk, stek, dan kultur jaringan, tim peneliti akan menyeleksi pohon-pohon terbaik untuk dikembangkan secara massal,” ujarnya.
Lanjut dia, langkah tersebut menjadi fondasi penting dalam membangun budidaya pala yang modern, presisi, dan berkelanjutan sebagai bagian dari integrasi sektor hulu hingga hilir.
Dalam kesempatan itu, tim peneliti juga memperkenalkan Vertic Air, pesawat tanpa awak yang digunakan untuk pemetaan kawasan perkebunan, pemantauan lahan, serta mendukung perencanaan pengembangan komoditas pala berbasis data. Teknologi tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan Pemerintah Kabupaten Halut untuk mempercepat transformasi sektor pertanian menuju sistem yang lebih modern dan efisien.(val)

