Kisah Esau Sidemo: Hampir Sebulan Hilang di Perairan Ternate, Ditemukan Selamat di Jalur Pelayaran Internasional
Laporan : Ardi Kailul
Editor : Muhammad Rizal
Tak ada yang lebih panjang daripada penantian sebuah keluarga yang kehilangan orang tercinta di tengah lautan. Selama hampir satu bulan, keluarga Esau Sidemo (57) hanya bisa menggantungkan harapan pada doa. Nelayan asal Kelurahan Bido, Kecamatan Pulau Batang Dua, Kota Ternate, itu menghilang sejak 7 Juli 2026 setelah melaut di sekitar perairan Pulau Mayau dan tak pernah kembali ke rumah.
Hari demi hari berlalu tanpa kabar. Basarnas, TNI AL, Polairud, hingga masyarakat setempat menyisir berbagai titik di laut. Analisis arus memperkirakan perahu Esau hanyut hingga ke sekitar Pulau Dama, Kabupaten Halmahera Utara. Namun luasnya lautan membuat setiap pencarian terasa seperti mencari setitik harapan di hamparan samudra.
Ketika harapan mulai menipis, kabar yang dinanti akhirnya datang pada Minggu (2/8/2026). Esau ditemukan dalam keadaan selamat oleh kapal berbendera Prancis, LNG Endeavour, yang diawaki kru berkewarganegaraan Spanyol. Saat ditemukan, kapal tersebut sedang berlayar dari Australia menuju Terminal LNG Yangshan, Shanghai, Tiongkok, dan diperkirakan tiba pada 7 Agustus 2026.
Kabar itu pertama kali disampaikan keluarga melalui unggahan akun Facebook milik Prakasa Hopni Saribu. Dalam unggahan tersebut dijelaskan bahwa Esau berhasil bertahan hidup setelah sekitar 25 hari terombang-ambing di lautan.
Di balik kabar bahagia itu tersimpan sebuah kisah penyelamatan yang nyaris sulit dipercaya.
Melalui pesan yang dikirimkan kepada keluarga, kapten kapal menceritakan bahwa perahu kecil yang ditumpangi Esau sama sekali tidak terdeteksi oleh radar.
“Perahu kecilnya sama sekali tidak dapat terdeteksi oleh radar kami. Kami tidak bisa melihatnya di peralatan navigasi kami. Ia ditemukan semata-mata karena ketelitian salah satu awak kapal kami yang melihatnya secara langsung,” tulis sang kapten.
Di tengah jalur pelayaran internasional yang begitu luas, penyelamatan itu bermula dari sepasang mata yang jeli. Seorang awak kapal yang sedang berada di luar geladak melihat sebuah titik kecil mengapung di kejauhan. Bukan radar, bukan alarm navigasi, melainkan pengamatan langsung yang kemudian menyelamatkan satu nyawa.
Kapal segera memutar haluan menuju lokasi. Namun ketika bantuan mulai mendekat, Esau justru melompat ke laut, sementara perahu kecilnya terus hanyut menjauh mengikuti arus.
Para kru memilih mengutamakan keselamatan Esau. Beberapa pelampung segera dilemparkan ke laut hingga salah satunya berhasil diraih. Karena pelampung itu masih terhubung dengan tali penyelamat, Esau perlahan ditarik mendekati lambung kapal.
Gangway atau tangga kapal kemudian diturunkan. Dalam kondisi fisik yang nyaris tak bertenaga, Esau dibantu naik ke atas geladak.
“Saat itu kondisinya sangat lemah dan hampir tidak mampu menggerakkan kakinya. Begitu berhasil naik ke kapal, ia langsung berbaring di atas geladak,” ungkap kapten.
Awak kapal segera membungkus tubuhnya dengan handuk kering dan selimut untuk mengembalikan suhu tubuh. Setelah diberi sedikit air minum dan kondisinya mulai stabil, Esau dibawa ke rumah sakit kapal guna menjalani pemeriksaan lebih lanjut.
Karena kapal masih berada di tengah pelayaran, kapten menghubungi dokter di Prancis melalui layanan konsultasi medis jarak jauh. Foto-foto kondisi Esau dikirim sebagai bahan penanganan. Dokter kemudian memberikan arahan mengenai perawatan luka, pemberian obat-obatan, hingga pola makan yang harus dilakukan secara bertahap setelah berhari-hari kekurangan asupan.
Setelah kondisinya membaik, Esau ditempatkan di sebuah kabin pribadi agar dapat beristirahat dengan nyaman.
Hari demi hari, kesehatannya terus menunjukkan perkembangan. Menurut kapten kapal, Esau kini sudah mampu berjalan mengelilingi kapal, mandi, mencukur janggut, mengenakan pakaian bersih yang disediakan awak kapal, hingga kembali menikmati makanan.
“Ia tampaknya menyukai makanan yang kami sajikan di kapal,” tulis sang kapten.
Bagi kru LNG Endeavour, penyelamatan itu merupakan peristiwa yang sangat langka. Di tengah samudra yang begitu luas, peluang bertemu sebuah perahu nelayan kecil hampir mustahil, terlebih ketika objek tersebut sama sekali tidak tertangkap radar.
“Kami semua sangat bersyukur dapat menolong beliau. Ia benar-benar memiliki kesempatan yang mungkin hanya satu banding sejuta untuk bisa diselamatkan. Saya percaya Tuhan sangat mengasihinya dan memberikan kami kesempatan untuk menyelamatkan hidupnya,” ujar kapten.
Kapten juga berharap seluruh proses administrasi dapat segera diselesaikan sehingga Esau bisa dipertemukan kembali dengan keluarganya di Indonesia.
Di Pulau Batang Dua, kabar itu disambut dengan tangis syukur. Penantian panjang yang selama berminggu-minggu dipenuhi kecemasan akhirnya berganti dengan rasa lega.
Mewakili keluarga, Prakasa Hopni Saribu berharap Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia bersama Kedutaan Besar Republik Indonesia dapat membantu mempercepat proses pemulangan Esau.
“Puji Tuhan yang tak terhingga, keluarga kami yang hilang sejak 7 Juli 2026 telah ditemukan dalam keadaan selamat. Kami memohon kepada Kedutaan Besar Republik Indonesia agar dapat membantu proses kepulangan beliau ke Indonesia secepatnya,” ujarnya.
Di tengah luasnya samudra, kisah Esau Sidemo mengingatkan bahwa secanggih apa pun teknologi tidak selalu mampu menemukan setiap kehidupan. Terkadang, harapan hadir dari sesuatu yang sederhana yaitu ketelitian seorang manusia yang melihat apa yang tak mampu ditangkap radar.
Dari pengamatan itulah, seorang nelayan asal Pulau Batang Dua memperoleh kesempatan kedua untuk kembali pulang kepada keluarganya.(*)

