Edison Makatulung Dorong Demianus Ice Pimpin PIKI Malut
RadarTimur.id, Tobelo — Dinamika bursa calon Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Persatuan Inteligensia Kristen Indonesia (PIKI) Maluku Utara (Malut) mulai mendapat perhatian dari kalangan intelektual dan aktivis organisasi Kristen.
Salah satu yang memberikan pandangan adalah Edison Makatulung, mantan Bendahara Cabang GMKI Tobelo masa bakti 2010–2012 sekaligus Ketua Tim Pemenangan calon Ketua PIKI Halmahera Utara, Melky Molle.
Edison menilai seluruh kandidat yang muncul memiliki kapasitas, kompetensi, dan rekam jejak yang layak diperhitungkan. Karena itu, kontestasi kepemimpinan PIKI Malut dinilai tidak semestinya hanya dilihat dari pengalaman organisasi, tetapi juga dari kemampuan membangun komunikasi dan jejaring yang luas.
“Kompetensi dan jejak rekam tentu menjadi indikator penting. Tetapi pengaruh dan jejaring juga sangat penting,” ujar Edison, Jumat (9/10/2026).
Menurut dia, PIKI bukan sekadar organisasi yang menjadi tempat berhimpunnya para intelektual Kristen. Lebih dari itu, PIKI diharapkan menjadi ruang untuk mempertemukan gagasan, pengalaman, dan kapasitas intelektual dalam merespons berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat Malut.
Dalam konteks tersebut, Edison melihat Ketua Sinode GMIH, Pdt. Demianus Ice, sebagai salah satu figur yang memiliki potensi representasi kuat untuk memimpin PIKI Malut.
Edison menilai posisi dan pengalaman Demianus Ice dapat membuka ruang komunikasi yang lebih luas dengan berbagai elemen gereja, organisasi, maupun kelompok intelektual Kristen di Malut.
Namun, menurut Edison, pertimbangan terhadap Demianus Ice tidak semata-mata didasarkan pada jabatan yang sedang diembannya. Hal yang lebih penting adalah kemampuan seorang pemimpin menjadi titik temu bagi berbagai latar belakang, kapasitas, dan jejaring yang ada.
“Karena itu, menurut saya, Pdt. Dr. Demianus Ice merupakan pilihan representasi untuk mengakomodir semua inteligensia Kristen di Maluku Utara,” kata Edison.
Dia menilai kepemimpinan PIKI ke depan membutuhkan figur yang mampu merangkul berbagai perbedaan tanpa menghilangkan karakter PIKI sebagai organisasi intelektual Kristen.
Edison juga menegaskan, seluruh kandidat tetap memiliki hak dan peluang yang sama untuk menawarkan gagasan terbaik dalam proses pemilihan. Kontestasi tersebut diharapkan menjadi ruang untuk menguji gagasan, kapasitas, dan rekam pengabdian masing-masing kandidat.
Menurut dia, siapa pun yang terpilih nantinya menghadapi tantangan untuk menghubungkan berbagai jejaring intelektual Kristen di Malut. Karena itu, kepemimpinan PIKI diharapkan tidak berhenti pada persoalan siapa yang memenangkan kontestasi, tetapi mampu menjadikan organisasi sebagai rumah bersama bagi kaum intelektual Kristen sekaligus memberi kontribusi nyata bagi daerah.(val)

