radartimur.id

Dari Informasi ke Transformasi

Kamis, 9 Juli 2026

Membaca Identitas Lewat Buku

Oleh: Muhammad Rizal

Tobelo, Halmahera Utara

Malam itu, Jumat (5/9/2025), rumah dinas Wakil Bupati Halmahera Utara, Provinsi Maluku Utara, tampak berbeda dari biasanya. Kursi-kursi tersusun rapi, tamu berdatangan sejak senja. Para akademisi, tokoh masyarakat, jajaran Forkopimda, hingga anak-anak muda memenuhi halaman. Lampu-lampu gantung memancarkan cahaya hangat, memberi nuansa akrab, jauh dari kesan formal dan kaku. Namun justru di balik suasana santai itu, terselip sebuah momentum penting, peluncuran buku terbaru Wakil Bupati Halut, Kasman Hi. Ahmad, yang diberi judul Pendidikan sebagai Strategi Kebudayaan.

Bupati Halut, Piet Hein Babua, hadir membuka acara. Tak sekadar memberi sambutan, melainkan menyampaikan apresiasi khusus kepada wakilnya. “Seorang pemimpin yang sibuk melayani masyarakat tapi masih sempat menulis karya ilmiah yang bisa mengilhami kebijakan, khususnya di bidang pendidikan, adalah sesuatu yang luar biasa,” ujarnya, disambut tepuk tangan hadirin.

Menurut Bupati Piet, judul buku itu tak sekadar pilihan akademik, tapi sekaligus cerminan visi-misi pemerintahannya yang dirumuskan dalam satu kata, SETARA (sehat, terdidik, berbudaya, aman, dan sejahtera).

Pendidikan dan Bahasa Daerah

Bupati Piet memanfaatkan momentum ini untuk menegaskan arah kebijakan yang tengah di perjuangkan. Menurutnya, pendidikan tak bisa dilepaskan dari kebudayaan lokal. Bahkan, dirinya berjanji mendorong lahirnya Perda tentang wajib berbahasa daerah di jenjang pendidikan dasar hingga menengah pertama.

“Bahasa adalah identitas komunitas. Jika tidak dijaga, kita akan kehilangan jati diri,” tegasnya.

Baginya, keberadaan bahasa daerah bukan sekadar simbol kultural, melainkan instrumen pendidikan karakter, “Ke depan, salah satu kebijakan yang kami dorong adalah wajib berbahasa daerah dalam pendidikan dasar sembilan tahun. Itu bagian dari menjaga akar budaya kita,” katanya.

Pernyataan itu sontak menguatkan suasana acara bahwa peluncuran buku bukan hanya selebrasi intelektual seorang wakil bupati, tapi juga titik tolak kebijakan daerah yang berorientasi pada kebudayaan, “Momentum bersejarah,” begitu Piet menyebutnya.

Suasana di Malam Perayaan Ultah ke-55, Wabup Halut Kasman Hi Ahmad

Buku, Ulang Tahun dan Rasa Syukur

Wabup Kasman sendiri tak bisa menyembunyikan kegembiraannya. Malam itu, tampil dengan wajah penuh syukur, “Saya memang meminta kepada Bupati agar peluncuran buku ini bertepatan dengan hari kelahiran saya. Alhamdulillah, bisa terlaksana,” katanya, sembari tersenyum.

Buku ini menjadi karya kesembilannya. Tahun sebelumnya, sudah menerbitkan Maluku Utara dalam Dimensi Sosial dan Spiritual di Era Disrupsi. Konsistensinya menulis di tengah kesibukan sebagai pejabat publik membuat Wabup Kasman, punya tempat tersendiri di kalangan intelektual Maluku Utara.

Buku Pendidikan sebagai Strategi Kebudayaan berisi gagasan bahwa pendidikan tak boleh dipandang sebagai instrumen semata, melainkan strategi jangka panjang untuk membangun kebudayaan. Menariknya, 50 persen isi buku ini berasal dari tesis S2 Kasman. Dengan mengkaji tradisi pangaji dalam Islam serta sekolah Minggu di kalangan Kristiani di Ternate.

Menurutnya, kedua tradisi pendidikan berbasis agama ini telah menjadi fondasi penting dalam membentuk peradaban lokal di Halmahera Utara.

“Pendidikan berbasis tradisi keagamaan inilah yang sejak dulu membangun identitas kita, dan memberi arah bagi perkembangan kebudayaan,” ujarnya.

Ruang Diskursus, Bukan Seremoni

Peluncuran buku ini tak berhenti di sambutan seremonial. Sejumlah akademisi hadir membedah isi buku, memberi catatan kritis, sekaligus memperkaya diskusi. Bagi Wabup Kasman, forum semacam ini jauh lebih penting ketimbang sekadar perayaan.

“Saya berharap diskusi ini bisa memperluas khazanah pengetahuan kita, memperkaya perspektif, dan menjadi ruang bersama untuk membicarakan bagaimana pendidikan bisa menjadi strategi kebudayaan,” katanya.

Suasana diskusi malam itu memperlihatkan sebuah paradoks yang jarang terjadi di daerah. Seorang wakil bupati duduk sebagai penulis, bukunya diperdebatkan secara intelektual, dan bupati menjadikannya dasar kebijakan. Kombinasi yang membuat peluncuran buku terasa lebih hidup, lebih bermakna.

Dari Halmahera Utara untuk Indonesia

Gagasan yang dibawa Kasman bukanlah hal baru dalam wacana nasional. Sejak lama, para pemikir pendidikan menekankan pentingnya keterhubungan antara sekolah dan kebudayaan. Namun, di Halmahera Utara, gagasan itu menemukan konteks lokalnya. Perda bahasa daerah, tradisi pendidikan agama, dan visi SETARA menjadi contoh konkret bagaimana teori bisa turun ke kebijakan.

Dari sebuah rumah dinas di Tobelo, gagasan itu dipentaskan. Buku kesembilan seorang wakil bupati menjelma simbol bahwa kebijakan bisa lahir dari refleksi intelektual, dan pembangunan bisa tumbuh dari akar budaya sendiri.

Malam itu, di tengah tepuk tangan hadirin dan lilin kecil ulang tahun yang menyala, terselip sebuah pesan, di Halmahera Utara, pendidikan dan kebudayaan bukan sekadar jargon, tapi sedang diposisikan sebagai pilar peradaban.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini