radartimur.id

Dari Informasi ke Transformasi

Kamis, 9 Juli 2026

Langkah Terjal Oba Selatan Menuju Oba: Potret Ketidakpedulian Pemerintah

Oleh: M. Ghazali Faraman

Mahasiswa Hukum Unkahir

Jalan penghubung antara Kecamatan Oba Selatan dan Oba kini menjadi saksi bisu betapa beratnya perjuangan warga dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Lubang menganga, jalan berlumpur saat hujan, dan debu tebal ketika kering seolah menjadi pemandangan yang sudah menyatu dengan keseharian.

Bertahun-tahun warga menaruh harapan pada janji perbaikan, namun kenyataan di lapangan justru menunjukkan sebaliknya. Jalan utama yang seharusnya menjadi urat nadi ekonomi dan sosial itu kini menjelma menjadi lintasan penuh penderitaan.

‎Setiap kali hujan mengguyur, jalur ini berubah menjadi kubangan lumpur yang sulit dilewati kendaraan roda dua maupun roda empat. Tidak jarang, para pengendara roda dua harus menuntun sepeda motor mereka.

Sementara itu, para petani yang mengangkut hasil kebun seperti cengkeh, pala, sayuran, dan kopra harus berjibaku dengan jalan rusak yang memakan waktu dan tenaga lebih banyak. “Kalau hujan, jalan ini seperti kubangan kerbau. Kami sudah anggap biasa jatuh di lumpur”.

‎Ketika musim kemarau datang, penderitaan warga tak serta-merta berakhir. Jalan yang sama kini diselimuti debu tebal. Setiap kali kendaraan lewat, awan debu membumbung tinggi dan mengganggu pernapasan warga sekitar. Rumah-rumah di pinggir jalan pun tertutup lapisan debu kecokelatan. Kondisi ini bukan hanya soal ketidaknyamanan, tetapi juga mengancam kesehatan masyarakat, terutama anak-anak dan lansia.

‎Kerusakan jalan ini bukan hal baru. Warga mengaku telah berkali-kali menyampaikan aspirasi kepada pemerintah kota maupun provinsi, namun belum ada realisasi nyata. Janji perbaikan hanya datang setiap menjelang pemilihan umum, sementara setelah itu, semuanya kembali sunyi. “Kami bukan minta jalan mulus seperti di kota, cukup bisa dilalui tanpa takut tergelincir atau rusak kendaraan. Tapi sampai sekarang belum juga diperbaiki”.

‎Dampaknya kini semakin luas. Akses ekonomi terhambat, biaya transportasi meningkat. Sopir angkutan umum enggan melayani rute ke daerah-daerah tertentu karena risiko kerusakan kendaraan terlalu tinggi.

Akibatnya, warga harus membayar ongkos lebih mahal untuk sekadar bepergian atau mengangkut hasil bumi. Kondisi ini memperparah kesenjangan ekonomi antara warga Oba Selatan dan wilayah lain yang lebih maju infrastrukturnya.

‎Di sisi lain, beberapa tokoh masyarakat menilai bahwa lambannya perbaikan jalan ini mencerminkan lemahnya perhatian pemerintah terhadap pembangunan di kawasan perbatasan kota.

Padahal wilayah Oba Selatan punya potensi besar, baik dari sektor pertanian, maupun perkebunan. Tapi tanpa infrastruktur yang layak, semua itu hanya jadi mimpi.‎

‎Menanggapi keluhan warga, pihak pemerintah daerah sempat menyebut bahwa perbaikan jalan tersebut akan dimasukkan dalam rencana kerja tahunan. Namun hingga kini, tak ada kejelasan waktu maupun anggaran yang pasti. Sementara itu, masyarakat terus menunggu, berharap agar perhatian pemerintah tidak hanya berhenti di atas kertas.

‎Jalan Oba Selatan menuju Oba bukan sekadar jalur penghubung antarwilayah. Ia adalah nadi kehidupan bagi ribuan warga yang menggantungkan harapan di atas tanah yang mereka pijak.

Setiap lubang di jalan itu seolah menjadi simbol ketimpangan pembangunan dan bukti nyata bahwa masih ada bagian dari negeri ini yang belum merasakan sentuhan keadilan sosial.

‎Kini, langkah Oba Selatan menuju Oba benar-benar terjal, bukan hanya karena jalan yang rusak, tetapi juga karena beban ketidakpedulian yang terus menumpuk. Pemerintah perlu membuka mata dan hati, sebab pembangunan sejati bukan diukur dari gedung tinggi di pusat kota, melainkan dari seberapa mulus jalan yang mengantarkan rakyat menuju kehidupan yang lebih layak.