Mengenang Ater Tjaja Lewat “Reinventing Maluku Utara”
RadarTimur.id, Tobelo — Persatuan Intelegensia Kristen Indonesia (PIKI), Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), dan Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) Kabupaten Halmahera Utara menggelar launching buku berjudul Reinventing Maluku Utara, Senin (10/8/2026).
Kegiatan tersebut menjadi bentuk penghormatan terhadap Alm. Pdt. Dr. Ater Tjaja, sekaligus mengenang pemikiran dan karya ilmiah terakhir sebelum berpulang. Buku tersebut menghimpun gagasan sekitar 15 penulis yang membahas berbagai aspek Maluku Utara, mulai dari budaya, sejarah, politik, pangan, hingga pengembangan sumber daya manusia.
Launching buku dihadiri Wakil Bupati (Wabup) Halmahera Utara, Kasman Haji Ahmad, serta Ketua PIKI Maluku Utara, Apner Nones. Kehadiran sejumlah elemen organisasi intelektual dan kepemudaan tersebut memperlihatkan pentingnya ruang diskusi dalam membaca kembali arah pembangunan Maluku Utara.
Wabup Kasman menilai Reinventing Maluku Utara memberikan perspektif bagi pembaca untuk melihat kembali potensi dan identitas daerah secara lebih dekat. Menurutnya, gagasan yang dituangkan dalam buku tersebut tidak hanya berbicara mengenai kondisi Maluku Utara saat ini, tetapi juga menawarkan cara pandang terhadap masa depan daerah.
“Buku ini memberikan jalan bagi pembaca untuk kembali melihat jejak Maluku Utara yang lebih dekat. Kurang lebih 15 orang menulis tentang budaya, sejarah, politik, pangan sampai pengembangan sumber daya manusia,” ujar Kasman.
Menurutnya, buku tersebut juga menggambarkan identitas Maluku Utara yang terus berkembang. Karena itu, gagasan yang dituangkan di dalamnya dinilai penting untuk menjadi bahan refleksi bagi berbagai pihak, terutama pemerintah dalam menyusun kebijakan pembangunan.
Dia berharap Reinventing Maluku Utara dapat menjadi panduan sekaligus catatan kritis bagi pemerintah dalam menata layanan dan pembangunan daerah. Pemikiran yang terkandung di dalam buku, menurutnya, dapat digunakan sebagai salah satu referensi dalam membaca peta perkembangan Maluku Utara.
“Kita yang cukup memahami peta perkembangan Maluku Utara perlu menjadikan ini sebagai catatan kritis dan kompas dalam melaksanakan pembangunan serta tata kelola pemerintahan yang direkonstruksi bersama untuk Maluku Utara yang lebih baik,” katanya.
Selain pemerintah, Wabup Kasman mendorong buku tersebut menjadi referensi bagi kalangan akademisi, mahasiswa, dan dosen. Menurutnya, tradisi intelektual melalui tulisan perlu terus dikembangkan agar gagasan mengenai pembangunan daerah tidak berhenti pada ruang diskusi, tetapi dapat menjadi pertimbangan dalam perumusan kebijakan.
Sementara itu, Ketua PIKI Maluku Utara Apner Nones mengatakan buku tersebut memiliki nilai penting karena menjadi bagian dari karya Alm. Ater Tjaja bersama sejumlah kader GMKI. Bagi PIKI, launching tersebut sekaligus menjadi bentuk penghormatan kepada Ater yang pernah menjadi bagian dari Junior GMKI dan salah satu dewan pakar PIKI.
“Buku ini ditulis oleh Ater dan beberapa kader GMKI, sehingga perlu diberikan apresiasi yang tinggi. Ini kebanggaan tersendiri bagi saya dan terutama bagi Civitas PIKI Maluku Utara,” ujarnya.
Abner menilai budaya kritis dan tradisi intelektual yang diwariskan melalui buku tersebut tidak boleh berhenti pada kegiatan launching. Organisasi kemahasiswaan dan kepemudaan didorong terus menciptakan ruang berpikir, menulis, berdiskusi, dan mengkritisi berbagai persoalan pembangunan.
Menurutnya, buku Reinventing Maluku Utara juga menitipkan pesan mengenai arah pembangunan daerah, termasuk kritik terhadap persoalan ekosistem, pertambangan, dan berbagai isu ekologis yang dihadapi Maluku Utara.
“Ini adalah perpanjangan konsep peta Maluku Utara sehingga pemerintah bisa mengimplementasikannya dalam kegiatan dan program. Ada juga kritik tentang ekosistem berupa pertambangan dan seluruh hal yang berkaitan dengan ekologis. Buku ini menitipkan pesan yang luar biasa, seakan-akan Ater menitipkan Maluku Utara kepada kita semua,” ungkapnya.
Dia menambahkan, pemikiran yang dituangkan dalam buku tersebut merupakan bagian dari nilai akademis yang dapat dikembangkan di tengah masyarakat maupun organisasi pergerakan. Tradisi menulis dinilai penting untuk membangun basis intelektual sekaligus memperkuat peran pemuda dalam mengawal berbagai persoalan daerah.
“Bagi pemuda Kristen, saya kira Alm. Ater sudah memulai sehingga hal ini wajib diteruskan oleh seluruh pemuda dan khususnya kader GMKI. Kalian harus terus menulis, sehingga bisa menjadi basis kemahasiswaan dalam bergerak dan bermasyarakat. Dengan menulis, kalian akan terus bernilai,” pungkas Nones.(val)



