35 Tahun Menempa Diri, Muksin Thalib Bawa Kadin Malut ke Babak Baru
RadarTimur.id, Ternate — Tiga puluh lima tahun bukan waktu yang singkat untuk menempa diri di dunia usaha. Dari sektor konstruksi hingga energi, Muksin Thalib melewati berbagai fase bisnis sebelum akhirnya dipercaya memimpin Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Provinsi Maluku Utara periode 2026–2031.
Muksin resmi dilantik sebagai Ketua Kadin Maluku Utara oleh Ketua Umum Kadin Indonesia, Anindya Bakrie, di Ternate pada 25 Juli 2026. Sebelumnya, dia terpilih secara aklamasi dalam Musyawarah Provinsi (Musprov) V Kadin Maluku Utara.
Jauh sebelum memimpin organisasi dunia usaha, Muksin lebih dulu membangun namanya sebagai pengusaha. Sekitar tiga dekade lalu, dia memulai usaha dari sektor jasa konstruksi sebagai general kontraktor.
Saat itu, persaingan bisnis konstruksi di Maluku Utara cukup ketat. Bagi Muksin, kondisi tersebut bukan alasan untuk mundur, melainkan bagian dari proses panjang untuk membangun daya tahan dan kepercayaan dalam dunia usaha.
Dia bertahan, memperluas jaringan dan perlahan mengembangkan usaha. Dari pengalaman itulah terbentuk cara pandangnya dalam membaca peluang, menghadapi persaingan serta menjaga keberlangsungan bisnis.
Perjalanan bisnisnya kemudian melebar ke sektor energi. Muksin dipercaya mengelola distribusi bahan bakar minyak (BBM) untuk memenuhi kebutuhan pembangkit listrik PLN di Kota Ternate.
Bisnis tersebut menuntut pengelolaan tenaga kerja dan armada operasional yang tidak sedikit. Puluhan karyawan terlibat dalam kegiatan usaha, didukung sejumlah mobil tangki berkapasitas sekitar 5 hingga 10 ton untuk memasok BBM ke pembangkit listrik.
Pengalaman panjang itu kini menjadi bekal Muksin dalam membawa Kadin Maluku Utara memasuki babak baru. Baginya, Kadin tidak cukup hanya menjadi tempat berkumpulnya pengusaha. Organisasi tersebut harus mampu mempertemukan kepentingan dunia usaha dengan pemerintah dan investor.
“Kadin harus hadir sebagai mitra strategis pemerintah. Kita ingin dunia usaha tidak hanya menjadi penonton, tetapi ikut mengambil bagian dalam pembangunan ekonomi Maluku Utara.” ujar Muksin, Kamis (20/8/2026).
Salah satu perhatian utamanya adalah pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Kadin mendorong terbukanya akses permodalan yang lebih luas melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR) terintegrasi dengan menggandeng lembaga perbankan, termasuk Bank Tabungan Negara (BTN).
Namun, bagi Muksin, persoalan UMKM tidak selesai hanya dengan menyediakan modal. Pelaku usaha juga membutuhkan pendampingan, penguatan manajemen dan akses pasar.
“Pendekatannya tidak boleh berhenti pada pemberian modal. Kita harus tahu siapa pelaku usahanya, apa kebutuhannya, bagaimana usahanya berjalan dan pasar yang bisa mereka masuki. Karena itu, pendataan dan pendampingan menjadi penting.” katanya.
Pendekatan tersebut mulai diarahkan kepada pelaku usaha kecil, termasuk puluhan lapak di kawasan Ngara Lamo, Ternate. Kadin berupaya memetakan kebutuhan mereka agar program pembinaan benar-benar menjawab persoalan yang dihadapi.
Bagi Muksin, UMKM harus didorong untuk naik kelas. Modal memang penting, tetapi usaha yang berkelanjutan membutuhkan kemampuan mengelola bisnis, kepastian pasar dan pendampingan.
“Kita ingin UMKM Maluku Utara bukan hanya bertahan, tetapi tumbuh dan naik kelas. Kalau usahanya berkembang, tenaga kerja bertambah, omzet meningkat, maka dampaknya akan kembali kepada ekonomi masyarakat.” ujarnya.
Selain UMKM, investasi menjadi agenda yang ingin diperkuat. Kadin Maluku Utara diarahkan menjadi penghubung antara potensi daerah dengan jaringan investor nasional maupun global.
Muksin mulai membuka komunikasi dengan sejumlah tokoh bisnis untuk menjajaki peluang investasi di sektor perumahan rakyat, kesehatan dan pendidikan. Namun, investasi yang masuk menurutnya harus memberi ruang yang lebih besar bagi pengusaha lokal.
“Investasi jangan sampai hanya membawa modal dari luar, lalu masyarakat dan pengusaha lokal berada di luar rantai bisnis. Kita ingin pengusaha daerah ikut menjadi bagian dari proses investasi itu,” tegasnya.
Bagi Muksin, investasi ideal bukan sekadar menghadirkan modal. Lebih jauh, investasi harus mampu menciptakan lapangan kerja, menghidupkan usaha lokal dan memberikan dampak ekonomi yang dirasakan masyarakat.
Karena itu, penguatan hubungan Kadin dengan Pemerintah Provinsi Maluku Utara di bawah kepemimpinan Gubernur Sherly Tjoanda menjadi bagian penting dari agenda tersebut. Sinergi pemerintah dan dunia usaha diperlukan untuk memetakan sektor prioritas sekaligus membuka peluang baru bagi perekonomian daerah.
Kadin juga ingin mendorong komoditas unggulan Maluku Utara memiliki akses yang lebih luas ke pasar internasional. Penguatan ekspor dinilai penting agar potensi daerah tidak hanya menghasilkan bahan baku, tetapi memberikan nilai ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat dan pelaku usaha.
Di internal organisasi, pekerjaan Muksin juga tidak ringan. Konsolidasi kepengurusan hingga kabupaten dan kota menjadi salah satu agenda penting agar Kadin tidak hanya kuat di tingkat provinsi, tetapi benar-benar hadir di tengah pelaku usaha daerah.
“Kadin tidak boleh hanya hidup di tingkat provinsi. Kita harus hadir sampai ke kabupaten dan kota, mendengar persoalan pengusaha di daerah dan membawa persoalan itu menjadi bagian dari agenda bersama.” katanya.
Kini, perjalanan 35 tahun Muksin di dunia usaha memasuki ruang yang lebih luas. Dari general kontraktor, kemudian berkembang ke sektor energi, pengalaman tersebut menjadi modal untuk memimpin organisasi yang menaungi kepentingan dunia usaha Maluku Utara.
Lima tahun ke depan akan menjadi ruang pembuktian bagi Muksin. Bukan hanya menjaga Kadin tetap solid, tetapi memastikan organisasi itu mampu membuka peluang usaha, memperkuat UMKM, menarik investasi dan menempatkan pengusaha lokal sebagai bagian penting dalam pertumbuhan ekonomi Maluku Utara.(*)


