Kao, Little Tokyo di Tengah Pusaran Perang Pasifik
Oleh: Muhammad Rizal
Ada masa ketika langit Kao tidak hanya dilintasi burung-burung yang mencari arah di atas Teluk Kao. Pesawat-pesawat militer Jepang pernah memenuhi udara, kapal-kapal bergerak di perairan teluk, sementara ribuan tentara dan pekerja memenuhi daratan yang kini kembali tenang.
Di tengah Perang Dunia II, Kao berubah dari kawasan pesisir Halmahera menjadi salah satu simpul militer penting Jepang di kawasan Pasifik. Kawasan ini bahkan dikenal dengan julukan “Little Tokyo” atau Tokyo Kecil, yang menggambarkan besarnya konsentrasi pasukan dan fasilitas perang Jepang di kawasan tersebut.
Kao memiliki sesuatu yang sangat dibutuhkan sebuah kekuatan militer. Laut dan daratan memungkinkan kawasan ini dibangun menjadi pangkalan. Teluk Kao menyediakan perairan luas untuk aktivitas armada, sedangkan daratan memberikan ruang bagi lapangan udara dan berbagai instalasi pertahanan. Laut dan udara bertemu di kawasan ini, menjadikan Kao bagian penting dari strategi Jepang mempertahankan wilayah pendudukannya di Halmahera.
Di perairan Teluk Kao, Jepang membangun Kaoe Bay Seaplane Base. Pangkalan tersebut digunakan untuk operasi pesawat amfibi sekaligus sebagai tempat kapal berlabuh. Pesawat seperti F1M “Pete” dan E13A “Jake” tercatat pernah dioperasikan dari kawasan tersebut. Sementara di daratan, Jepang membangun lapangan udara Kao yang dikenal dalam catatan perang sebagai Kaoe I dan Kaoe II.
Dari udara, pesawat dapat bergerak menuju berbagai wilayah operasi. Dari laut, teluk memberikan jalur pergerakan sekaligus perlindungan. Di daratan, berbagai posisi pertahanan disiapkan untuk menjaga fasilitas utama.
Konsentrasi kekuatan itu membuat Kao tampil seperti sebuah kota militer. Sejumlah catatan sejarah lokal menyebut puluhan ribu tentara Jepang pernah ditempatkan di kawasan Kao dan bagian dalam Teluk Kao. Angka yang sering disebut mencapai sekitar 42.000 tentara di Kao dan 20.000 lainnya di kawasan teluk bagian dalam. Terlepas dari perbedaan pencatatan jumlah pasukan dalam berbagai sumber, besarnya mobilisasi tersebut menjelaskan mengapa istilah “Little Tokyo” melekat pada Kao.
Tetapi sebuah pangkalan perang tidak pernah berdiri hanya karena tentara dan senjata. Tapi juga membutuhkan jalan, tempat penyimpanan logistik, fasilitas komunikasi, perlindungan, tenaga kerja dan berbagai kebutuhan lain yang membuat kawasan sekitar ikut berubah.
Masyarakat Halmahera pun berada di tengah perubahan tersebut. Pembangunan fasilitas militer Jepang menggunakan tenaga masyarakat, termasuk melalui pengerahan tenaga kerja paksa atau romusha. Karena itu, di balik cerita tentang pangkalan dan kekuatan militer terdapat pengalaman masyarakat yang harus menjalani masa pendudukan dalam situasi perang.
Ketika perang bergerak memasuki babak penentuan, posisi Kao semakin terancam. Setelah Sekutu memperkuat kekuatannya di Morotai pada 1944, kawasan-kawasan Jepang di Halmahera menjadi sasaran serangan. Lapangan udara dan fasilitas militer di Kao dibombardir pesawat-pesawat Sekutu.
Catatan tinggalan perang di kawasan tersebut merekam serangkaian serangan sejak Agustus hingga Desember 1944. Pesawat seperti B-25, B-24, P-47, A-20 dan P-38 menyerang berbagai posisi Jepang. Di Teluk Kao, fasilitas pelabuhan dan pangkalan pesawat laut juga menjadi sasaran. Kao yang pernah dikenal sebagai “Little Tokyo” akhirnya menjadi medan perang.
Namun cerita itu tidak berhenti di Kao. Sistem pertahanan Jepang dibangun dengan cakupan yang lebih luas. Sejumlah wilayah lain di Halmahera menjadi bagian dari jaringan militer yang menghubungkan pangkalan utama dengan posisi pertahanan darat.
Jejaknya dapat ditemukan hingga Wasile, Halmahera Timur. Di Desa Foli dan Hatetabako, Kecamatan Wasile Tengah, masih terdapat bunker peninggalan Jepang yang dicatat sebagai objek warisan sejarah oleh Pemerintah Kabupaten Halmahera Timur. Struktur beton, lorong dan ruang perlindungan yang tersisa memperlihatkan bagaimana pertahanan darat dibangun jauh dari pusat aktivitas Kao.
Di Hatetabako, selain bunker, masih terdapat tinggalan meriam yang menjadi bagian dari cerita pertahanan Jepang di kawasan pesisir. Benda-benda tersebut menjadi kepingan yang melengkapi gambaran besar tentang bagaimana Jepang memanfaatkan bentang alam Halmahera untuk membangun pertahanan.
Sebagian jejak bahkan berada di bawah laut. Di pesisir Desa Sosol, kawasan Kao-Malifut, terdapat bangkai kapal yang dikenal sebagai Toshimaru, salah satu tinggalan masa Perang Dunia II. Keberadaannya menjadi pengingat bahwa jejak perang di Halmahera tidak hanya tersimpan di daratan, tetapi juga di sepanjang pesisir dan perairannya.
Kini sebagian besar suara perang itu telah hilang. Tidak ada lagi pesawat tempur yang memenuhi langit Kao. Kapal perang tidak lagi menjadikan Teluk Kao sebagai pangkalan. Bunker dan meriam yang dahulu dipersiapkan menghadapi serangan kini tinggal benda tua yang menyimpan cerita.
Di daratan, Bandara Kuabang membawa wajah baru bagi kawasan yang pernah menjadi lapangan udara militer. Di desa-desa, bunker dan meriam menjadi pengingat bahwa perang pernah menjangkau ruang hidup masyarakat.
Maka “Little Tokyo” tidak semestinya berhenti sebagai sebuah julukan masa lalu. Kao memiliki peluang untuk menjadikannya pintu masuk bagi wisata sejarah dan pendidikan publik, dengan menghubungkan tinggalan laut, udara dan darat dalam satu narasi.
Perjalanan sejarah itu dapat dimulai dari Teluk Kao, menuju bekas kawasan pangkalan pesawat laut dan lapangan udara, kemudian bergerak ke kawasan Kao-Malifut, melihat jejak Toshimaru di pesisir Sosol, dan diteruskan hingga pertahanan Jepang di Wasile.
Satu wilayah menjadi pusat cerita, wilayah lain menjadi pelengkap. Lebih dari delapan dekade setelah Perang Dunia II berakhir, Kao telah berubah. Kehidupan masyarakat terus berjalan, pesawat sipil datang dan pergi, sementara Teluk Kao kembali menjadi ruang kehidupan.
Namun tanah dan lautnya masih menyimpan jejak ketika kawasan ini berada di tengah pusaran Perang Pasifik.
Kao pernah menjadi “Little Tokyo” di Halmahera—sebuah kota pangkalan yang mempertemukan kekuatan laut, udara dan darat. Kini, yang tersisa bukan lagi mesin perang, melainkan sejarah yang dapat dikembangkan oleh Pemerintah Provinsi Maluku Utara dan Pemerintah Kabupaten Halmahera Utara menjadi wisata sejarah yang memberi nilai pengetahuan sekaligus manfaat ekonomi bagi masyarakat.(*)

