radartimur.id

Dari Informasi ke Transformasi

Rabu, 30 September 2026

Krisis Tenaga Pendidik, Warga Libano dan Cempaka Minta Bupati Morotai Turun Tangan

RadarTimur.id, Morotai – Keterbatasan tenaga pendidik di Desa Libano dan Desa Cempaka, Kabupaten Pulau Morotai, dikeluhkan masyarakat.

Kondisi tersebut dinilai mengganggu proses belajar-mengajar pada jenjang Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Fredrik salah satu warga meminta Pemerintah Kabupaten Pulau Morotai segera mengambil langkah konkret untuk memenuhi kebutuhan guru di dua desa tersebut. Mereka berharap Bupati Pulau Morotai Rusli Sibua bersama Wakil Bupati Rio Cristian Pawane dapat memberikan perhatian serius terhadap persoalan pendidikan di wilayah tersebut.

Menurutnya, jumlah tenaga pengajar yang tersedia belum sebanding dengan kebutuhan sekolah. Dalam kondisi tertentu, seorang guru harus mengampu lebih dari satu kelas sehingga proses pembelajaran tidak dapat berlangsung secara optimal.

Bahkan, warga menyebut terdapat kelas yang terkadang tidak mendapatkan pendampingan guru. Kondisi ini dikhawatirkan berdampak terhadap kualitas pembelajaran dan pemenuhan hak pendidikan anak-anak di Desa Libano dan Cempaka.

Dia juga, mengatakan keterbatasan guru menjadi persoalan yang perlu segera mendapat perhatian pemerintah daerah. Menurut dia, anak-anak di desa memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang layak.

“Kami berharap pemerintah daerah melihat kondisi ini secara langsung dan segera menambah tenaga guru di sekolah-sekolah yang kekurangan pengajar,” ujarnya, Selasa (29/9/2026).

Dia meminta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pulau Morotai melakukan pendataan terhadap kebutuhan tenaga pendidik di kedua desa tersebut. Pendataan dinilai penting agar distribusi guru dapat disesuaikan dengan jumlah sekolah, rombongan belajar, dan kebutuhan masing-masing jenjang pendidikan.

“Masyarakat Desa Libano dan Cempaka berharap persoalan tersebut tidak dibiarkan berlarut-larut. Mereka meminta pemerintah daerah memastikan kegiatan belajar-mengajar di tingkat SD dan SMP berjalan secara normal sehingga anak-anak di wilayah tersebut tidak mengalami ketimpangan akses pendidikan dibandingkan dengan wilayah lainnya di Morotai,” tutup dia.(ksm)