Pemuda di Persimpangan Politik: Menjadi Pengikut atau Pencipta Arah?
Oleh: Arafik A. Rahman
Pegiat Sosial
Di banyak ruang diskusi pemuda: baik di kampus, kedai kopi, di desa, maupun organisasi kepemudaan sering terdengar satu kata yang dianggap paling mujarab: realistis. Kata ini biasanya dipakai untuk menasihati anak muda agar tidak terlalu tinggi bermimpi. Politik dianggap keras, kekuasaan dianggap terlalu jauh dan kepemimpinan seolah hanya milik mereka yang sudah mapan.
Namun di balik nasihat yang terdengar rasional itu, kadang tersembunyi satu mentalitas yang tidak sehat: mentalitas pengikut. Pemuda yang terlalu “realistis” sering kali justru menjadi pengagum tokoh. Mereka memuji, mengikuti, bahkan mengkultuskan seseorang tanpa pernah berpikir bahwa dirinya juga memiliki potensi yang sama untuk memimpin.
Dalam politik praktis, fenomena ini sangat terlihat. Banyak pemuda yang bangga berada di belakang tokoh, tetapi jarang yang mempersiapkan diri untuk menjadi tokoh. Padahal sejarah menunjukkan bahwa ketokohan tidak lahir secara tiba-tiba. Seorang tokoh terbentuk dari cerita demi cerita, dari proses panjang yang sering kali dimulai dari ruang kecil: diskusi sederhana, gerakan kecil, keberanian mengambil sikap dan konsistensi dalam gagasan.
Dari cerita-cerita kecil itulah reputasi perlahan tumbuh. Dalam lensa sejarah dunia, bahkan sistem kepemimpinan pernah berubah secara dramatis. Pada akhir abad ke-18 di Prancis, rakyat mengguncang sebuah keyakinan lama bahwa kekuasaan hanya boleh diwariskan melalui darah bangsawan. Ketika raja Louis XVI dijatuhi hukuman mati dan kepalanya dipenggal dalam Revolusi Prancis, peristiwa itu bukan sekadar tragedi politik. Ia menjadi simbol runtuhnya pengkultusan pemimpin yang lahir dari garis keturunan raja.
Sejak saat itu dunia mulai mengenal satu gagasan yang lebih radikal: kekuasaan berasal dari rakyat. Demokrasi kemudian tumbuh sebagai sistem yang membuka peluang bagi siapa saja untuk menjadi pemimpin. Dalam sistem ini, kepemimpinan tidak lagi ditentukan oleh darah biru, tetapi oleh kepercayaan publik, kapasitas intelektual dan keberpihakan pada rakyat. Bahkan seorang yang lahir dari keluarga sederhana sekalipun memiliki peluang yang sama untuk memimpin, selama ia mampu memenuhi kriteria moral dan politik yang diharapkan masyarakat.
Artinya, demokrasi sesungguhnya adalah panggung terbuka bagi semua orang, termasuk pemuda. Namun nyaris dalam praktik politik modern kita sering menemukan gejala yang berbeda. Demokrasi yang seharusnya membuka peluang luas justru kadang dipenuhi oleh budaya pengaguman terhadap figur. Pemuda lebih sibuk mengagumi tokoh daripada mempersiapkan diri menjadi tokoh. Mereka lebih nyaman berada di belakang layar sebagai pengikut, bukan sebagai pengarah.
Dalam tradisi filsafat, gagasan tentang kepemimpinan yang lahir dari kemampuan intelektual sebenarnya sudah lama dibicarakan. Plato misalnya, dalam karyanya The Republic berbicara tentang dunia ide; sebuah dunia gagasan yang sempurna, hanya dapat dipahami oleh mereka yang menggunakan akal secara mendalam. Bagi Plato, masyarakat yang baik adalah masyarakat yang dipimpin oleh filsuf, yaitu mereka yang memiliki pengetahuan, kebijaksanaan dan kemampuan memahami kebenaran.
Artinya, kepemimpinan seharusnya tidak jatuh kepada mereka yang sekadar populer atau berduit tetapi kepada mereka yang mampu berpikir jernih tentang kebaikan bersama. Gagasan serupa juga muncul dalam pemikiran filsuf modern Immanuel Kant. Ia menekankan pentingnya keberanian intelektual dalam kehidupan publik. Dalam semangat Sapere Aude: beranilah berpikir sendiri. Kant melihat bahwa kemajuan masyarakat hanya mungkin jika kaum intelektual berani menggunakan akalnya secara mandiri dan memimpin masyarakat keluar dari ketergantungan berpikir.
Karena itu, kepemimpinan ideal lahir dari keberanian berpikir dan integritas moral. Di titik inilah pemuda sebenarnya sedang berdiri di sebuah persimpangan: menjadi generasi pengagum, atau menjadi generasi visioner. Generasi pengagum biasanya sibuk memuji tokoh yang sudah ada. Mereka bangga berada di lingkaran kekuasaan, meski hanya sebagai penonton. Dalam politik praktis, generasi ini sering menjadi alat mobilisasi: berteriak paling keras saat kampanye, tetapi paling cepat dilupakan setelah kekuasaan tercapai.
Sebaliknya, generasi visioner memahami bahwa masa depan tidak lahir dari tepuk tangan. Generasi visioner adalah mereka yang membangun proses. Mereka belajar, berdiskusi, memperluas pengetahuan, melatih kepemimpinan dan perlahan menyiapkan diri. Mereka sadar bahwa masa depan tidak datang sekaligus; ia dibangun langkah demi langkah. Namun menjadi visioner bukan berarti harus selalu menjadi tokoh utama.
Dalam banyak situasi, justru kebesaran seorang pemuda terlihat dari kemampuannya mendorong orang lain untuk maju. Ia mampu melihat potensi dalam diri temannya, menyatukan kekuatan dan bersama-sama merekayasa lahirnya figur yang lebih baik. Karena politik yang sehat tidak hanya membutuhkan tokoh. Ia membutuhkan generasi yang mampu melahirkan tokoh.
Jika pemuda mampu bersatu, mereka dapat membangun figur yang intelek, progresif dan amanah. Figur semacam ini tidak lahir dari pencitraan semata, tetapi dari kepercayaan kolektif yang tumbuh melalui proses panjang. Dalam konteks itu, pemuda sebenarnya memiliki dua pilihan istimewa. Yaitu, menjadi generasi yang sibuk mengagumi tokoh atau menjadi generasi yang mempersiapkan dirinya menjadi tokoh dan atau menciptakan tokoh dan masa depan.
Pilihan kedua tentu lebih berat. Ia membutuhkan kesabaran, proses intelektual, kedewasaan berorganisasi, serta keberanian untuk berpikir berbeda. Namun dari pilihan inilah lahir perubahan sejarah. Karena bangsa ini tidak pernah kekurangan pemuda yang pandai bertepuk tangan di belakang tokoh.
Dan yang paling dibutuhkan adalah pemuda yang mampu berjalan bersama, membangun gagasan dan perlahan melahirkan kepemimpinan baru bagi zamannya. Mereka tidak melahirkan pemimpin dari sekadar pengkultusan, tetapi dari kepercayaan rakyat dan kejernihan akal.

