radartimur.id

Dari Informasi ke Transformasi

Sabtu, 2 Mei 2026

May Day dan Luka yang Belum Sembuh

Yosafat Kotalaha:

Sekretaris DPC GAMKI HALUT

“May Day adalah simbol perjuangan kolektif kaum buruh—bukan sekadar peringatan tahunan, melainkan momentum untuk menantang ketidakadilan struktural.” Namun pernyataan ini terasa getir ketika dihadapkan pada realitas: ketimpangan dan diskriminasi terhadap kaum buruh masih begitu nyata, bahkan cenderung dinormalisasi.

Setiap tahun, tuntutan yang sama kembali diulang upah layak, jaminan kerja, perlindungan sosial. Fakta bahwa tuntutan ini terus muncul justru menunjukkan satu hal: masalahnya tidak pernah benar-benar diselesaikan. Ketimpangan antara pekerja dan pemilik modal tetap lebar. Sebagian kecil menikmati akumulasi keuntungan, sementara mayoritas buruh masih bergulat dengan upah yang tidak sebanding dengan biaya hidup.

Dalam kerangka Karl Marx, ini bukan kebetulan, melainkan konsekuensi dari struktur kapitalisme itu sendiri. Sistem ini bergantung pada tenaga kerja murah untuk menjaga akumulasi modal. Maka selama struktur itu tidak disentuh, ketimpangan akan terus direproduksi seberapa keras pun tuntutan disuarakan setiap May Day.

Diskriminasi pun hadir dalam berbagai bentuk, sering kali tidak kasat mata. Pekerja kontrak diperlakukan berbeda dari pekerja tetap. Buruh perempuan menghadapi beban ganda dan kesenjangan upah. Pekerja informal dan gig bahkan kerap tidak diakui sebagai bagian dari “buruh” yang layak dilindungi. Apa yang oleh Guy Standing sebut sebagai precariat hidup dalam ketidakpastian permanen tanpa jaminan, tanpa suara, dan tanpa perlindungan.

Masalahnya tidak berhenti pada kondisi ekonomi. Diskriminasi juga dipertahankan melalui cara berpikir. Seperti dijelaskan Antonio Gramsci, dominasi bekerja melalui persetujuan. Narasi bahwa “buruh harus fleksibel” atau “upah rendah adalah konsekuensi pasar” diterima sebagai kewajaran. Ketika ketidakadilan dianggap normal, maka perlawanan kehilangan pijakan moralnya.

Di sisi lain, lemahnya konsolidasi gerakan buruh memperparah situasi. Fragmentasi antar-serikat membuat perjuangan kehilangan daya tekan. Dalam perspektif Pierre Bourdieu, ini adalah kegagalan membangun modal sosial dan simbolik yang cukup kuat untuk memengaruhi arena kekuasaan. Tanpa kekuatan kolektif yang solid, tuntutan mudah diabaikan atau dinegosiasikan setengah hati.

Lebih halus lagi, kekuasaan bekerja melalui mekanisme disiplin sehari-hari. Seperti diingatkan Michel Foucault, kontrol tidak selalu datang dari aturan keras, tetapi dari rasa takut kehilangan pekerjaan, target kerja yang menekan, hingga sistem evaluasi yang tak transparan. Buruh didorong untuk patuh, bukan karena dipaksa secara langsung, tetapi karena tidak punya pilihan nyata.

Dalam situasi seperti ini, May Day seharusnya menjadi lebih dari sekadar panggung suara. Ia harus menjadi alat untuk membongkar ketimpangan dan diskriminasi yang terus berlangsung. Namun tanpa strategi yang jelas, tanpa konsolidasi yang kuat, dan tanpa keberanian menantang struktur secara langsung, May Day berisiko hanya menjadi ritual tahunan ramai, tetapi tidak mengubah apa-apa.

Selama ketimpangan tetap lebar dan diskriminasi terus berlangsung, May Day tidak boleh berhenti sebagai simbol. Ia harus kembali menjadi tekanan. Jika tidak, ia akan terus dirayakan setiap tahun sementara kondisi buruh tetap berjalan di tempat.