radartimur.id

Dari Informasi ke Transformasi

Jumat, 19 Juni 2026

Rupiah Melemah, Aktivis LMND Sebut Warga Halmahera Selatan Kian Terbebani

RadarTimur.id, Labuha – Melemahnya nilai tukar rupiah hingga menembus Rp17.971 per dolar Amerika Serikat (AS) serta tingginya harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi dinilai semakin membebani masyarakat di Kabupaten Halmahera Selatan.

Hal tersebut disampaikan aktivis muda Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND), Julkifli Sangaji, Jumat (12/6/2026).

Kata dia, berdasarkan data Bank Indonesia per pukul 00.13 WIT, nilai tukar rupiah tercatat berada pada level Rp17.971 per dolar AS. Di sisi lain, harga Pertamax di seluruh SPBU di Maluku Utara, termasuk Halmahera Selatan, mencapai Rp16.650 per liter.

Menurut Julkifli, kondisi tersebut memberikan dampak langsung terhadap biaya hidup masyarakat, terutama bagi pengguna kendaraan yang tidak dapat menggunakan BBM bersubsidi.

“Dampak pelemahan rupiah terasa berantai. Selisih harga sangat jauh. Pertalite masih Rp10.000 per liter, sementara Pertamax mencapai Rp16.650 per liter. Banyak warga yang menggunakan sepeda motor tertentu terpaksa memakai Pertamax karena tidak cocok dengan jenis bahan bakar bersubsidi. Akibatnya, pengeluaran harian mereka otomatis bertambah besar,” ujarnya.

Dia menjelaskan, dampak ekonomi yang dirasakan masyarakat Halmahera Selatan jauh lebih berat dibanding daerah lain karena karakteristik wilayah yang terdiri dari pulau-pulau.

“Halmahera Selatan merupakan daerah kepulauan. Berbagai kebutuhan masyarakat, mulai dari onderdil kapal, pupuk, hingga beras masih bergantung pada pasokan dari luar daerah bahkan impor. Saat rupiah melemah, harga barang ikut naik. Dampaknya berlipat ganda karena hampir seluruh aktivitas ekonomi dan transportasi bergantung pada bahan bakar,” katanya.

Julkifli menambahkan, pelemahan rupiah sepanjang Mei 2026 yang mencapai 3,82 persen menunjukkan adanya tekanan terhadap perekonomian nasional. Dalam periode yang sama, Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,25 persen sebagai upaya menjaga stabilitas nilai tukar, sementara cadangan devisa tercatat turun sebesar 1,3 miliar dolar AS.

Karena itu, ia mendesak pemerintah daerah maupun pemerintah pusat untuk segera mengambil langkah konkret guna melindungi daya beli masyarakat di wilayah kepulauan.

“Warga sudah lama menanggung biaya logistik yang tinggi. Pemerintah harus hadir dengan kebijakan khusus agar daya beli masyarakat tidak terus menurun. Jangan sampai masyarakat di daerah kepulauan semakin tertinggal akibat tekanan ekonomi yang terjadi saat ini,” tegasnya.

Berdasarkan pemantauan lapangan pada 12 Juni 2026, harga Pertamax di SPBU wilayah Labuha dan sekitarnya berada di angka Rp16.650 per liter, sementara harga Pertalite ditetapkan Rp10.000 per liter dan Biosolar Rp6.800 per liter sesuai ketetapan yang berlaku sejak 1 Juni 2026.(ard)