Dari Tobelo, GMKI Tegaskan Iman, Ilmu dan Sejarah Harus Jadi Energi Pengabdian
RadarTimur.id, Tobelo — Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) didorong untuk tidak berhenti pada kebanggaan terhadap sejarah, tetapi menjadikan sejarah, iman, dan ilmu sebagai energi untuk menjawab tantangan zaman melalui pelayanan dan pengabdian nyata.
Pesan tersebut disampaikan Kepala Bidang Media dan Komunikasi Pengurus Pusat GMKI, Ralandenei Tampubolon, yang mewakili Ketua Umum GMKI Prima Surbakti dalam pembukaan Konsultasi Wilayah (Konswil) GMKI di Tobelo, Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara, Selasa (1/9/2026).
Raland menyampaikan rasa syukur dapat hadir dan bertemu langsung dengan kader serta pengurus cabang GMKI di Maluku Utara. Menurutnya, kehadiran Pengurus Pusat di Tobelo tidak sekadar dimaknai sebagai kunjungan ke daerah, tetapi menjadi momentum untuk melihat kembali sejarah panjang iman, pelayanan, pendidikan, dan perjuangan di wilayah tersebut.
“Tobelo dan Halmahera Utara memiliki posisi penting dalam sejarah kekristenan di Maluku Utara, termasuk perkembangan pelayanan Gereja Masehi Injili di Halmahera (GMIH),” ujar Raland.
Menurut Raland, sejarah tersebut harus menjadi ruang refleksi bagi GMKI dalam menerjemahkan iman melalui pelayanan, pendidikan, dan pengabdian kepada masyarakat. Tantangan zaman, katanya, menuntut organisasi untuk mampu menghadirkan nilai-nilai kekristenan dalam bentuk karya yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.
“GMKI jangan terlena dengan sejarah. Sejarah harus menjadi energi untuk bergerak ke depan. Kita harus mampu menerjemahkan iman, ilmu, dan pengabdian dalam konteks zaman hari ini,” katanya.
Selain sejarah, Raland menyoroti nilai-nilai Hibualamo yang mencerminkan persatuan, perdamaian, kebersamaan, dan musyawarah. Nilai tersebut dinilai memiliki keterkaitan kuat dengan semangat GMKI dalam membangun persaudaraan dan menciptakan ruang dialog yang terbuka serta konstruktif.
Raland menegaskan Konswil bukan sekadar forum seremonial organisasi. Forum tersebut harus menjadi ruang komunikasi dua arah untuk mendengar perkembangan cabang, menyerap persoalan, sekaligus menerima gagasan dan kritik terhadap kebijakan maupun kerja organisasi di tingkat pusat.
“Pengurus Pusat GMKI harus hadir bukan hanya untuk menyampaikan program, tetapi juga untuk mendengar. Konswil menjadi ruang evaluasi bersama agar persoalan di cabang dapat diserap, dikomunikasikan, dan dicarikan jalan keluar secara bersama-sama,” tegasnya.(val)

