Dengan Semangat Kartini, Fatma Salasa Memulai Babak Baru di MAN 1 Ternate
RadarTimur.id, Ternate – Peringatan Hari Kartini selalu menghadirkan makna tentang perjuangan, kesetaraan, dan harapan bagi perempuan Indonesia. Tahun ini, di Kota Ternate, semangat itu menemukan wujud nyatanya dalam diri Fatma Salasa.
Sehari setelah peringatan Kartini, Fatma berdiri di hadapan para guru dan pegawai madrasah, mengemban amanah baru sebagai Kepala MAN 1 Ternate. Bagi sebagian orang, pelantikan pada 21 April 2026 kemarin mungkin sekadar pergantian jabatan. Namun bagi Fatma, ini adalah perjalanan panjang yang berujung pada satu titik pengabdian.
Di balik senyumnya yang tenang, tersimpan jejak langkah yang tidak singkat. Dunia madrasah bukanlah hal baru baginya. Sebelumnya, telah mengasah kepemimpinan sebagai Kepala MTs Alkhairaat Kota Ternate. Di sana, dirinya belajar bahwa pendidikan bukan sekadar proses transfer ilmu, melainkan ruang membentuk karakter dan nilai.
Kini, tanggung jawab itu bertambah besar. Di bawah naungan Kementerian Agama, Fatma dihadapkan pada tantangan untuk membawa MAN 1 Ternate menjadi madrasah yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga kuat dalam nilai keagamaan dan sosial.
Bagi Fatma, perempuan memiliki posisi strategis dalam membangun peradaban. Keyakinan itu bukan sekadar wacana, tetapi dipraktikkan dalam keseharian. Selain memimpin lembaga pendidikan, dirinya juga aktif dalam berbagai organisasi keagamaan dan sosial mulai dari Muslimat NU hingga Badan Kontak Majelis Taklim.
Kesibukan itu tidak membuatnya melupakan peran di rumah. Dukungan dari suami, Salim Taib, serta empat anaknya menjadi energi yang terus menguatkan langkahnya. Di antara tanggung jawab publik dan keluarga, Fatma berusaha menjaga keseimbangan. Sebuah refleksi nyata dari peran perempuan masa kini.
Di hari pertamanya sebagai kepala madrasah, Fatma tidak banyak berbicara tentang target angka atau capaian administratif. Justru berbicara tentang kolaborasi, tentang membangun ruang belajar yang hangat, inklusif, dan mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.
“Perempuan memiliki peran strategis dalam mencetak generasi masa depan. Dengan pendidikan, kita tidak hanya membangun kecerdasan, tetapi juga membentuk karakter dan peradaban,” tuturnya, dengan nada penuh keyakinan, saat bersama santri pengajian di rumahnya pada Rabu (22/4/2026).
Pernyataan itu seolah menjadi benang merah dari perjalanan hidupnya. Bahwa pendidikan adalah jalan panjang yang membutuhkan kesabaran, keteladanan, dan komitmen.(*)

