Asrama Babullah II, Rumah Tua yang Menunggu Merdeka
Laporan : Ardi Kailul
Editor : Muhammad Rizal
Di tengah semarak menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, ketika Merah Putih menghiasi jalan-jalan dan halaman kantor, ada satu pemandangan di Kota Manado, Sulawesi Utara, yang menyisakan ironi. Sebuah bangunan tua di Kecamatan Malalayang, Kelurahan Batu Kota, Lingkungan I, masih berdiri dengan kondisi yang jauh dari kata layak. Bangunan itu adalah Asrama Mahasiswa Babullah II Maluku Utara.
Atapnya tampak menua, sebagian bagian bangunan mengalami kerusakan, dinding kusam ditumbuhi tanaman, sementara sejumlah bagian lainnya memperlihatkan jejak usia yang panjang. Dari luar saja, bangunan tersebut sudah cukup untuk menggambarkan bagaimana puluhan tahun telah berlalu tanpa pembenahan besar yang memadai.
Asrama Babullah II bukan bangunan baru karena telah berdiri sejak 1982. Selama 44 tahun, tempat itu menjadi rumah bagi mahasiswa asal Maluku Utara yang datang ke Manado untuk mengejar pendidikan. Generasi demi generasi telah melewati pintunya. Mereka datang membawa koper, buku dan mimpi, lalu pergi membawa gelar, pengalaman serta harapan untuk kembali membangun daerah.
Bagi mahasiswa, Babullah II bukan sekadar tempat tidur. Di sanalah tugas kuliah dikerjakan hingga larut malam, diskusi berlangsung di antara kesibukan perkuliahan, dan cerita tentang kampung halaman dibagikan. Asrama itu menjadi ruang tumbuh bagi anak-anak Maluku Utara yang sedang menyiapkan masa depan.
Namun, rumah yang menjadi bagian dari perjalanan panjang pendidikan itu kini justru membutuhkan pertolongan.
Kondisi fisiknya semakin memprihatinkan. Persoalannya bukan lagi semata soal kenyamanan, tetapi juga menyentuh aspek keamanan dan kelayakan hunian. Mahasiswa yang tinggal di dalamnya tentu berharap pemerintah tidak hanya melihat Babullah II sebagai aset berupa bangunan, tetapi sebagai bagian dari investasi sumber daya manusia Maluku Utara.
Di tengah suasana peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI yang turut menempatkan generasi muda sebagai bagian penting dari masa depan bangsa, para mahasiswa Maluku Utara di Manado masih menjalani aktivitas sehari-hari di bangunan yang telah berusia lebih dari empat dekade dan kondisinya terus menua.
Pemerintah Provinsi Maluku Utara sebenarnya telah mengetahui persoalan tersebut. Pada 18 Juli 2025, Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda berkunjung ke Asrama Babullah II dan Babullah I di Manado. Kondisi asrama terlihat secara langsung dan komitmen untuk melakukan pembenahan sempat disampaikan. Tetapi setahun kemudian, harapan mahasiswa belum menemukan kepastian yang mereka tunggu.
Persoalan administrasi, terutama status kepemilikan dan alas hak lahan, disebut menjadi salah satu kendala. Dinas terkait diarahkan menyelesaikan persoalan tersebut agar aset dapat tercatat secara resmi sebagai milik daerah. Secara administratif, langkah itu penting. Namun bagi mahasiswa, waktu tidak berhenti hanya karena proses birokrasi belum selesai.
Mantan Ketua Asrama Babullah II, Aklif Dehima, yang juga mahasiswa Pascasarjana Universitas Sam Ratulangi, mengingatkan bahwa perhatian kepada mahasiswa seharusnya tidak berhenti pada bantuan pendidikan atau program akademik. Tempat tinggal yang aman dan layak juga menjadi bagian penting dalam menunjang proses belajar.
“Ini menyangkut pendidikan dan masa depan generasi muda Maluku Utara yang sedang menempuh pendidikan di Sulawesi Utara. Karena itu, kondisi asrama semestinya menjadi perhatian khusus pemerintah provinsi,” ujarnya.
Harapan itu kembali menemukan ruang di tengah pembahasan rencana pinjaman daerah sekitar Rp1 triliun oleh Pemerintah Provinsi Maluku Utara. Jika kebijakan tersebut terealisasi dan terdapat ruang pembiayaan bagi infrastruktur publik, kebutuhan asrama mahasiswa semestinya tidak luput dari perhatian. Sebab membangun manusia tidak hanya membutuhkan ruang kelas, tetapi juga tempat tinggal yang memungkinkan mereka belajar dengan tenang.
Mahasiswa tidak sedang meminta kemewahan. Mereka hanya ingin sebuah rumah yang aman, sehat dan nyaman. Sebuah tempat yang memungkinkan mereka menyelesaikan pendidikan tanpa harus dihantui kekhawatiran terhadap kondisi bangunan yang mereka tempati.
Babullah II telah melewati 44 tahun perjalanan. Bangunannya mungkin semakin tua, tetapi cerita di dalamnya tidak pernah benar-benar selesai. Setiap tahun ada mahasiswa baru yang datang membawa mimpi yang sama, belajar, lulus dan suatu hari kembali memberi sesuatu bagi Maluku Utara.(*)



