radartimur.id

Dari Informasi ke Transformasi

Minggu, 6 September 2026

Wabup Kasman Luncurkan Buku ke-10 di Ultah ke-56

RadarTimur.id, Tobelo — Sekolah tidak semestinya hanya dipandang sebagai ruang kelas tempat guru mengajar dan siswa menerima pelajaran. Sekolah harus menjadi ruang hidup yang aman bagi anak untuk tumbuh, membangun karakter, mengembangkan potensi, sekaligus belajar hidup bersama.

Gagasan itulah yang menjadi benang merah buku ke-10 Wakil Bupati (Wabup) Halmahera Utara (Halut), Kasman Hi. Ahmad, berjudul Sekolah Rumah Pendidikan. Buku tersebut diluncurkan sekaligus dibedah melalui kegiatan “Bacarita Buku” di kediamannya, Sabtu (5/9/2026) malam.

Peluncuran buku ini terasa istimewa karena berlangsung bertepatan dengan ulang tahun Kasman yang ke-56. Momentum tersebut sekaligus menandai perjalanan panjangnya di dunia literasi yang telah menghasilkan 10 karya.

Dalam pandangannya, konsep sekolah perlu direkonstruksi. Sekolah sebagai rumah bukan sekadar pergantian istilah, melainkan perubahan cara memahami fungsi pendidikan dan lingkungan tempat anak bertumbuh.

“Sekolah sebagai rumah tidak sekadar metamorfosis dari sebuah sekolah. Di dalamnya ada ruang hidup, ruang untuk tumbuh, dan ruang untuk membentuk karakter anak-anak kita,” kata Wabup Kasman.

Pemikiran tersebut menempatkan keluarga sebagai rumah pertama dan sekolah sebagai rumah kedua bagi anak. Dengan demikian, keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari proses belajar mengajar di ruang kelas, tetapi juga dari kemampuan sekolah menciptakan lingkungan yang membentuk anak menjadi manusia yang bertanggung jawab dan berkarakter.

Wabup Kasman mengaitkan gagasan itu dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara yang menempatkan pendidikan sebagai proses menuntun potensi anak agar berkembang dan mampu mencapai keselamatan serta kebahagiaan di masa depan.

Karena itu, sekolah idealnya menjadi ruang yang menumbuhkan kebersamaan, solidaritas dan pemberdayaan. Lingkungan pendidikan juga harus memberikan rasa aman kepada peserta didik, termasuk memastikan sekolah terbebas dari perundungan dan kekerasan.

“Sekolah harus betul-betul dimaknai sebagai ruang hidup. Di dalamnya tumbuh rasa kebersamaan, rasa solidaritas dan saling memberdayakan, serta bebas dari perundungan dan kekerasan,” ujarnya.

Gagasan tersebut juga tidak bisa dilepaskan dari kondisi geografis dan karakter wilayah. Kasman menilai sekolah di kawasan perkotaan memiliki persoalan yang berbeda dengan sekolah di wilayah tertinggal, terdepan dan terluar (3T).

Perbedaan itu membuat kebijakan pendidikan tidak semestinya diterapkan secara seragam tanpa melihat kondisi di lapangan. Setiap sekolah membutuhkan pendekatan yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik dan karakter lingkungan tempat pendidikan berlangsung.

Di tengah perubahan zaman, tantangan pendidikan juga datang dari perkembangan teknologi. Kasman memandang digitalisasi sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari dunia pendidikan, tetapi pemanfaatannya harus diarahkan untuk memperluas akses informasi dan memperkuat kemampuan anak.

“Digitalisasi tidak boleh membuat anak-anak kita terjebak pada kebutuhan modernitas semata. Justru digitalisasi harus menjadi instrumen penting untuk mengakses informasi sekaligus mengambil nilai-nilai positif di dalamnya,” katanya.

Melalui buku tersebut, Wabup Kasman berharap muncul perubahan cara pandang terhadap pendidikan, khususnya di Halut. Sekolah tidak cukup hanya menjadi tempat anak memperoleh pengetahuan, tetapi harus menjadi lingkungan yang mendukung proses pendewasaan mereka.

“Sekolah harus lebih dimaknai sebagai rumah kedua kita, rumah kedua bagi anak-anak kita, dan betul-betul dimanfaatkan untuk proses pendewasaan anak,” ujarnya.

Kegiatan “Bacarita Buku” turut menghadirkan esais Asghar Saleh dan akademisi Dr. Jubhar Mangimbulude, M.Si., sebagai pembahas, dengan Syarifuddin Usman bertindak sebagai moderator.(val)