Ketika Perang Dunia II Membuka Cerita Baru Pariwisata Sula
Oleh : Muhammad Rizal
Pemimpin Redaksi RadarTimur.id
Pada awal 1942, perang dunia yang berkecamuk di Asia-Pasifik akhirnya mencapai Sanana. Pemboman pada 27 Januari 1942 menjadi salah satu penanda bahwa Kepulauan Sula tidak berada di luar pusaran perubahan geopolitik dunia.
Beberapa pekan sebelumnya, sebuah peristiwa politik berlangsung di tempat yang kini menjadi salah satu jejak sejarah Sanana. Pada 5 Desember 1941, H.A.P. de Santy diangkat sebagai Salahakan Sula di Fort De Verwachting. Peristiwa itu kemudian tercatat dalam arsip pemerintahan kolonial Belanda yang kini tersimpan di Nationaal Archief.

Arsip tersebut memuat Lijst van Bestuurders der Soela-eilanden (afdeling Ternate), Residentie Molukken, daftar pejabat pemerintahan Kepulauan Sula. Koleksi yang sama mencatat laporan De Santy mengenai kebijakannya sebagai pejabat pemerintahan Sula pada 8 Desember 1941 hingga 22 Mei 1942, serta dokumentasi pengangkatannya sebagai Salahakan atau ondersultan Sula pada 1941.
Dokumen itu membuka cerita yang lebih panjang. Kepulauan Sula bukan wilayah yang baru muncul ketika birokrasi kolonial hadir. Hingga 1909, dalam catatan yang ditelusuri, Sula diperintah atas nama Sultan Ternate oleh seorang Salahakan atau landvoogd. Kedudukan tersebut memperlihatkan hubungan politik Sula dengan Kesultanan Ternate sekaligus keberadaan struktur pemerintahan lokal sebelum dan selama perkembangan administrasi kolonial.
Mengapa Sula penting bagi kekuatan-kekuatan yang datang ke Maluku kala itu? Maluku memang dikenal dunia karena cengkih dan pala, dua komoditas yang menjadi bagian penting perdagangan internasional. Namun Sula, mempunyai posisi cukup strategis karena bagian dari kawasan perdagangan dan pelayaran. Letaknya menjadikan kepulauan ini berada dalam jaringan laut yang menghubungkan Maluku dengan Sulawesi dan kawasan timur Nusantara. Dalam dunia kepulauan, laut bukan sekadar pemisah, tetapi jalur perdagangan, komunikasi dan pergerakan kekuasaan.
Kepentingan terhadap jalur pelayaran, perdagangan, sumber daya dan posisi geografis kemudian bertemu dengan kepentingan politik. Hubungan Sula dengan Ternate menjadi salah satu bagian dari sejarah panjang tersebut.
Jejaknya terlihat jelas di Sanana melalui Fort De Verwachting. Atlas of Mutual Heritage mencatat benteng tersebut dalam sejarah sejak masa VOC dan menyebut pembangunan benteng pada 1736. Dalam perkembangannya, Fort De Verwachting menjadi tempat tinggal Salahakan, wakil Sultan Ternate. Pada 1921, sejarawan Belanda Victor van de Wall mencatat benteng masih dalam kondisi baik dan sejumlah bangunan serta persenjataan di dalamnya masih digunakan.
Dengan demikian, Fort De Verwachting bukan hanya peninggalan militer. Benteng tersebut juga berkaitan dengan sejarah pemerintahan dan hubungan politik Sula dengan Ternate.
Menjelang Perang Dunia II, cerita itu kembali memasuki babak penting. Dalam catatan De Santy, pengangkatannya sebagai Salahakan berkaitan dengan pembicaraan dengan Sultan Djabir dari Ternate. Surat pengangkatan yang ditandatangani Sultan Djabir disebut dibawa ke Sanana menggunakan perahu oleh kepala adat tertua dari Pulau Kajoa bersama rombongan.
Detail tersebut menunjukkan bagaimana kekuasaan pada masa itu bergerak melalui laut sekaligus melibatkan struktur adat. Pengangkatan De Santy juga berlangsung ketika situasi Asia-Pasifik semakin tegang dan Jepang mulai memperluas operasi militernya.
Bagi Jepang, wilayah Maluku memiliki arti strategis karena posisi kepulauan dan jalur lautnya. Karena itu, kepentingan Jepang di kawasan tersebut tidak semata-mata berkaitan dengan sumber daya, tetapi juga dengan penguasaan wilayah dan jalur pergerakan militer dalam perang.
Sanana kemudian ikut mengalami dampaknya. Catatan yang ditelusuri menyebut pemboman pada 27 Januari 1942. Setelah pemerintahan Hindia Belanda tidak lagi berjalan di Kepulauan Sula pada 7 Maret 1942, laporan De Santy menyebut kewenangan sebagai Salahakan digunakan untuk melanjutkan pemerintahan di wilayah tersebut.
Kisah itu menunjukkan bahwa perubahan kekuasaan di Sula tidak hanya berlangsung di ruang administrasi. Perang membawa perubahan langsung terhadap kehidupan sebuah kepulauan yang selama berabad-abad telah berada dalam jaringan perdagangan, kesultanan dan pemerintahan.
Namun hari ini, jejak tersebut dapat dibaca dengan cara berbeda. Fort De Verwachting dapat menjadi salah satu titik awal wisata sejarah Sula. Sebagian bangunan di dalam benteng memang telah hilang, tetapi sumber sejarah masih mencatat keberadaan dinding benteng, dua bastion, gerbang dan menara pengintai.
Dokumentasi foto dari awal abad ke-20 juga dapat membantu menghadirkan kembali wajah Sanana pada masa lalu. Arsip dan foto tersebut bukan sekadar benda lama, tetapi bahan untuk membangun pengalaman wisata berbasis sejarah.
Namun kekuatan Sula tidak berhenti pada benteng. Di tengah masyarakat terdapat kekayaan budaya yang dapat menjadi bagian penting dari perjalanan wisata, salah satunya Gabalil Hai Sua (Keliling Pulau Sula dengan berjalan kaki). Kearifan lokal tersebut telah diperkenalkan pula melalui festival, sehingga memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai bagian dari wisata budaya yang mempertemukan tradisi, masyarakat dan pengunjung.
Jika sejarah, budaya dan alam dirangkai, wisata Sula dapat memiliki karakter yang lebih kuat. Wisatawan dapat memulai perjalanan dari Sanana dengan mengenal Fort De Verwachting dan sejarah pemerintahan Sula. Perjalanan kemudian dilanjutkan dengan mengenal Gabalil Hai Sua, menikmati kuliner lokal, melihat kehidupan masyarakat, sebelum bergerak menuju pantai, pulau-pulau kecil dan kawasan laut.
Konsep tersebut tidak membutuhkan pembangunan destinasi baru secara besar-besaran pada tahap awal. Yang lebih mendesak adalah penelitian, pendataan dan pelestarian.
Pemerintah daerah dapat menyusun peta sejarah Sanana, mendokumentasikan situs, menerjemahkan arsip, mengumpulkan foto lama dan membuat informasi digital. Jika terdapat bunker, makam atau struktur yang diduga berkaitan dengan Perang Dunia II, semuanya perlu diverifikasi terlebih dahulu. Bangunan tua tidak otomatis merupakan peninggalan perang.
Sejarawan, arkeolog, perguruan tinggi, lembaga kebudayaan, komunitas sejarah, tokoh adat dan masyarakat lokal perlu dilibatkan agar narasi yang dibangun memiliki dasar dan tidak menghilangkan makna budaya.
Gabalil Hai Sua pun dapat ditempatkan bukan sekadar sebagai festival tahunan, melainkan sebagai bagian dari kalender wisata budaya yang melibatkan masyarakat sebagai pelaku utama. Dari sana dapat berkembang jasa pemandu, homestay, perahu, kuliner, kerajinan dan produk lokal.
Pada akhirnya, keberhasilan pariwisata tidak hanya diukur dari jumlah orang yang datang, tetapi juga dari berapa lama mereka tinggal dan seberapa besar manfaat ekonomi yang diterima masyarakat.
Sula sebenarnya sudah memiliki modal itu. Sejarah pemerintahan, hubungan dengan Kesultanan Ternate, Fort De Verwachting, jejak Perang Dunia II, tradisi Gabalil Hai Sua serta bentang laut dan pulau-pulau yang menjadi kekuatan wisata bahari.
Yang dibutuhkan bukan menciptakan cerita baru, melainkan menemukan kembali cerita yang ada, memastikan kebenarannya, merawat peninggalannya dan menyajikannya dengan cara yang dapat dipahami generasi sekarang.
Perang Dunia II meninggalkan jejak di Sula. Tetapi dari jejak itu, sebuah peluang baru dapat dibuka.
Bukan untuk meromantisasi perang, melainkan menjadikan sejarah sebagai pengetahuan, budaya sebagai identitas, alam sebagai daya tarik dan masyarakat sebagai pelaku utama.
Dengan begitu, Fort De Verwachting tidak berhenti sebagai benteng tua, arsip tidak berhenti sebagai dokumen yang tersimpan jauh dari Sula, dan Gabalil Hai Sua tidak berhenti sebagai sebuah festival.
Semuanya dapat dirangkai menjadi satu cerita perjalanan. Sula mengenal masa lalunya, merawat warisannya dan menjadikannya bagian dari masa depan pariwisata.(*)

