Sunaidin Ode Mulae, Kandidat Rektor UNUTARA yang Membawa Visi Riset dan Kewirausahaan
RadarTimur.id, Ternate — Sunaidin Ode Mulae, S.S., M.Hum., menjadi salah satu nama yang mengikuti proses seleksi Rektor definitif Universitas Nahdlatul Ulama Maluku Utara (UNUTARA) periode 2026–2030. Akademisi kelahiran 14 Januari 1981 itu datang dengan pengalaman akademik, organisasi, sekaligus pengalaman mengelola perguruan tinggi.
Berkas pendaftaran Sunaidin telah diterima Panitia Pemilihan Rektor UNUTARA. Setelah proses pendaftaran, tahapan selanjutnya adalah verifikasi administratif dan akademik sebelum para kandidat mengikuti rangkaian seleksi berikutnya.
Sunaidin bukan sosok yang baru mengenal UNUTARA. Saat ini dia dipercaya sebagai Pelaksana Tugas (Plt.) Rektor UNUTARA. Posisi tersebut memberinya pengalaman langsung dalam menjalankan roda universitas sekaligus memahami dinamika, kebutuhan dan tantangan yang dihadapi kampus.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu bekal yang dibawanya dalam pencalonan sebagai rektor definitif. Dari dalam kampus, Sunaidin bersentuhan langsung dengan persoalan tata kelola, pengembangan sumber daya manusia, penguatan akademik hingga kebutuhan membangun jejaring kerja sama.
Perjalanan akademiknya bermula dari bidang bahasa dan sastra. Sunaidin menyelesaikan pendidikan sarjana pada bidang Sastra Inggris, kemudian melanjutkan pendidikan magister Linguistik dan pendidikan doktoral di bidang Ilmu Antropologi.
Latar belakang tersebut membentuk perspektif yang cukup khas dalam melihat pendidikan tinggi. Bahasa, masyarakat dan kebudayaan menjadi bagian dari cara pandangnya dalam membaca potensi Maluku Utara dan menghubungkannya dengan pengembangan ilmu pengetahuan.
Bagi Sunaidin, perguruan tinggi tidak cukup hanya menjalankan fungsi pendidikan. Kampus juga harus mampu membaca persoalan masyarakat, mengembangkan pengetahuan dan melahirkan inovasi yang memiliki manfaat nyata bagi daerah.
Gagasan itu semakin kuat karena perjalanan Sunaidin juga bersinggungan dengan organisasi Nahdlatul Ulama. Dia aktif di Gerakan Pemuda Ansor Maluku Utara dan terlibat dalam sejumlah periode kepengurusan.
Keterlibatan tersebut berlangsung pada masa kepemimpinan Salim Taib periode 2019–2022, kemudian berlanjut pada periode Muhtar Yusup dan Yamin L. Tjokra. Sunaidin juga sempat dipercaya sebagai Sekretaris Wilayah Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKA PMII) Maluku Utara.
Pengalaman organisasi itu menjadi bagian dari perjalanan kaderisasinya di lingkungan NU. Sementara pengalaman akademik dan birokrasi kampus menjadi modal lain yang digunakan untuk merumuskan arah pengembangan UNUTARA.
Dalam pencalonannya, Sunaidin menempatkan riset sebagai salah satu kekuatan utama universitas. Dia menawarkan visi untuk menjadikan UNUTARA unggul dalam inovasi riset, memiliki dampak terhadap pengembangan teknologi kepulauan, berorientasi entrepreneurship dan tetap berlandaskan nilai Ahlussunnah Wal Jamaah.
“Mengembangkan keunggulan riset berdasarkan potensi sumber daya lokal,” ujar Sunaidin, Jumat (21/8/2026).
Gagasan tersebut tidak terlepas dari karakter Maluku Utara sebagai daerah kepulauan dengan kekayaan sumber daya alam, wilayah pesisir serta keragaman masyarakat dan budaya. Menurut gagasan yang ditawarkannya, kondisi tersebut dapat menjadi sumber pengembangan penelitian sekaligus keunggulan akademik UNUTARA.
Riset, kata Sunaidin, juga tidak semestinya berhenti pada laporan penelitian. Hasil penelitian harus didorong menuju pengembangan teknologi, kekayaan intelektual, paten hingga prototipe yang dapat dimanfaatkan masyarakat.
“Mewujudkan riset berbasis teknologi untuk kesejahteraan dan kemajuan masyarakat,” lanjut dia.
Di sisi lain, Sunaidin memasukkan entrepreneurship sebagai bagian penting dalam arah pengembangan universitas. Potensi lokal di sektor pariwisata, pertanian, perikanan hingga peternakan dinilai memiliki ruang besar untuk dikembangkan melalui inovasi dan kewirausahaan berbasis kampus.
“Mewujudkan bisnis berbasis potensi lokal untuk kesejahteraan masyarakat pesisir dan pulau-pulau,” ucap dia.
Gagasan tersebut menunjukkan keinginan agar UNUTARA tidak hanya menghasilkan lulusan, tetapi juga ikut menciptakan nilai tambah dari potensi yang dimiliki masyarakat. Kampus diharapkan dapat menjadi ruang bertemunya pengetahuan, teknologi, dunia usaha dan kebutuhan masyarakat.
Dalam tata kelola universitas, Sunaidin juga mendorong penguatan birokrasi dengan memaksimalkan sumber daya manusia. Dosen, tenaga kependidikan dan mahasiswa ditempatkan sebagai bagian penting dalam membangun kampus.
Kerja sama menjadi bagian lain dari arah yang ditawarkannya. UNUTARA didorong membangun hubungan yang lebih luas dengan dunia industri, pengusaha, pemerintah, legislatif dan masyarakat.
Kerja sama akademik dan riset juga diarahkan tidak hanya di tingkat lokal. Sunaidin membuka gagasan kolaborasi dengan perguruan tinggi lain pada tingkat regional, nasional hingga internasional.
Namun, pengembangan akademik dan teknologi tetap ditempatkan dalam kerangka identitas UNUTARA sebagai perguruan tinggi yang lahir dari lingkungan Nahdlatul Ulama. Nilai keislaman moderat, toleransi dan kearifan lokal menjadi bagian dari karakter yang ingin diperkuat.
“Menguatkan nilai-nilai karakter Islam Moderat dan Bermartabat,” timpal dia.
Bagi Sunaidin, pengembangan UNUTARA pada akhirnya harus berjalan beriringan dengan kebutuhan masyarakat Maluku Utara. Kampus tidak hanya dituntut menghasilkan lulusan, tetapi juga pengetahuan, inovasi dan solusi atas berbagai persoalan daerah.
Dengan latar akademik, pengalaman organisasi dan pengalaman mengelola universitas, Sunaidin kini memasuki tahapan baru dalam perjalanan profesionalnya. Seleksi rektor definitif akan menjadi ruang untuk menguji sejauh mana pengalaman dan gagasan tersebut dapat diterjemahkan menjadi program yang konkret bagi UNUTARA.
Seluruh gagasan itu kemudian dirangkum dalam moto yang ditawarkan Sunaidin: “UNUTARA, Maju Bersama Membangun Ilmu Pengetahuan.”(*)


