radartimur.id

Dari Informasi ke Transformasi

Selasa, 25 Agustus 2026

26 Hari di Tengah Pasifik, Esau Bertahan dari Lapar, Haus hingga Menemukan Jalan Pulang

Laporan : Ardi Kailul

Editor : Muhammad Rizal

Setelah 26 hari terombang-ambing di tengah luasnya Samudra Pasifik, Esau Sidemo (57) akhirnya kembali ke rumah dan berkumpul bersama keluarganya. Kepulangannya membawa kelegaan, sekaligus menyisakan kisah panjang tentang perjuangan seorang nelayan mempertahankan hidup ketika daratan sudah tak terlihat dan pertolongan tak kunjung datang.

Nelayan asal Desa Bido, Kecamatan Pulau Batang Dua, Kota Ternate, itu tidak pernah membayangkan aktivitas melaut pada 7 Juli 2026 akan membawanya begitu jauh dari kampung halaman. Saat berada di laut, kondisi cuaca dan arus membuat perahu yang digunakannya kehilangan arah. Perlahan, perahu semakin terbawa arus hingga Esau berada jauh di tengah lautan.

Hari pertama berlalu. Kemudian hari kedua, ketiga dan hari-hari berikutnya. Daratan tak kunjung terlihat. Tidak ada kepastian kapan pertolongan akan datang. Yang tersisa hanya perahu kecil, hamparan Samudra Pasifik dan keinginan untuk bisa kembali bertemu keluarga.

Persediaan makanan dan air bersih semakin terbatas. Dalam keadaan seperti itu, Esau tidak lagi bisa memilih makanan sebagaimana dalam kondisi normal. Apa pun yang tersedia harus dimanfaatkan untuk mempertahankan hidup.

Ketika rasa haus semakin kuat dan tidak ada lagi air bersih yang bisa diminum, Esau bahkan terpaksa meminum air urinnya sendiri. Rasa lapar dilawan dengan apa yang diberikan laut. Ikan yang tiba-tiba masuk ke dalam perahunya dimakan. Burung laut yang berhasil ditangkap juga menjadi sumber makanan.

Di tengah keterbatasan itu, Esau menemukan buah kelapa yang terbawa arus. Kondisinya sudah membusuk dan sudah tidak layak untuk dimakan dalam keadaan normal. Namun di tengah lautan, tidak ada banyak pilihan. Kelapa yang tersisa tetap dimakan demi mempertahankan hidup.

Semua itu dilakukan bukan karena pilihan, tetapi karena keadaan memaksanya untuk terus bertahan.

Hari demi hari dilalui dalam kondisi yang sama. Panas matahari, dinginnya malam, rasa lapar, haus dan ketidakpastian menjadi bagian dari keseharian Esau. Dalam kesendirian di tengah laut, satu-satunya yang terus dijaga adalah harapan untuk bisa ditemukan dan kembali pulang.

Harapan itu akhirnya terjawab setelah kurang lebih 26 hari. Pada 1 Agustus 2026, Kapal kargo LNG Endeavour berbendera Prancis menemukan Esau di Samudra Pasifik pada koordinat 07°33.5′ LU / 138°59.7′ BT. Awak kapal kemudian melakukan evakuasi dan memberikan pertolongan. Setelah berhari-hari hanya ditemani lautan, untuk pertama kalinya Esau kembali melihat manusia yang datang bukan sebagai bayangan, tetapi sebagai pertolongan yang benar-benar nyata.

Esau kemudian menjalani penanganan medis di atas kapal dan Rumah Sakit China sebelum akhirnya dapat kembali ke Indonesia dan berkumpul bersama keluarganya.

Kisah perjuangan itu mendapat perhatian Kapolda Maluku Utara Irjen Pol. Arif Budiman. Pada Minggu (23/8/2026), Kapolda bersama jajaran mendatangi kediaman saudara Esau di Kelurahan Tubo, Kota Ternate Utara.

Pertemuan tersebut menjadi kesempatan bagi Kapolda untuk melihat langsung kondisi Esau sekaligus mendengar cerita tentang bagaimana seorang nelayan Maluku Utara bisa bertahan selama hampir satu bulan di tengah Samudra Pasifik.

Di hadapan Kapolda, Esau menceritakan pengalaman yang dilaluinya sejak perahu terbawa arus hingga akhirnya ditemukan kapal berbendera Prancis.

Bagi Irjen Pol. Arif Budiman, kisah tersebut merupakan pengalaman luar biasa. Bertahan selama 26 hari dalam kondisi serba terbatas menunjukkan kuatnya keinginan Esau untuk tetap hidup.

“Beliau (Esau Sidemo) ini terdampar di Samudra Pasifik kurang lebih 26 hari dan masih bisa bertahan hidup sebelum dievakuasi oleh kapal berbendera Prancis,” ujarnya.

Apa yang dilakukan Esau selama berada di tengah laut, menurut Kapolda, merupakan bentuk perjuangan dalam situasi darurat.

“Semua itu terpaksa dilakukan untuk bertahan hidup,” ungkapnya.

Pengalaman Esau sekaligus menjadi pengingat bagi para nelayan di Maluku Utara bahwa laut tidak selalu bersahabat. Kondisi cuaca dapat berubah, arus dapat membawa perahu keluar dari jalur dan perjalanan yang awalnya biasa saja dapat berubah menjadi situasi yang mengancam keselamatan.

Karena itu, Kapolda mengingatkan nelayan agar tidak memaksakan diri melaut ketika kondisi cuaca dan gelombang tidak memungkinkan. Kondisi perahu, mesin, alat komunikasi dan perlengkapan keselamatan juga harus dipastikan sebelum meninggalkan daratan.

“Pesan saya ke semua nelayan, jangan paksakan diri melaksanakan aktivitas melaut jika gelombang tinggi,” tegas Kapolda.

Selain memberikan dukungan moril, Kapolda Maluku Utara bersama jajaran menyerahkan bantuan sembako kepada Esau dan keluarganya. Bantuan tersebut menjadi bentuk perhatian Polri kepada seorang warga yang baru saja melewati masa sulit selama hampir satu bulan di tengah lautan.

Bagi Esau, perhatian itu memiliki arti tersendiri. Setelah melewati perjalanan panjang yang penuh ketidakpastian, dia tidak hanya kembali kepada keluarga, tetapi juga merasakan kepedulian dari orang-orang yang datang untuk memastikan dirinya benar-benar baik-baik saja.

“Tidak banyak yang bisa kami sampaikan selain ucapan terima kasih. Bantuan berupa sembako ini merupakan bukti kepedulian Polri terhadap kami,” kata Esau.

Kini, laut yang selama 26 hari menjadi tempat Esau mempertaruhkan hidupnya telah ditinggalkan. Daratan kembali menjadi tempat berpijak, keluarga kembali menjadi tempat berbagi cerita dan rumah kembali menjadi tujuan.

Perjalanan itu mungkin telah berakhir, tetapi kisahnya akan terus melekat. Esau membawa pulang pengalaman tentang bagaimana rasa lapar, haus, ketakutan dan kesendirian dapat dihadapi ketika seseorang masih memiliki alasan untuk bertahan.

Selama 26 hari, Samudra Pasifik seakan menguji batas kemampuan seorang nelayan. Namun di tengah luasnya laut dan panjangnya waktu menunggu pertolongan, Esau tidak kehilangan satu hal yang paling penting yaitu harapan untuk pulang.

Dan akhirnya, setelah 26 hari, harapan itu benar-benar menemukan jalannya.(*)