radartimur.id

Dari Informasi ke Transformasi

Selasa, 19 Mei 2026

EKOTEOLOGI DALAM FILSAFAT JOU SE NGOFA NGARE

Oleh : Salim Taib

Ketua Yayasan Pendidikan Nahdiyatul Mulk Provinsi Maluku Utara

Krisis lingkungan hidup yang dihadapi umat manusia dewasa ini merupakan akibat langsung dari pengelolaan lingkungan hidup yang tidak didasarkan pada kesadaran etika, moral dan spiritual yang tertanggung jawab. Dengan kata lain, krisis ekologi yang dihadapi umat manusia sebetulnya berakar dalam krisis etika, krisis moral dan krisis spiritual manusia. Kesadaran akan adanya kehidupan manusia yang juga dimungkinkan oleh ketersediaan sumber daya alam ciptaan Tuhan, pada kenyataannya telah terkikis habis oleh egoisme manusia yang tanpa hati nurani mengeruk, menggarap alam lingkungan. Manusia telah melakukan ketidakadilan yang sangat memojokkan eksistensi dirinya, bahwa manusia dijadikan atau diciptakan untuk bertanggung jawab terhadap alam ciptaan Allah yang lainnya. Sebuah tanggung jawab perjuangan untuk keselamatan semesta, sejak mulanya telah dianugerahkan kepada manusia oleh sang khalik.

Melalui alam, Allah menyediakan kepada manusia apa yang menjadi kebutuhan untuk bisa dinikmati, namun ketika manusia puas mengambil apa yang ada di alam, manusia juga telah merampas apa yang mestinya menjadi milik esensial pada alam itu sendiri, yakni kehidupan. Manusia harus menyadari, bahwa tidak ada kepuasan final dirasakan oleh manusia walau manusia mengambil segala sesuatu yang dimiliki oleh alam, kecuali manusia sendiri sadar, bahwa kepuasan akan dinikmati jika ia memberi kesempatan juga kepada alam untuk menikmati apa yang ada pada dirinya (alam) itu sendiri. Tidak ada manusia yang puas ketika melihat alam mengalami kurasakan, bahkan sebaliknya, adakalanya manusia turut berbahagia jika melihat alam ini menjadi rusak. Mungkin hal ini tidak begitu menggugah manusia, padahal manusia sendiri mengalami dan menikmati akibat langsung dari kegersangan dan kerusakan lingkungan.

Ekoteologi yang menempatkan relasi yang seimbang antara manusia dan Lingkungan alam sekitar, karena itu manusia harus menegaskan kesadarannya untuk tidak mengesploitasi besar-besaran sumber daya alam dan lingkungan, karena manusia diciptakan oleh Allah sebagai khalifah di muka bumi sekaligus diberi mandat untuk mengelolah alam raya demi kemakmuran manusia. Dalam demensi mandatoris itulah terkadang manusia dengan caranya sendiri mengelola alam dalam keserampangan, karena alam ditempatkan sebagai sumber daya yang harus di eksploitasi habis, oleh karena itu ada beberapa aspek yang dapat diperbincangkan dalam membangun Teologi lingkungan hidup Dimana konsep tentang Allah dalam Teologi Lingkungan, agar manusia menumbuhkan kesadaran teologisnya bahwa alam ini ciptakan Allah sebagai tanda-tanda atau ayat-ayat yang harus di baca oleh manusia. Allah yang digambarkan dalam teologi lingkungan hidup adalah Allah sebagai: pencipta, pemelihara dan penyelamat dunia. Sebagai pencipta, Allah dipahami sebagai causa prima (sebab yang utama), zat yang menjadikan dunia (manusia dan segala makhluk yang lain).

Jou Se Ngofa Ngare

Jou Se Ngofa Ngare adalah filsafat “mancia himo-himo ternate” yang di atas landasan filsafat itu etika di bangun, tradisi di bangun, adat seatoran di tegakkan. Jou se ngofa ngare adalah pandangan hidup, filsafat dan nilai-nilai kebaikan universal, jou se ngofa ngare sebuah filafat yang sangat filosofis karena dimulai dengan runutan pertanyaan mendalam yakni “toma ua hang moju toma limau gapi matubu koga idadi sosira Jou se Ngofa Ngare” jika diterjemahkan pengertiannya menjadi “toma yang berarti dari menunjukkan sebuah tempat, ua sebelum, hang sebelum, moju sebelum , jadi kalimat toma ua hang moju dapat di defensikan dari satu tempat sebelum, sebelum dan sebelumnya alam ini diciptakan, “toma limau gapi matubu” di suatu tempat yang tertinggi. “Koga Idadi Sosira” apa yang diciptakan awal mula? jawaban atas satu pertanyaan mendalam itu para leluhur memberi argumentasi filosofis yang terjadi duluan di suatu tempat yang tertinggi adalah Jou Se Ngofa Ngare (Tuhan dan Hamba), sehingga filsafat Jou sengofa ngare secara universal dapat di defenisikan dari suatu tempat sebelum, sebelum, dan sebelumnya disuatu tempat yang tertinggi apa yang terjadi duluan, yang terjadi duluan adalah Tuhan dan Hamba.

Jou se ngofa ngare yang dalam runutan pengertian filosofis itu dapat di defenisikan kembali dalam suatu ruang kekosongan sebelum alam raya dan seluruh isinya diciptakan yang Ada hanyalah yang Ada dan disaksikan oleh yang keberadaannya diadakan oleh yang Maha Ada, jou adalah yang Ada dan Ngofa Ngare adalah yang di adakan oleh jou yang Maha Ada. Jou se Ngofa Ngare adalah filsafat transenden, idea tertinggi sekaligus pandangan hidup universal orang-orang Maluku Kie Raha yang harus dibumikan terutama dalam relasi manusia dan alam raya sehingga pengelolaaan alam raya dan lingkungan benar-benar relasi yang saling keterkaitan, hal ini sebagaimana Lawrence E.Sullivan profesor bidang kajian sejarah agama-agama Universitas Cambridge, menyatakan bahwa secara ekologis kehidupan bersama terkait erat dengan semesta dan secara orisinil tidak bisa dipisahkan, pernyataan Sulivian ini menjadi fondasi teoritis yang memadai untuk menunjukan bahwa pandangan dan laku ekologis manusia terdapat andil agama yang mengkonstruksinya, Agama akan selalu menghadirkan paradigma kosmologis dan pada akhirnya menuntun pola perilaku serta cara interaksinya terhadap alam.

Relasi Jou-Se Ngofa Ngare dan Alam 

Ahmad Sahida, dalam God, Man and Nature (2018:187), menjelaskan bahwa kehidupan manusia di dunia ini dengan beberapa tingkatan yang berbeda, sehingga apabila kita meninggalkan tingkatan yang normal sehari-hari maka akal sehat menyatakan bahwa benda-benda, tumbu-tumbuhan. Pepohonan yang berada di alam tampak hanyalah sebuah benda-benda, namun jika kita berada pada ruang Existens maka kita menemukan diri berada di dunia asing, berdiri di hadapan Tuhan yang secara filsafat dia di sebut das Umgreifende yaitu sesuatu yang sangat besar yang meliputi segalanya, yang berasal dari atas Yang Maha Meliputi ini, selalu berbicara kepada kita, tidak secara langsung, tetapi melalui fenomena alam. Pada ruang Existens atau ruang hakekat keberadaan sebagaimana terjabarkan dengan makna-maknanya dalam filsafat Jou Se Ngofa Ngare bahwa di alam exestens atau alam “anta baranta”, alam “ghaibul ghaib” yang terjadi duluan adalah Tuhan dan Hamba, sehingga relasi Tuhan dan hamba atau Jou se-Ngofa Ngare dalam alam anta baranta adalah relasi pengakuan ngofa ngare kepada jou yang dalam perspektif Islam pengakuan yang bunyinya “alastubirabbikum qaaluu bala syhidna” Jou bertanya pada ngofa ngare apakah Aku ini adalah Tuhanmu, ngofa Ngare menjawab benar Engkau adalah Tuhan kami.

Setelah pengakuan hamba akan eksistensi ke-Tuhanan, Tuhan kemudian mengabarkan proses penciptaan manusia dimuka bumi dengan tujuan mengelolah dan memakmurkan bumi, pada konteks ini sesungguhnya relasi manusia dan alam “Hablum Minal alam” adalah pada posisi yang seimbang, setara, tidak berwujud eksploitatif yang oleh Toshihiko Izutzu menjelaskan alam raya adalah “Tulisan Rahasia Tuhan yang sangat besar, alam merupakan lambang, simbol dan sandi dalam narasi ini Allah kemudian menyebut dirinya sebagai al-Muhit berbicara pada kita secara tidak langsung melalui penciptaan alam raya dengan segala isinya, karena itu menurut Toshihiko Izutzu alam yang di hamparkan Allah merupakan ayat Allah dan sifat simboliknya hanya dapat dimengerti oleh orang-orang yang memiliki akal, orang yang bisa berfikir (tafakkur) dalam arti yang sebenarnya.

Sebagaimana dijelaskan oleh Murtadha Muthahari dalam Man and Universe (2002:49) bahwa alam adalah satu unit yang hidup, dan kedudukan manusia dan alam sama-sama sebagai makhluk, walaupun manusia diberi legitimasi oleh Tuhan sebagai khalifah fil ard mengelolah alam untuk kemakmuran bersama dengan perkataan lain alam diciptakan oleh Allah untuk manusia menemukan dan mewujudkan kemanusiaannya. Sehingga nalar keserakahan berada pada titik terendah, manusia akan mengendalikan diri bahwa kehidupan ada saling terkait dengan mahluk lain, kesadaran ekoteologi manusia dengan menjaga serta memelihara lingkungan adalah bagian dari konstruksi keyakinan keagamaan. Pada konteks ini filsafat jou sengofa ngare menemukn relevansinya dengan konsepsi ekoteologi, dimana realitas kehidupan yang menjadi tradisi dalam tata cara berkebun para leluhur yang diwariskan turun-temurun hingga kini ketika pembongkaran lahan hutan untuk dijadikan kebun didahului dengan “siloloa” karena alam adalah unit yang hidup, oleh Toshihiko Izutsu menyebut Tulisan rahasiaTuhan, maka siloloa adalah wujud menjaga relasi bahwa alam dengan berbagai kehidupan di dalamnya harus diperlakukan dengan baik, ada mahluk yang mendiami, ada pohon tempat hunian mahluk halus, ada jin, ada moro, ada meki semua itu bagian dari mahluk yang menghuni alam raya atau hutan. Hutan yang ditumbuhi pohon-pohon besar selain berfungsi menyimpan debit air hujan untuk menghalau banjir, hutan juga memiliki tuan, oleh karena itu disetiap pembersihan dan penebangan pohon sebelumnya oleh para leluhur meminta pada tuannya, meminta pada nabinya yang diberikan mandat oleh Allah. Begitulah etika leluhur dalam menebang hutan untuk dijadikan kebun, tidak memperlakukan secara sembarangan, semua itu terkikis habis dengan maraknya investasi tambang, menggunduli hutan, merusak lingkungan.