RATU YANG BERSUJUD
Oleh : Salim Taib
Dosen Unutara dan Mahasiswa S3 IAIN Ternate
Ratu gelar bagi pemimpin perempuan yang memegang kekuasaan tertinggi di kerajaan (Raja Wanita) secara umum ratu juga sering disematkan pada wanita yang menonjol , dihormati. Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Ratu dearitkan; 1. Raja Wanita, permaisuri, 2. Wanita pemenang perlombaan yang menyangkut kegiatan khas kewanitaan (seperti dalam perlombaan memakai kebaya), 3. Wanita yang paling menonjol dalam bidangnya, 4. Tokoh yang diharapkan (diidealkan) menjadi pembebas dari kesengsaraan.
Ratu yang bersujud, pilihan judul tulisan ini terinspirasi dari sebuah novel karangan Mahdavi, tidak bermaksud menyandingkan isi cerita dari buku novel Mahdevi yang mengangkat cerita tentang seorang wanita bernama Charlotte dengan sang Ratu yang bertahta di puncak Gosale, Charlotte sebagai tokoh utama dalam cerita novel tersebut adalah wanita blesteran Indo-Jerman yang aktif membuat gerakan perlawanan terhadap kekuasaan kaum Adam di dunia Timur dan Barat. Charlotte dan kelompoknya menuntut kesetaraan perempuan tanpa bias gender gender. Namun sifat idealism Charlotte akan mematahkan pikiran dan gerakannya sendiri. Sebaliknya, Lale Sabitoglu, sepupu Charlotte adalah wanita muslimah dari Indonesia yang membawa kaum wanita pada derajatnya di mata Islam. Ia mampu menjawab segala keraguan semua orang termasuk Charlotte tentang Islam dengan kepandaian dan kelembutan sikapnya.
Melihat Lale berhijab, Charllote bertanya,“Tidakkah itu mengekang potensi kaum perempuan muslim untuk berekspresi?. Charllotte menanyakan hal lainnya, seperti “Bagaimana Islam memandang hubungan antara laki-laki dan perempuan Lale? atau pertanyaan kontroversi yang sering disalah artikan oleh orang banyak, “Aku pernah mendengar bahwa hukum waris Islam menggariskan bahwa bagian perempuan setengah dari bagian laki-laki. Apakah itu benar? Mengapa wanita harus memakai jilbab? Bagaimana kedudukan wanita di dalam Islam? Dan masih banyak pertanyaan lain yang lumrah dipertanyakan oleh sebagian kaum non-muslim bahkan umat muslim sendiri.
Berbagai pertanyaan di atas muncul dalam diri Charllotte Melati Neumuller, tokoh utama dalam novel Ratu yang Bersujud, seorang aktivis feminis yang menentang kekuasaan kaum lelaki di negaranya, Jerman dan bahkan dunia. Buku Ratu yang Bersujud menjawab semua pertanyaan tersebut secara rasional karena semua berdasar pada ayat-ayat suci Al-Qur’an dan hadits. Pergulatan di dalam diri Charllote, rasa bersalah, serta pengampunan di dalam jiwanya menjadi titik klimaks dari Novel Ratu yang Bersujud tidak hanya menyajikan kisah tentang persaudaraan, teman, keluarga, dan hal romantis, tapi juga memberi paradigma baru tentang Islam yang sesungguhnya dan bagaimana Islam mengangkat derajat dan martabat, serta kebebasan kepada kaum wanita.
Membaca novel “Ratu Yang Bersujud” memotret sebuah gerakan Perempuan menuntut kesetaraan Gender terutama rebutan-rebutan kuasa yang di dominasi kaum lelaki, dengan lakon utamanya perempuan bernama Charlotte, dengan teman-temannya membentuk gerakan dengan mengarusutamakan isyu perempuan, perempuan harus dipandang setara dengan kaum laki-laki dalam ruang publik, dan inspirasi perjuangan charlotte di dapatkan dalam inti ajaran Islam, bahwa Islam mengangkat harkat dan martabat kaum perempuan. Gambaran cerita novel “Ratu yang Bersujud” dalam lanskap demokrasi Provinsi Maluku Utara telah membuka tabir kebuntuan sejarah rebutan tahtah yang di dominasi oleh kaum laki-laki, demokrasi membuka ruang kompetitif yang setara antara warga, tidak memandang keperempuanan dan kelaki-lakian dalam relasi biologis.
Kemenangan dia “Ratu” seorang perempuan berdarah chines sebagai Gubernur Maluku Utara pada Pilkada tahun 2024, mematahkan sejarah politik kekuasaan yang didominasi kaum laki-laki, dalam perjalanan tahtah kekuasaannya sebagai ratu selama kurun waktu hampir dua tahun, memperlihatkan kemampuannya merekayasa ke-Ratuan-nya begitu tren, anggun dan mempesona, lagi sangat cantik jika dilihat dalam layar kamera, omongan dan tuturannya begitu indah nan menarik, menontonnya akan terhipnotis, daya tarik kata yang terucapkan dalam lisan Sherly sebagai ratunya orang Maluku Utara memasuki relung-relung bathin ruang publik sebuah fenomena masa kini yang tidak dapat dihindari, bahwa layar kaca media sosial harus di pacu argoritmanya hingga penilaian publik benar-benar di ukur. Barometer argoritma sangat tergantung seberapa besar dirinya ditampilakan dalam layar kaca yang harus di firalkan, ruang promosi kemampuan kepemimpinan di medsos dan tampilan layar kaca lainnya secara massif , tidak tanggung-tanggung menelan biaya meliaran, dan Sherly sang ratu ditangannya semua itu dengan mudah dilakukan.
Kemasyhuran tahta “sang ratu”, yang mematahkan dogma ketidakmampuan kepemimpinan kaum perempuan berbanding terbalik dalam layar kaca, bahkan ketika kita berjumpa dengan para kolega diberbagai daerah saat ini pasti melontarkan pernyataan bahwa Sherly Gubuernur cantik Maluku Utara dan cerdas telah membumikan dirinya dalam panggung perpolitikan nasional. Sherly Sang ratu telah menaikkan level status Provinsi Maluku Utara sebagai Provinsi berinovasi tertinggi, pertumbuhan ekonomi tertinggi, dan termasuk mendapatkan penilaian sebagai Provinsi yang mengalami percepatan pembangunan di atas rata-rata secara nasional, tentu semua itu menaruh ekpektasi publik atas tahtah yang digenggamnya.
Hharga kecantikan sang ratu menembus angka 548 juta, angka yang sangat fantastik, harga kecantikan tidak perlu ditenderkan, tidak perlu di lelang, juga tidak perlu penunjukan langsung walau angkanya setengah meliar lebih, menurut berbagai pemilik salon kacantikan di kota Ternate angka 548 juta itu angka yang kecil jika itu dalam setahun anggarannya, mahalnya harga kecantikan sang ratu, andaikan harga kecantikan sang ratu dialokasikan untuk beasiswa doctoral puluhan orang akan menyelesaikan studi doktoralnya, harga layar kaca sang ratu dalam tampilan berbagai media baik nasional maupun media lokal, medsos, tiktok, youtube dan lain sebagainya, memberi jawaban betapa dahsyatnya pemborosan itu, Sang ratu terus memberikan wacana program-program reaktif muncul atau dimunculkan berdasarkan keinginan sang ratu bukan kebutuhan rakyatnya yang telah di bahas, direncanakan dan di eksekusi kebijakannya.
Sang ratu suka menggiring wacana, wacana, dan wacana mulai dari sofifi menjadi Daerah otonomi baru, keberangkatan haji 2025 menggunakan sistem blok seat bukan carteran pesawat yang menuai polemik publik husus ummat Islam, kemudian sang wakil ratu memasang badannya menganulir wacana yang telah bergulir bahwa jama’ah haji berangkat ternate-makassar menggunakan carteran pesawat, dalam catatan tahun 2025 serapan APBD hampir mengalami titik nadir resapan anggaran melemah, karena terjadi efesiensi yang berulang-ulang sampai 5 kali pembahasan efesiensi ditengah apbd yang telah berjalan, telah dibahas bersama DPRD, tindakan efesiensi berjalan satu arah berdasarakan keinginan sang ratu, opd tidak berani mengeksekusi program-programnya, opd pelayan-pelayan sang ratu takluk tak berkutik, wacana program membingungkan berulang lagi dengan pendidikan jarak jauh anak putus sekolah di tingkat smp, sekolah kedinasan dan masih banyak lagi sang Ratu memunculkan program-program “tiba akal tiba saat” disinilah meminjam bahasanya sang kritikus Moktar Adam sofifi metropolitan janji politik yang terlupakan, visi serta misi yang dirancang sebagai bahan jualan politik pada rakyatnya terlupakan, dua opd yang menjadi jantung nadi kehidupan masyarakat yakni Dinas pertanian dan dinas perikanan oleh sang Ratu setlah melakukan evaluasi dan percermatan terhadap kinerja mereka menjadi catatan merah yang harus dievaluasi itupun hanya tuturan lipservise serta kamunflase kata dan paradoks kepemimpinan sang “Ratu” semuanya itu memunculkan pertanyaan besar di akhir tulisan ini apakah “sang ratu” dengan otoritas yang dimilikinya bersujud kepada rakyatnya ataukah bersujud pada origarki, bersujud pada kelompoknya, bersujud pada identitas etnisnya, dengan realitas distribusi alokasi sumber daya tahun 2026 dimonopoli oleh satu kelompok kecil yang menguasai ratusan meliaran so sang ratu bersujud pada dua arah kiblat. Teman-teman bercerita tentang hebatnya piato Sang ratu saat berpidato basah oleh linangan air mata, ia bicara rakyat miskin sambal menggenggam kerak pejabat, di atas mimbar ia seperti darah yang menangisi nasib kampong namun dibalik semua itu ada lingkaran bisnis yang duduk dikursi belakang, kebijakannya kerap berkedok berpihak pada warga di permukaan, tapi mengamankan tambang dan logistic di akar, harapan menamainya ‘ratu yang renda hati karena ia sujud atas nama kasih dan keadilan tapi skeptik berbisik sujudnya hanya topeng , kepentingan oligarki adalah sajadah yang sesyngguhnya, ia berbicara perlawanan atas nama kesejahteraan, tapi gerbong investasi tetap melaju tanpa hambatan, ia menangis membca data kemiskinan namun ia diam saat konsesi tanah digerogoti.

