radartimur.id

Dari Informasi ke Transformasi

Sabtu, 5 September 2026

Dari Teluk Kupa-Kupa Misi Senyap Kapal Selam Menuju Pembebasan Irian Barat

Laporan : Ardi Kailul

Editor : Muhammad Rizal

Pantai Kupa-Kupa di Halmahera Utara hari ini lebih dikenal sebagai kawasan wisata bahari. Hamparan pasir, laut yang tenang dan suasana pesisir yang masih alami menjadi daya tarik bagi mereka yang datang menikmati kawasan tersebut.

Namun, jauh sebelum Kupa-Kupa dikenal sebagai destinasi wisata, teluk ini pernah menjadi bagian dari sejarah penting operasi kapal selam Indonesia. Dari perairan Halmahera Utara, kapal-kapal selam Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) bergerak menuju Irian Barat dalam rangkaian operasi infiltrasi pada masa perjuangan pembebasan wilayah tersebut dari Belanda.

Catatan resmi yang diterbitkan Kementerian Pertahanan melalui publikasi sejarah TNI Angkatan Laut menyebut Kesatuan Kapal Selam-15 (KKS-15) diresmikan pada 1 Juli 1962 dan berpangkalan di Kupa-Kupa, Halmahera Utara. Pembentukan kesatuan ini berkaitan dengan kebutuhan ALRI menjalankan operasi infiltrasi melalui laut dalam kampanye pembebasan Irian Barat.

Kupa-Kupa dengan demikian bukan sekadar tempat kapal berlabuh. Kawasan ini menjadi salah satu titik penting dalam pengerahan kekuatan kapal selam Indonesia ketika situasi Indonesia-Belanda atas Irian Barat semakin memanas.

Kisah tersebut berada dalam sejarah Korps Hiu Kencana, tetapi secara kronologis Kupa-Kupa bukan tempat lahirnya korps tersebut. Korps kapal selam Indonesia telah dibentuk lebih dahulu pada 1959, ketika Indonesia menerima kapal selam dari Uni Soviet. Kupa-Kupa kemudian menjadi salah satu pangkalan operasional penting bagi kekuatan kapal selam dalam fase Trikora.

Dari pangkalan tersebut, sebuah operasi yang kemudian dikenal sebagai Operasi Tjakra II dijalankan. Publikasi sejarah TNI AL mencatat operasi ini melibatkan tiga kapal selam kelas Whiskey, yakni RI Trisula-402, RI Nagarangsang-404 dan RI Tjandrasa-408. Ketiganya ditugaskan membawa pasukan khusus untuk melakukan infiltrasi ke Irian Barat.

Pada 15 Agustus 1962, RI Tjandrasa-408 yang dikomandani Mayor Pelaut Mardiono bertolak menuju Irian Barat. Kapal tersebut membawa 15 anggota Detasemen Pasukan Khusus RPKAD dengan misi melakukan pendaratan di kawasan Tanah Merah. Catatan Kementerian Pertahanan menyebut kapal tiba di sekitar perairan Teluk Tanah Merah pada 20 Agustus dan kemudian bersiap menjalankan pendaratan.

Misi itu tidak berlangsung mudah. Ketika pasukan hendak didaratkan, muncul cahaya peluru suar dan sorotan pesawat patroli maritim Neptune Belanda. Menyadari posisi mereka telah terdeteksi, RI Tjandrasa segera menyelam dan menjauh dari pantai.

Malam berikutnya, upaya kembali dilakukan. Pada 21 Agustus 1962, RI Tjandrasa mendekati pantai Tanah Merah dan kali ini berhasil menurunkan tim RPKAD menggunakan tiga perahu karet. Pasukan kemudian menyusup ke wilayah Irian Barat. Peristiwa tersebut menjadi salah satu catatan penting keberhasilan operasi infiltrasi kapal selam ALRI dalam kampanye Trikora.

Catatan lain yang dipublikasikan Historia juga merekam keberangkatan RI Trisula dari Teluk Kupa-Kupa pada 15 Agustus 1962. Kapal tersebut membawa tim pasukan khusus RPKAD dan menjalankan misi menuju kawasan Papua. Sumber sejarah lokal yang mengutip buku Mission Accomplished karya Atmadji Sumarkidjo juga memperlihatkan KRI Trisula dan kapal selam lain dari KKS-15 bersandar pada kapal tender RI Bengawan di Teluk Kupa-Kupa.

Di sinilah arti strategis Kupa-Kupa terlihat. Teluk yang kini menjadi bagian dari lanskap wisata Halmahera Utara itu pernah menjadi tempat kapal selam dipersiapkan sebelum menempuh perjalanan panjang menuju wilayah operasi. Dari sini, perang tidak selalu bergerak dengan dentuman senjata. Sebagian misi justru dilakukan dalam kesunyian, di bawah permukaan laut.

Keberhasilan operasi RI Tjandrasa kemudian mendapat penghargaan negara. Publikasi sejarah TNI AL mencatat RI Tjandrasa-408 beserta 61 awaknya dianugerahi Bintang Sakti berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 14 Tahun 1963. Penghargaan tersebut diberikan atas keberhasilan menjalankan misi dalam Operasi Tjakra II.

Jejak Kupa-Kupa juga sejalan dengan dokumentasi Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) mengenai perjuangan pembebasan Irian Barat. ANRI memiliki Guide Arsip Perjuangan Pembebasan Irian Barat 1949–1969, yang menunjukkan bahwa rangkaian perjuangan tersebut merupakan bagian penting dalam sejarah nasional Indonesia.

Kini, wajah Kupa-Kupa telah berubah. Kapal selam dan operasi militer tidak lagi menjadi pemandangan di teluk ini. Yang tersisa adalah pantai dengan pasir yang menarik, laut dan lanskap pesisir yang memiliki potensi wisata. Namun, potensi tersebut masih dapat dikembangkan lebih jauh, terutama karena Kupa-Kupa memiliki keunggulan yang tidak semata-mata bersumber dari keindahan alam.

Di tempat yang sama terdapat cerita tentang KKS-15, kapal selam kelas Whiskey dan Operasi Tjakra II. Sejarah tersebut dapat menjadi bagian dari identitas wisata Kupa-Kupa melalui papan informasi, dokumentasi arsip, penanda sejarah atau ruang edukasi sederhana yang menjelaskan hubungan kawasan ini dengan perjuangan pembebasan Irian Barat.

Dengan begitu, wisatawan tidak hanya datang untuk menikmati pasir dan laut. Mereka juga dapat mengetahui bahwa kawasan yang mereka pijak pernah menjadi salah satu titik penting dalam operasi kapal selam Indonesia menuju Irian Barat.

Kupa-Kupa pada akhirnya menyimpan dua wajah yang dapat berjalan beriringan. Di permukaan, adalah pantai dengan keindahan alam. Di baliknya, tersimpan sejarah tentang kapal selam yang bergerak senyap, membawa pasukan khusus dan menjalankan misi berisiko di tengah konflik Indonesia-Belanda.

Sejarah itu belum selesai karena masih berada di Kupa-Kupa, melekat pada teluk yang tenang dan pantai yang indah, menunggu untuk diteliti lebih dalam, dirawat dan diceritakan kembali sebagai bagian dari sejarah nasional yang pernah berlangsung dari timur Indonesia.(*)