radartimur.id

Dari Informasi ke Transformasi

Jumat, 30 Oktober 2026

20 Ribu Pohon Cengkeh Diperkirakan Terbakar, Warga Desak Penanganan Serius

RadarTimur.id, Bobong — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Pulau Taliabu, Maluku Utara, belum berhasil dipadamkan. Memasuki hari ke-27, kobaran api masih meluas dan telah menjangkau tiga kecamatan, yakni Lede, Taliabu Utara, dan Taliabu Barat Laut.

Dampak kebakaran semakin mengkhawatirkan karena merambah perkebunan cengkeh milik masyarakat. Ribuan pohon yang menjadi sumber penghidupan petani dilaporkan terbakar. Jumlahnya bahkan diperkirakan telah mencapai 20 ribu pohon.

Anto, salah seorang warga Taliabu, mengungkapkan bahwa berdasarkan perkembangan pemantauan bersama sejumlah rekan, sekitar 14 ribu pohon cengkeh telah terbakar berdasarkan pendataan sepekan sebelumnya.

Namun, seiring meluasnya kebakaran, jumlah pohon cengkeh yang terdampak diperkirakan terus bertambah.

“Data satu minggu lalu sekitar 14 ribu pohon cengkeh terbakar. Kemungkinan sekarang sudah berada di angka 20 ribuan pohon,” ungkap Anto, Jumat (30/10/2026).

Menurutnya, kebakaran yang berlangsung hampir satu bulan tersebut menjadi ancaman serius bagi masyarakat, terutama petani yang menggantungkan pendapatan keluarga dari hasil perkebunan cengkeh. Hingga memasuki hari ke-27, api belum berhasil dipadamkan.

Kebakaran pertama kali teridentifikasi pada 4 Oktober 2026 sekitar pukul 16.00 WIT di Desa Salati, Kecamatan Taliabu Barat Laut. Api kemudian meluas ke Desa Nggele pada 6–7 Oktober dan menjangkau wilayah Ufung, Kecamatan Taliabu Utara, pada 8 Oktober.

Dalam perkembangan berikutnya, kebakaran meliputi sejumlah desa di tiga kecamatan. Di antaranya Desa Salati, Onemai, dan Nggele di Kecamatan Taliabu Barat Laut; Desa Todoli di Kecamatan Lede; serta Desa Ufung, Padang, Nunu, dan Tikong di Kecamatan Taliabu Utara.

Melihat kondisi tersebut, Anto meminta perhatian serius pemerintah daerah untuk meningkatkan penanganan karhutla. Pemerintah diharapkan membantu masyarakat melakukan pemadaman secara maksimal agar api tidak terus meluas dan menambah kerusakan perkebunan warga.

Selain penanganan darurat, dirinya juga berharap pemerintah memberikan perhatian terhadap dampak kebakaran yang dialami petani. Pendataan kerugian dan langkah pemulihan perlu disiapkan, mengingat tanaman cengkeh membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk tumbuh dan kembali menghasilkan.

“Kami berharap pemerintah memberikan perhatian serius, membantu masyarakat melakukan pemadaman secara maksimal, serta memikirkan penanganan dampak kebakaran yang sudah dirasakan para petani,” harapnya.

Kata dia, bagi masyarakat Taliabu, pohon cengkeh bukan sekadar tanaman perkebunan, melainkan sumber pendapatan keluarga yang dipelihara selama bertahun-tahun. Jika kebakaran terus berlangsung, dampaknya tidak hanya dirasakan pada musim panen tahun ini, tetapi juga berpotensi memengaruhi perekonomian keluarga petani dalam beberapa tahun ke depan.

Karena itu, masyarakat berharap pemerintah daerah bersama instansi teknis dan seluruh pihak terkait segera memperkuat upaya pemadaman sekaligus menyiapkan langkah pemulihan pascakebakaran.

“Petani tidak seharusnya dibiarkan menanggung sendiri kerugian akibat bencana yang hingga kini belum berhasil dikendalikan,” timpal dia.(red)