radartimur.id

Dari Informasi ke Transformasi

Minggu, 1 November 2026

Pemuda Maluku Utara: Dari Kejayaan Rempah Menuju Era Karya

Oleh: Asmar Bani

Dosen Universitas Khairun dan Ketua Yayasan AIHN UNUTARA

Dua puluh tujuh tahun merupakan usia yang cukup matang bagi sebuah provinsi untuk mengevaluasi perjalanan dan menentukan arah masa depannya. Pada usia ini, Maluku Utara tidak lagi berada pada tahap mencari identitas sebagai daerah otonom baru. Provinsi yang lahir pada 12 Oktober 1999 melalui perjuangan panjang masyarakat kepulauan ini semestinya sudah mampu menunjukkan sejauh mana pemekaran wilayah membawa perubahan bagi kehidupan generasi penerusnya.

Para pendahulu memperjuangkan terbentuknya Provinsi Maluku Utara dengan harapan agar masyarakat tidak selamanya menjadi penonton di tanah sendiri. Pemekaran bukan sekadar memisahkan wilayah administrasi, membentuk pemerintahan baru, atau membuka ruang jabatan birokrasi. Lebih dari itu, pemekaran merupakan ikhtiar menghadirkan kesejahteraan, memperluas kesempatan, dan memberikan masa depan yang lebih baik bagi generasi muda.

Karena itu, dalam momentum peringatan Sumpah Pemuda 28 Oktober 2026, ada pertanyaan penting yang perlu direnungkan bersama: setelah 27 tahun Maluku Utara berdiri sebagai provinsi, sudahkah generasi mudanya memiliki ruang yang cukup untuk tumbuh, berinovasi, dan berkarya?

Pertanyaan ini penting karena masa depan Maluku Utara tidak cukup hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi, besarnya investasi, pembangunan infrastruktur, atau peningkatan pendapatan daerah. Masa depan juga harus diukur dari kemampuan generasi mudanya menciptakan lapangan kerja, mengolah potensi lokal, membangun usaha, menguasai teknologi, dan membawa produk daerah bersaing di pasar nasional maupun internasional.

Dari Rempah ke Karya

Sejarah Maluku Utara memberikan pelajaran besar tentang bagaimana kekayaan daerah mampu menarik perhatian dunia. Berabad-abad lalu, Ternate dan Tidore menjadi pusat perhatian bangsa-bangsa Eropa karena cengkeh dan pala. Rempah-rempah dari kepulauan ini memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi dan menjadi bagian penting dalam perdagangan dunia.

Namun, sejarah kejayaan rempah itu menyimpan ironi. Dahulu dunia datang ke Maluku Utara untuk mendapatkan kekayaan alamnya. Hari ini, kita masih menghadapi persoalan mendasar dalam mengolah dan meningkatkan nilai tambah komoditas tersebut.

Cengkeh, pala, kopra, dan hasil perikanan masih banyak dipasarkan dalam bentuk bahan mentah. Padahal, nilai ekonomi yang lebih besar justru terdapat pada proses pengolahan, pengemasan, pemasaran, penciptaan merek, hingga distribusi produk.

Kita menjual pala dalam karung, sementara produk turunannya dapat dipasarkan sebagai minyak atsiri, kosmetik, bahan pangan, dan berbagai produk bernilai tinggi. Kita menjual ikan mentah, sementara peluang pengembangan industri pengolahan ikan, makanan kemasan, hingga produk siap konsumsi masih terbuka luas.

Di sinilah generasi muda harus mengambil peran. Mereka tidak boleh hanya menjadi tenaga kerja dalam rantai ekonomi yang dibangun pihak lain. Pemuda Maluku Utara harus mulai menjadi pelaku yang menciptakan produk, membangun merek, mengembangkan usaha, dan menguasai pasar.

Persoalannya bukan karena pemuda Maluku Utara tidak memiliki kreativitas. Banyak anak muda memiliki kemampuan desain grafis, videografi, pemasaran digital, penguasaan bahasa asing, dan keterampilan teknologi informasi. Mereka mampu mengikuti perkembangan zaman, tetapi kreativitas tersebut belum sepenuhnya terhubung dengan potensi ekonomi dan kekayaan daerahnya sendiri.

Ada tiga persoalan mendasar yang perlu menjadi perhatian bersama.

Pertama, krisis kepercayaan diri sebagai masyarakat kepulauan. Sebagian generasi muda masih menganggap produk luar daerah lebih bergengsi dibandingkan produk yang dihasilkan dari kampung sendiri. Menggunakan merek dari kota-kota besar atau luar negeri sering dianggap lebih membanggakan, sementara produk lokal belum mendapatkan tempat yang setara.

Padahal, dunia saat ini justru semakin menghargai keunikan, identitas, dan cerita di balik sebuah produk. Ternate memiliki sejarah rempah, Tidore memiliki warisan peradaban, Morotai memiliki kekayaan bahari, sementara Halmahera, Sula, dan Taliabu memiliki potensi pertanian, perkebunan, perikanan, serta kekayaan budaya yang tidak dimiliki daerah lain.

Identitas kepulauan seharusnya menjadi kekuatan ekonomi, bukan alasan untuk merasa tertinggal. Anak muda Maluku Utara harus bangga membawa nama daerahnya melalui karya yang berkualitas.

Kedua, sistem pendidikan yang masih terlalu berorientasi pada pencarian pekerjaan. Sejak bangku sekolah, banyak anak didik dibiasakan membayangkan masa depan sebagai polisi, tentara, aparatur sipil negara, atau pegawai perusahaan. Profesi tersebut tentu penting dan terhormat. Namun, pendidikan juga harus membuka ruang bagi lahirnya pengusaha, inovator, pencipta teknologi, petani modern, nelayan profesional, dan pelaku industri kreatif.

Kita tidak boleh terus-menerus mencetak lulusan yang hanya menunggu lowongan pekerjaan. Pendidikan harus membentuk generasi yang mampu menciptakan pekerjaan.

Setiap tahun, perguruan tinggi di Maluku Utara melahirkan sarjana dengan berbagai disiplin ilmu. Mereka memiliki pengetahuan dan potensi untuk membangun daerah. Namun, ketika kesempatan kerja terbatas dan ekosistem usaha belum berkembang, sebagian akhirnya memilih merantau.

Merantau bukan persoalan. Yang menjadi persoalan adalah ketika tanah kelahiran tidak mampu menyediakan ruang bagi anak-anak mudanya untuk mengembangkan kemampuan dan memperoleh kehidupan yang layak.

Ketiga, belum kuatnya jembatan antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri. Perkembangan ekonomi dan teknologi bergerak jauh lebih cepat dibandingkan perubahan sistem pembelajaran. Sekolah kejuruan dan perguruan tinggi perlu terus menyesuaikan kurikulum dengan kebutuhan dunia kerja dan perkembangan industri.

Keterampilan desain produk, pemasaran digital, pengolahan hasil pertanian dan perikanan, pengemasan, manajemen usaha, logistik, hingga perdagangan internasional harus mendapatkan perhatian lebih besar.

Kampus tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang memiliki ijazah. Kampus juga harus mampu melahirkan inovasi, produk, teknologi, dan model usaha yang dapat menjawab kebutuhan masyarakat.

Membangun Masa Depan dari Potensi Lokal

Saya percaya masa depan Maluku Utara tidak boleh hanya bergantung pada industri pertambangan dan hilirisasi nikel. Sektor pertambangan memang memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi, investasi, dan penyerapan tenaga kerja. Namun, pembangunan daerah membutuhkan fondasi ekonomi yang lebih beragam dan berkelanjutan.

Sumber daya alam memiliki batas. Sebaliknya, kreativitas, pengetahuan, dan kemampuan manusia untuk menciptakan sesuatu tidak seharusnya memiliki batas.

Karena itu, ada tiga agenda besar yang perlu menjadi gerakan bersama generasi muda Maluku Utara.

Pertama, kembali ke akar dengan mengembangkan potensi rempah dan laut. Pemuda harus berani mengambil posisi sebagai pengolah, inovator, dan pemasar produk lokal. Jangan malu menjadi anak petani pala atau anak nelayan. Justru dari profesi dan potensi itulah peluang ekonomi baru dapat dibangun.

Bayangkan jika generasi muda Ternate mampu mengembangkan merek cengkeh premium dengan standar kualitas internasional. Anak-anak muda di Halmahera Barat mengembangkan keripik pisang dengan kemasan modern. Pemuda Morotai membangun usaha abon tuna dan produk olahan hasil laut. Generasi muda Sula dan Taliabu mengembangkan produk turunan pala, kelapa, dan komoditas perkebunan lainnya.

Semua itu bukan sekadar gagasan. Peluang tersebut dapat diwujudkan melalui penguasaan teknologi pengolahan, peningkatan kualitas produk, sertifikasi, pengemasan, akses pembiayaan, dan jaringan pemasaran.

Kedua, menguasai teknologi digital dan menjadikannya alat produksi. Generasi muda tidak boleh hanya menjadi konsumen media sosial. Mereka harus mampu memanfaatkan teknologi untuk membangun usaha, memperkenalkan potensi daerah, dan menjangkau pasar yang lebih luas.

Jangan hanya menonton TikTok, tetapi gunakan TikTok untuk memasarkan produk. Jangan hanya menonton YouTube, tetapi ciptakan konten tentang sejarah Kesultanan Ternate dan Tidore, kekayaan alam Halmahera, serta keindahan pulau-pulau di Maluku Utara.

Satu konten berkualitas tentang Benteng Tolukko, misalnya, dapat memperkenalkan sejarah dan pariwisata Ternate kepada masyarakat dunia. Satu platform pemasaran digital dapat mempertemukan produk UMKM dari pulau-pulau kecil dengan konsumen di berbagai kota.

Pemerintah daerah perlu mendukung gerakan ini melalui pembangunan pusat kreativitas digital di setiap kecamatan secara bertahap. Fasilitas tersebut dapat dilengkapi akses internet, komputer desain, peralatan produksi konten, mesin sablon dan bordir, serta pendampingan kewirausahaan.

Pusat kreativitas itu jangan hanya menjadi bangunan atau proyek pengadaan peralatan. Harus ada program, mentor, pendampingan, dan target karya yang dihasilkan. Dengan begitu, anak muda di Sula, Taliabu, Morotai, maupun pelosok Halmahera memiliki kesempatan mengembangkan kemampuan tanpa harus selalu pergi ke Ternate.

Ketiga, membangun kolaborasi dan meninggalkan persaingan yang tidak produktif. Salah satu kekuatan masyarakat Maluku Utara adalah nilai persaudaraan dan kebersamaan yang diwariskan secara turun-temurun. Filosofi Marimoi Ngone Futuru atau bersatu kita teguh tidak boleh berhenti sebagai semboyan dalam acara seremonial.

Nilai tersebut harus diterjemahkan menjadi kekuatan ekonomi. Pemuda antarkampung, antarkecamatan, dan antarkabupaten perlu membangun jaringan usaha, koperasi, komunitas kreatif, serta kolaborasi pemasaran.

Satu desa dapat mengembangkan satu produk unggulan. Satu komunitas pemuda dapat membangun satu usaha produktif. Perguruan tinggi dapat menjadi pusat riset dan inovasi, sementara pemerintah membuka akses kebijakan, pembiayaan, dan pasar.

Kolaborasi seperti ini penting agar potensi daerah tidak berjalan sendiri-sendiri. Produk lokal membutuhkan standar kualitas, kapasitas produksi, kesinambungan pasokan, dan jaringan distribusi. Semua itu sulit diwujudkan jika setiap pelaku usaha berjalan tanpa koordinasi.

Sumpah Pemuda dan Tanggung Jawab Generasi Hari Ini

Peringatan Sumpah Pemuda tidak boleh hanya menjadi kegiatan mengenang sejarah dan mengulang ikrar persatuan. Sumpah Pemuda 1928 mengajarkan bahwa perbedaan latar belakang, suku, bahasa, dan daerah bukan penghalang untuk membangun cita-cita bersama.

Dalam konteks Maluku Utara, semangat tersebut harus diterjemahkan menjadi keberanian membangun masa depan dengan kekuatan sendiri. Pemuda harus menjadi pelaku perubahan, bukan sekadar penonton pembangunan.

Dua puluh tujuh tahun lalu, para pendahulu memperjuangkan pemekaran Maluku Utara agar masyarakat kepulauan memperoleh kesempatan yang lebih baik. Kini, tanggung jawab generasi muda adalah memastikan kesempatan itu tidak berhenti pada terbentuknya pemerintahan provinsi, tetapi berkembang menjadi kekuatan ekonomi, pendidikan, teknologi, dan kebudayaan.

Kita tidak boleh terus membanggakan kejayaan rempah masa lalu tanpa menghadirkan inovasi pada masa kini. Kita juga tidak boleh hanya menghitung besarnya investasi dan pertumbuhan ekonomi tanpa memastikan generasi muda memperoleh ruang untuk terlibat dan menikmati hasil pembangunan.

Pemerintah memang memiliki tanggung jawab besar dalam menyediakan infrastruktur, pendidikan, akses permodalan, dan kebijakan yang berpihak kepada anak muda. Namun, pemuda juga tidak boleh menunggu semuanya tersedia. Harus ada keberanian untuk memulai, belajar, berinovasi, dan membangun kolaborasi.

Masa depan Maluku Utara tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak sumber daya alam yang dimiliki, tetapi juga oleh seberapa besar kemampuan generasi mudanya mengolah potensi tersebut menjadi karya bernilai ekonomi.

Jika dahulu rempah-rempah membawa nama Ternate dan Tidore ke panggung perdagangan dunia, maka generasi muda hari ini harus membawa Maluku Utara kembali dikenal melalui inovasi, produk unggulan, teknologi, dan kreativitas.

Kita ingin suatu hari nanti dunia tidak hanya mengenal Maluku Utara sebagai daerah penghasil cengkeh, pala, ikan, dan nikel. Dunia juga harus mengenal produk, merek, perusahaan, inovator, dan karya anak muda yang lahir dari tanah ini.

Dari rempah menuju karya. Dari kekayaan alam menuju kekuatan sumber daya manusia. Dari kebanggaan sejarah menuju kejayaan masa depan.

Itulah makna Sumpah Pemuda yang harus kita hidupkan di Maluku Utara.