radartimur.id

Dari Informasi ke Transformasi

Jumat, 3 April 2026

Selat Capalulu, Segitiga Bermuda dari Timur Nusantara

Oleh: Muhammad Rizal

Siang itu, laut di antara Pulau Taliabu dan Pulau Mangoli tampak tenang. Airnya jernih, langit bersih tanpa awan, dan angin hanya berembus pelan. Sebuah perahu nelayan melintas perlahan di permukaan air yang memantulkan bayangan bukit hijau di sekelilingnya.

Dari permukaan, Selat Capalulu tampak biasa saja bahkan menawan. Tapi siapa sangka, di balik ketenangan itu, tersimpan banyak kisah yang membuat orang waspada.

Selat Capalulu berada di antara Kabupaten Pulau Taliabu dan Pulau Mangoli Kabupaten Kepulauan Sula, Maluku Utara. Dalam beberapa tahun terakhir, namanya kerap disandingkan dengan Segitiga Bermuda. Bukan karena kisah mistis semata, tetapi karena kondisi arus lautnya yang tak biasa.

Menurut jurnal resmi Sekolah Tinggi Teknologi Angkatan Laut Hidro-Oseanografi (sttalhidros.ac.id), Capalulu tercatat sebagai perairan dengan arus laut terkuat kedua di dunia, hanya kalah dari Segitiga Bermuda di Atlantik.

Arus Laut yang Sulit Diprediksi

Bagi para nelayan lokal, Capalulu bukan laut yang bisa dianggap enteng. Arusnya sering berubah tanpa peringatan. Kadang tenang, kadang tiba-tiba deras menyapu dari satu arah ke arah lainnya. Tidak sedikit kapal nelayan yang terombang-ambing dan kehilangan arah akibat arus tak terduga itu.

“Kalau salah waktu, bisa habis bahan bakar cuma untuk melawan arus,” kata Efendi, pelaut dari Desa Pas Ipa, Kecamatan Mangoli Barat, Kabupaten Kepulauan Sula, Minggu (13/7/2025).

Dia bercerita pernah hampir hanyut karena kompas di perahunya tidak lagi menunjukkan arah dengan benar, “Sudah banyak yang hilang di laut ini. Biasanya orang-orang sini tahu kapan harus berhenti melaut,” timpal dia.

Catatan tidak resmi dari warga setempat menyebutkan, ratusan orang pernah menjadi korban di selat ini dalam beberapa dekade terakhir. Pada musim-musim tertentu, warga bahkan dilarang turun ke laut, baik untuk memancing maupun sekadar menyeberang antar pulau.

Spot Wisata yang Masih Sepi

Meski punya reputasi berbahaya, Capalulu juga dikenal sebagai salah satu spot wisata bahari yang potensial. Lautnya bening, lanskap sekitarnya masih alami, dan pemandangan bawah lautnya cukup mengesankan. Terumbu karang masih terjaga, dan ikan-ikan berwarna cerah kerap terlihat dari permukaan.

Aktivitas seperti memancing, snorkeling, atau menyelam memang bisa dilakukan, tapi tidak sepanjang waktu. Waktu terbaik biasanya saat kondisi laut sedang tenang dan pasang surut stabil.

Untuk diving, Capalulu menawarkan lokasi yang menantang, kontur dasarnya curam, dan penyelam harus siap menghadapi arus kuat yang bisa datang tiba-tiba.

“Di bawah laut Capalulu itu bagus, tapi ekstrem,” kata salah seorang penyelam dari Ternate yang pernah beberapa kali menjelajahi titik-titik diving di sana.

Belum Terjamah Wisata Massal

Berbeda dengan Raja Ampat atau Wakatobi yang sudah ramai dikunjungi wisatawan, Capalulu masih relatif sepi. Tidak ada resort, belum ada pelabuhan wisata, dan akses ke lokasi juga belum didukung infrastruktur lengkap. Untuk ke sana, pengunjung harus menyeberang dengan kapal kecil dari Pulau Taliabu atau Pulau Mangole.

Namun justru karena belum ramai, wilayah ini masih terjaga. Banyak penyelam dan peneliti laut yang tertarik mengeksplorasi Capalulu karena kondisi ekosistemnya masih asli. Belum banyak sampah, belum ada polusi dari kapal besar, dan masyarakat setempat masih menjaga kawasan laut dengan adat dan aturan lokal.

Antara Bahaya dan Potensi

Capalulu adalah contoh wilayah laut di Indonesia yang punya dua wajah. Di satu sisi, ia menawarkan panorama yang indah dan sumber daya laut yang melimpah. Di sisi lain, arusnya yang ekstrem bisa menjadi ancaman nyata bagi siapa pun yang tak berhati-hati.

Wisata ke Capalulu bukan untuk semua orang. Laut ini lebih cocok untuk mereka yang sudah berpengalaman dan terbiasa dengan kondisi alam liar. Jika ingin menyelam atau menjelajah, sebaiknya menggunakan jasa pemandu lokal yang tahu betul kapan laut aman dan kapan harus menunda perjalanan.

Pemerintah daerah sendiri mulai melihat potensi wisata Capalulu, tapi hingga kini belum ada pengelolaan yang serius. “Masih banyak yang belum tahu soal Capalulu. Padahal kalau dikelola dengan baik, bisa jadi daya tarik seperti spot diving lain di Indonesia,” ujar Humaid, warga Sanana, Kabupaten Kepualaun Sula.

 

Destinasi yang Patut Dipertimbangkan

Capalulu adalah laut yang tidak biasa. Tidak cocok untuk wisata cepat atau kunjungan singkat. Tapi bagi mereka yang siap menghadapi tantangan, dan ingin melihat sisi lain dari keindahan laut Indonesia, Capalulu adalah destinasi yang patut dipertimbangkan.

Datanglah dengan persiapan matang. Jangan hanya bawa kamera dan pelampung. Bawa juga kompas, logika, dan rasa hormat terhadap laut yang punya hukum dan ritmenya sendiri. Di Capalulu, yang tenang bisa jadi awal dari sesuatu yang tak terduga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini