Dari “Liga Maghrib” ke Juara Nasional, Kisah TA Musafri Membawa Malut United U-18 Menjadi Kampiun
Nama Talaohu Abdul Musafri kembali menjadi sorotan publik sepak bola nasional. Mantan penyerang Timnas Indonesia asal Bacan, Maluku Utara itu sukses membawa Malut United U-18 menjuarai Elite Pro Academy (EPA) Super League U-18 2025/2026.
Gelar juara tersebut diraih setelah Malut United U-18 mengalahkan Persija Jakarta U-18 melalui drama adu penalti dengan skor 3-2 pada partai final yang berlangsung di Garudayaksa Football Academy, Minggu, 17 Mei 2026.
Pertandingan final berlangsung ketat sejak menit awal. Kedua tim gagal mencetak gol sepanjang waktu normal sehingga laga harus ditentukan lewat adu penalti. Pada momen penentuan, para pemain Malut United tampil lebih tenang.
Kiper Malut United U-18, Erlangga Dwi Putra, menjadi salah satu pahlawan kemenangan setelah menggagalkan sejumlah tendangan penalti pemain Persija.
Bagi TA Musafri, keberhasilan tersebut tidak lepas dari mental dan karakter pemain yang telah ditempa sepanjang kompetisi. “Pemain sudah sering melewati situasi sulit dalam pertandingan. Ketika harus menghadapi adu penalti di final, mereka mampu menunjukkan kegigihan dan karakter,” ujar Musafri, Selasa (19/5/2026).
Musafri menilai keberhasilan Malut United U-18 menjadi bukti bahwa pemain muda asal Maluku Utara dan Maluku, memiliki kualitas untuk bersaing di level nasional.
“Semua orang bisa menyaksikan bahwa Maluku Utara dan Maluku memiliki banyak pemain muda yang berpotensi besar menghiasi liga serta tim nasional,” katanya.
TA Musafri lahir di Bacan, Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara, pada 19 Februari 1982. Berbeda dengan banyak pesepak bola profesional lainnya, Musafri tidak pernah mengenyam pendidikan di sekolah sepak bola (SSB) saat kecil.
Dia tumbuh lewat sepak bola kampung yang biasa dimainkan anak-anak selepas pulang sekolah hingga waktu magrib, yang dikenal dengan istilah “Liga Maghrib”.
Dalam sejumlah wawancara, Musafri mengaku sejak kecil hanya bermain sepak bola jalanan karena saat itu belum ada SSB di kampung halamannya di Bacan. Keinginan menjadi pesepak bola profesional pun awalnya tidak pernah terlintas dalam pikirannya.
Setelah beranjak dewasa, dirinya memilih merantau ke Yogyakarta untuk melanjutkan pendidikan.
Namun, perjalanannya di Kota Pelajar justru membuka jalan menuju dunia sepak bola profesional.
Musafri mulai serius bermain sepak bola saat aktif di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) kampus dan kompetisi amatir. Penampilannya menarik perhatian hingga mendapat kesempatan mengikuti seleksi bersama Persiba Bantul. Dari proses seleksi tersebut, Musafri akhirnya diterima dan memulai karier profesionalnya pada awal tahun 2000-an.
Setelah memperkuat Persiba Bantul, Musafri melanjutkan karier bersama PSS Sleman pada periode 2004–2006.
Namanya mulai dikenal luas ketika bergabung dengan Persiba Balikpapan. Bersama klub tersebut, Musafri tampil produktif dan menjadi salah satu penyerang lokal yang cukup diperhitungkan di kompetisi nasional.
Penampilan impresifnya membawa Musafri mendapat panggilan Tim Nasional Indonesia pada era pelatih Benny Dollo.
Musafri tercatat memperkuat Timnas Indonesia pada periode 2008 hingga 2014 dengan catatan sekitar 11 penampilan dan satu gol internasional. Gol tersebut dicetak saat Indonesia menghadapi Myanmar pada ajang Grand Royal Challenge 2008.
Sepanjang karier profesionalnya, Musafri juga pernah membela sejumlah klub besar Indonesia seperti Persija Jakarta, Arema Indonesia, Sriwijaya FC, Barito Putera, hingga PSIM Yogyakarta.
Memasuki akhir karier bermain, Musafri mulai mempersiapkan diri menjadi pelatih dengan mengambil lisensi kepelatihan dan mulai aktif melatih usia dini serta sekolah sepak bola di Yogyakarta.
Kini, langkah barunya sebagai pelatih kepala di level elite usia muda, langsung berbuah manis.
Debut bersama Malut United U-18 ditutup dengan gelar juara nasional EPA Super League U-18 2025/2026.
Sebuah pencapaian yang terasa spesial karena diraih oleh sosok yang memulai semuanya dari lapangan kampung di Bacan.(*)

