Dialog Publik Filsafat Keilahian Unhena, Bahas Peran Pemuda Menuju Indonesia Emas 2045
RadarTimur.id, Tobelo — Program Studi Filsafat Keilahian Universitas Hein Namotemo (Unhena) menggelar dialog publik dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda, Rabu (28/10/2026).
Kegiatan ini mengangkat tema “Membangun Semangat Sumpah Pemuda Menuju Indonesia Emas 2045”.
Dialog tersebut menjadi ruang refleksi bagi generasi muda untuk memahami kembali nilai sejarah Sumpah Pemuda sekaligus membahas tantangan kepemimpinan dan peran pemuda dalam mempersiapkan masa depan bangsa.
Narasumber pertama, Sefrianto Sabeba, membawakan materi tentang “Sejarah Sumpah Pemuda dan Makna di Dalamnya”. Sefrianto mengingatkan pentingnya generasi muda memahami sejarah perjuangan bangsa dengan mengutip pesan Presiden Soekarno, “Jangan sekali-kali melupakan sejarah” (Jasmerah).
Menurutnya, ikrar Sumpah Pemuda 1928 merupakan tonggak penting yang menunjukkan kekuatan persatuan di tengah keberagaman. Nilai tersebut harus terus dihidupkan oleh generasi muda dalam menghadapi berbagai persoalan bangsa.
Narasumber kedua, Rani Berlian Ali, mengangkat tema “Dari Pemimpin Biasa Menuju Pemimpin Otentik Tahun 2045”. Rani menegaskan bahwa cita-cita Indonesia Emas tidak cukup hanya menjadi wacana, tetapi harus dipersiapkan melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia dan kepemimpinan.
Rani menjelaskan, pemimpin otentik harus memiliki integritas, keberanian mengambil keputusan, serta konsisten mempertahankan prinsip kebenaran. Menurutnya, kepemimpinan bukan semata-mata persoalan jabatan, melainkan karakter yang dibentuk melalui proses. “Pemimpin bukan dilahirkan, tetapi dibentuk,” menjadi salah satu penekanan dalam pemaparannya.
Sementara itu, Grafani Jein D. Saul membahas “Peran Pemuda Masa Kini dalam Perspektif Teologi Kristen”. Grafani menguraikan sejumlah tantangan generasi muda, mulai dari krisis identitas, pengaruh media sosial, individualisme, intoleransi, konflik, hingga menurunnya partisipasi sosial.
Melalui perspektif teologi Kristen, Grafani mendorong pemuda untuk membangun karakter, memperkuat spiritualitas, memiliki kepedulian sosial, serta berani mengambil bagian dalam kehidupan masyarakat.
Dialog publik tersebut menegaskan bahwa semangat Sumpah Pemuda tidak boleh berhenti pada seremoni tahunan setiap 28 Oktober. Persatuan, integritas, keberanian, kepemimpinan, dan tanggung jawab sosial harus diwujudkan dalam tindakan nyata sebagai bagian dari persiapan generasi muda menuju Indonesia Emas 2045.(val)

