Kemarau Panjang, Kebun Petani Lingkar Tambang NHM Terancam Mati
RadarTimur.id, Kao Teluk — Kemarau panjang mulai memukul petani di wilayah lingkar tambang PT Nusa Halmahera Minerals (NHM), Kabupaten Halmahera Utara.
Tanaman pala dan cokelat yang selama bertahun-tahun menjadi sumber pendapatan keluarga kini terancam rusak hingga mati akibat keterbatasan air.
Baharuddin, petani asal Desa Dum-Dum, Kecamatan Kao Teluk, mengatakan kemarau yang berlangsung sekitar tiga bulan membuat kondisi tanaman di kebunnya semakin memprihatinkan. Kebun tersebut tidak memiliki sungai maupun sumber air yang mudah dijangkau.
Tanaman cokelat miliknya telah berusia sekitar 9–10 tahun dan beberapa kali menghasilkan panen. Pendapatan dari kebun selama ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga serta membantu membiayai pendidikan anak.
“Tanaman yang sudah dirawat bertahun-tahun sekarang terancam tidak bisa dipertahankan karena tidak ada sumber air di sekitar kebun,” kata Baharuddin.
Untuk mempertahankan tanaman, petani terpaksa membeli air. Setiap 500 liter air harus dibayar sekitar Rp150 ribu hingga Rp200 ribu. Pengeluaran tersebut dinilai berat karena harus ditanggung ketika hasil perkebunan juga tidak menentu.
Persoalan bertambah karena akses menuju kebun belum memadai. Jalan belum dapat dilalui kendaraan roda empat sehingga distribusi air ke lokasi perkebunan menjadi sulit dan membutuhkan biaya tambahan.
Baharuddin mengaku terpukul melihat tanaman yang selama bertahun-tahun dirawat mulai terancam kekeringan. Jika tanaman produktif tersebut mati, petani bukan hanya kehilangan panen, tetapi juga sumber pendapatan keluarga dalam jangka panjang.
“Saya sampai menangis. Tanaman itu sudah dirawat bertahun-tahun dan menjadi sumber penghasilan untuk keluarga serta biaya sekolah anak,” ujarnya.
Baharuddin meminta pemerintah segera melakukan mitigasi dengan menyediakan sarana air dan memperbaiki akses menuju kawasan perkebunan. Dia juga berharap PT NHM ikut mengambil bagian melalui program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) maupun tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).
“Harapannya bukan hanya pemerintah, tetapi PT NHM juga bisa menyentuh persoalan ini melalui PPM atau CSR. Masyarakat lingkar tambang juga banyak yang menggantungkan hidup dari pertanian,” katanya.
Menurutnya, penanganan tidak seharusnya menunggu tanaman rusak atau mati. Pemerintah dan perusahaan dinilai perlu memetakan kawasan perkebunan yang terdampak agar bantuan air, akses, dan sarana pendukung dapat diberikan secara tepat sasaran.(red)

